Tag: Seni Berbicara

“Berbicara” Itu Ada (Seninya) Upahnya

Saya telah berniat untuk tidak ribut perihal honor di dunia buku. Selain melelahkan, pun tidak berdampak signifikan bagi saya.

Saya masih hidup begini-begini saja: masih beli paket internet 1 GB; masih nongkrong di warung kopi yang kopinya seharga 5 ribu per cangkir; dan beli rokok kretek seharga 13 ribu rupiah per bungkus. Meski begitu, saya tetap bersyukur, sebab itu semua sudah istimewa bagi saya.

Akan tetapi, akhir-akhir ini saya terganggu, sangat terganggu dengan kabar yang saya dengar dari dunia buku. Yakni, tentang para penulis yang harus mengalami perlakuan “tidak dibayar dengan layak” saat menjadi pembicara di beberapa festival sastra dan buku yang banyak diadakan pada akhir-akhir ini—festival yang dibiayai pemerintah maupun swasta. Namun, tidak semua penulis mengalami demikian.

(selengkapnya…)