Untuk Apa Karya Hebat Lahir?

Pada 9 Oktober 2019, di Facebook, Eka Kurniawan mengunggah sikap penolakannya terhadap Anugerah Kebudayaan dan Maestro Seni tradisi 2019. Jelas menuai pro dan kontra, tetapi sikap Eka sudah final. Alasan Eka menolak penghargaan itu pun jelas dan mendasar.

Pada 10 Oktober 2019, Detiknews.com, Hilmar Farid sebagai Direktorat Jendral Kebudayaan juga menerima dengan baik alasan penolakan tersebut. Lalu, apa masalah kita meributkan penolakan itu? Padahal, yang mesti kita bicarakan adalah alasan-alasan Eka, yang mana salah satu poinnya adalah pemerintah Indonesia tidak serius mengurusi dunia perbukuan Tanah Air. Dengan alasan mendasar tersebut, seharusnya menjadi tamparan keras untuk pemerintah bahwa dunia perbukuan—pembajakan—di Indonesia tidak sedang baik-baik saja.


Saya tidak membahas polemik “kebudayaan” itu, tetapi mengulas sedikit buku terbarunya.
Eka Kurniawan tidak saja menulis cerita pendek dan novel, ia pun menulis esai. Beberapa bulan terakhir kita bisa membaca esainya di salah satu media luring sebulan sekali.
Pernah satu ketika, Eka berhenti aktif di media sosial, dengan alasan fokus membaca dan menulis. Mungkin, terdistraksi, lalu ia aktif dan konsisten menulis di jurnal pribadinya, ekakurniawan.com.

Dalam jurnalnya, ia menghadirkan ulasan-ulasan buku (fiksi dan nonfiksi) dan tokoh-tokoh sastra. Kehadiran jurnal pribadinya menjadi jalan baru bagi penulis pemula menjejak bacaan—dalam dan luar negeri—yang mahaluas. Kerja demikian pernah dilakukan oleh Salman Rushdie dalam buku Imaginary Homelands: Essays and Criticism 1981—1991 dan Step Across This Line: Collected Nonfiction 1992—2002; Italo Calvino di Why Read Classic; dan, Between Parenthesis­-nya Roberto Bolano.

Mengapa Eka mengulas buku? Begini kata Eka, “… banyak buku yang dibaca seseorang dalam hidupnya, tapi hanya sedikit yang diingatnya. Bersaing dengan nomor telepon, jadwal pembayaran tagihan, nama-nama sepupu jauh, percakapan di novel bisa lebih cepat pudar daripada bisikan kekasih” (hlm. v).

Mengulas buku adalah cara mengarsipkan bacaan kita. Ada misi pribadi terhadap peningkatan bacaan yang kita miliki, seperti anak milenial maupun generasi Z yang mengabadikan buku dengan memotret, lalu mengunggahnya di akun pribadi media sosial.
Tindakan anak milenial dan Eka adalah cara merayakan kebahagian bersama buku. Eka menangkap melalui teks, anak milenial menangkap melalui kamera. Dua-duanya sah, dua-duanya tidak berdosa.

Eka tidak menyembunyikan apa yang ia baca. Ia ungkapkan dengan ulasan sederhana tanpa tendensi berlebihan. Esai-esainya mengingatkan bacaan kita dan sastra Indonesia yang tidak berkembang dari tahun ke tahun.

Esai-esai dari titimangsa 2012—2014 dalam jurnalnya dibukukan oleh Penerbit Circa dan diberi judul Senyap yang Lebih Nyaring, yang diambil dari judul esainya pada halaman 329. Para penulis mesti belajar “diam” di kala orang-orang banyak bicara. Eka memberi contoh bagaimana polemik Gabriel Garcia Marquez dan Mario Vargas Llosa terlibat baku hantam di bioskop, yang mengakibatkan mata Marquez bengkak. Namun, kasus tersebut tidak diketahui duduk perkaranya. Marquez hingga akhir hayatnya dan Llosa hingga saat ini tak memberi tahu apa yang sedang terjadi di antara mereka. Mereka memilih diam.
Menarik kita telaah esai “Ketika Semua Orang Bisa Bicara, Apa Tugas Penulis?” (hlm. 160). Kemudahan akses informasi membuat semua orang menjadi ahli: ahli ekonomi, ahli politik, ahli sastra, dan ahli-ahli lainnya. Warganet berkomentar apa saja dan di mana saja. Di mana posisi penulis dalam hal ini? Apa mesti ikut keriuhan yang terjadi di media sosial? Menurut Eka, penulis semestinya diam.

Sekarang bukan lagi zaman di mana Seno Gumira Ajidarma saat menulis “Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara”. Orang banyak terbungkam karena penguasa, akhirnya penulis yang bicara. Lain hal dengan kondisi sekarang: orang banyak bicara. Masyarakat punya banyak akses terhadap informasi dan mereka bisa mengatakan apa saja.

Apa tugas penulis? Diam. Kembali ke kamar, baca buku, dan berpikir elaboratif. Namun, jangan lupa penulis juga jangan banyak berdiam diri, sesekali menengok ke luar, melihat realitas.

Dalam beberapa esainya, Eka tampak resah dengan sastra Indonesia. Apa itu sastra Indonesia? Apakah karya-karya Asmaraman S. Kho Ping Hoo dan Abdullah Harahap termasuk sastra? Apakah mereka berdua masuk kategori sastrawan? Kho Ping Hoo sebatas dikenal sebagai penulis cerita silat dan Abdullah Harahap sebagai penulis cerita horor. Mereka bukan sastrawan, lalu penulis seperti apa yang disebut sastrawan?
Mungkin dari keresahan tersebut, Eka bersama Intan Paramaditha dan Ugoran Prasad menulis kumpulan cerpen Kumpulan Budak Setan untuk mengapresiasi karya-karya Abdullah Harahap.

Eka juga menyoroti lingkaran sastra di ASEAN (Asia Tenggara) agar saling membaca karya. Kita jangan hanya menengok karya-karya dari Amerika Latin, Eropa, dan Timur Tengah. Ini memang pilihan pembaca, buku apa yang mereka baca, tetapi pilihan kepada karya-karya dari negara tetangga mestinya tidak luput dari jangkauan kita.

Eka tidak bermain ria dengan teori-teori sastra untuk mengulas satu buku dan memang ia bukan kritikus sastra. Ia penulis novel dan pembaca novel. “Membaca novel membawa saya ke satu dunia dan kehidupan, yang sadar saya memasukinya, bahkan memilihnya” (hlm. 296).

Dalam esai “Corat-coret di Toilet dan Hal-Hal Lain tentang Cerpen”, Eka mengatakan bahwa “… kesusastraan Indonesia tak lagi membutuhkan karya yang bagus. Sudah banyak. Yang benar-benar kita butuhkan adalah karya yang hebat, sebab sekadar bagus sudah tak lagi mencukupi” (hlm. 214). Pun tiap hari banyak buku baru diterbitkan.

Menghasilkan karya hebat membutuhkan kerja keras, bahkan “kerja paksa”. Namun, yang menjadi pertanyaan mendasar bagi kita, untuk apa karya hebat itu di tengah-tengah masyarakat Indonesia? Atau, untuk apa karya hebat di hadapan pemerintah yang belum menghargai sebuah buku?

Maaf, saya salah, pemerintah sangat menghargai buku: buku proyek.