Tiap Manusia Dilahirkan untuk Menjadi Pelawak

24 Jam Bersama Gaspar bukan cerita detektif ala Sherlock Holmes tapi Sabda Armandio. Di dalam buku yang menjadi unggulan pilihan para juri Dewan Kesenian Jakarta itu, pembaca diajak untuk menertawakan diri sendiri dan hal-hal ringan yang luput kita maknai. Bahwa your soul’s a bowl of jokes (hlm. vi) dan betapa lucunya umat manusia sampai-sampai aku menyimpulkan secara serampangan bahwa tiap manusia memang dilahirkan untuk menjadi pelawak (hlm. 19).

Bermula dari si tokoh aku yang bernama Gaspar mengajak beberapa temannya untuk mencuri kotak hitam di tokoh emas. Konon, kotak hitam ini mengakibatkan orang menjadi kaya. Pergulatan Gaspar agar bisa meyakinkan teman-temannya untuk terlibat dalam perampokan ini tidaklah mudah. Ada seni lobi yang dipakai oleh Gaspar, walau niatnya sekali saja melakukan aksi perampokan tapi mencuri itu candu yang tidak akan membawa kita ke mana-mana (hlm. 71).

Gaspar bersama Cortazar — motor yang kerap melawan keinginan tuannya — mendatangi satu persatu kawan-kawannya melakukan aksi di toko emas milik Wan Ali.

Costazar, Afif, Yadi, Bu Tati, Njet dan Kik yang membantu melakukan aksi ini. Pihak kepolisian cukup sulit melakukan penyelidikan atas perampokan yang tersusun secara rapi oleh Gaspar.

Jangan salah sangka, Gaspar telah memikirkan perihal siapa yang mesti ditarik ke dalam komplotan ini. Gaspar mengajak orang-orang yang paham tentang Wan Ali, posisi rumahnya, bagaimana aktivitas sehari-harinya, dan kotak hitam berada di bagian mana.

Kenapa mesti orang yang kenal Wan Ali? Karena segala sesuatu di negeri ini lebih mudah kalau punya orang dalam (hlm. 71).

Gaspar kerepotan ketika mengajak suami istri, Kik dan Njet yang sedang menyiapkan kelahiran anak mereka. Sedangkan uang sepersenpun tak punya. Apalagi orangtua mereka tak menganggap sebagai anak lagi hanya karena Kik dan Njet berbeda keyakinan.

Karena itulah aku datang sore ini, kutawarkan kepadanya jalan keselamatan: ikutlah merampok. Kau cuma perlu nyali, Njet (hlm. 98). Orangtua mana yang mau beli susu untuk anaknya dari hasil curian? Namun, kau pernah dengar cerita tentang suami yang ditinggal istrinya karena dia miskin? (hlm. 90).

Sabda Armandio (Dio) sebagai penulis 24 Jam Bersama Gaspar tidak membuat pembaca menjadi bingung atau membolak-balik halaman karena alur cerita begitu sulit. Tidak.

Dio menaratifkan dengan gaya ringan. Renyah lagi jenaka tersaji di sepanjang cerita dan beberapa dialog. Menurut saya, interogasi polisi kepada Bu Tati mengundang gelak tawa.

Seperti pada halaman 61: pertanyaan yang dilontarkan oleh polisi, apakah ada yang menyaksikan semua pengakuan Anda ini? Bu Tati menjawab, tentu saja ada: Tuhan. Polisi menyela, maksud saya, selain Tuhan? Dengan santai Bu Tati membalas, tiada Tuhan selain Allah, Pak.

Atau percakapan selanjutnya pada halaman 84:
Polisi: Kalau begitu Anda membenarkan dugaan saya?
Bu Tati: Sudah azan, saya ingin salat dulu.
Polisi: Bukan, itu bukan azan dari masjid. Itu nada dering ponsel teman saya di luar.
Bu Tati: Tetapi azan tetap azan, Pak.

Saya kira kepolisian Indonesia akan tetap geram kala melakukan interogasi pada saksi semacam Bu Tati yang tidak bisa dibilang pikun, bukan pula alzheimer. Dia hanya tidak ingat kejadian yang tidak ingin dia ingat (hlm. 87).

Ada banyak tokoh terkenal yang disebut dalam buku ini. Tapi, saya terusik dengan nama Arthur Harahap dalam kata pengantar.

Saya belum pernah dengar nama itu sebelumnya. Kalau Abdullah Harahap atau nama Arthur Conan Doyle, mungkin, kerap kita dengar namanya dan baca karya-karyanya.

Keterusikan itu membawa saya untuk mencari tahu siapa Arthur Harahap di internet. Dan saya tidak menemukan apa-apa.

Mungkin saja Dio sengaja menaruh tokoh rekaan dalam pengantar bukunya. Mungkin juga Arthur Harahap adalah gabungan dari nama Arthur Conan Doyle dan Abdullah Harahap.

Entahlah. Tapi ketika resmi membawa pulang motor yang kemudian kunamai Cortazar. Nama itu kuambil dari tokoh utama dalam novel karangan Arthur Harahap. Arthur Harahap mengambilnya dari pengarang kesukaannya, Julio Cortazar (hlm. 134).

Jawa Pos, Minggu, 21 Mei 2017