Tag: Gene Ammarell

Meraba Mata Angin, Membaca Tanda

Pada Minggu, 08 Desember 2019, kapal Padewakang yang diberi nama Nur Al Marege dengan panjang 14,5 meter dan lebar 4,2 meter berlayar menuju Darwin, Australia, dalam eksepedisi “Before 1770”. Pelayaran tersebut menapaktilasi pelaut Sulawesi Selatan yang mengambil teripang di utara Australia pada abad ke-17 hingga abad ke-19.

Padewakang adalah kapal yang menjadi cikal-bakal kelahiran perahu pinisi di Sulawesi Selatan. Menurut Ridwan Alimuddin, anak buah kapal Nur Al Marege, menyebut bahwa Padewakang yang mereka operasikan dalam ekspedisi “Before 1770” tanpa menggunakan mesin diesel dan memakai konstruksi seperti 250 tahun lalu. Yaitu memakai layar tanjag (berbentuk segi empat) berbahan organik (serat daun gebang) yang ditenun dan dijahit oleh pelaut-pelaut Mandar.

Padewakang Nur Al Marege memulai perjalanannya dari Makassar ke Galesong (Bulukumba), Tana Beru, Pamatata, lalu ke Pulau Kalao, Pulau Madu, Larantuka, Wai Wuring, Wai Lalong, Baranusa, kemudian lanjut ke Mali (Pulau Alor), Ilwaki (Pulau Wetar), Pulau Masela, Saumlaki, hingga pada 28 Januari 2020, mereka tiba di Cullen Bay Marina, Darwin, Australia.

Menurut Charles Campbell Macknight, penulis buku The Voyage to Marege’: Pencari Teripang dari Makassar di Australia, setiap musim angin barat pada periode 1750—1780, tak kurang dari seribu pelaut asal Makassar dan Bugis singgah di pesisir Darwin. Kedatangan pelaut Sulawesi tersebut memengaruhi kebudayaan suku asli Australia, Aborigin, yang masih terasa hingga sekarang, misalnya agama Islam yang dianut oleh warga setempat.

Baca selengkapnya di Majalah Indonesiana

 

Keterangan:

Semua foto di tulisan saya adalah milik Muhammad Ridwan Alimuddin