Tag: Bajo

Suku Bajo: Misteri Negeri Antah-Berantah

Kita selalu katakan nenek moyang Indonesia adalah pelaut. Nenek moyang yang mana? Indonesia baru hadir pada abad 20, apakah nenek moyang yang kita sebut itu adalah mereka yang lahir atau besar pada abad 20 di awal-awal kemerdekaan?

Secara pengetahuan umum, Bugis dan Makassar dikenal sebagai suku pelaut. Saya tidak mencoba membantah itu. Sebab, ada beberapa dari mereka menjadi pelaut ulung, berlayar hingga ke benua lain.

Saya sempat diskusi dengan teman dari Mamuju. Dia menggugat buku Orang Mandar, Orang Laut karya Ridwan Alimuddin. Dia mengatakan bahwa Ridwan mengeneralisasi orang Mandar bahwa mereka orang laut, padahal banyak orang Mandar yang tinggal jauh dari pesisir pantai.

Gugatan itu mesti jadikan refleksi. Dan, meragukan bahwa nenek moyang kita pelaut. Berapa sih jumlah nelayan? Dan, berapa jumlah petani? Bila petani lebih banyak, semestinya kita tengok laut kredo turun temurun: “Nenek moyang kita adalah pelaut”.

Yang kurang disebut dalam narasi laut adalah Suku Bajo. Iya, ada yang meneliti itu. Tapi, seberapa banyak yang mengenal mereka.

Saya ingin memberi tahu kepada kalian tentang mereka, walau sedikit. Semoga menjadi awal kalian mengetahui mereka.

Siapa suku Bajo? Adalah suku pengembara dan selalu berpindah dari daratan ke daratan lainnya. Dengan aktivitas itu, mereka disebut “gipsi laut”. Nama mereka beragam; “Suku Laut”, “Suku Bajoe”, “Orang Laut”, “Sama Bajau” adalah julukan orang “daratan” terhadap orang Bajo. Sedangkan, julukan untuk mereka sendiri adalah “Suku Sama”.

Kita juga tahu bagaimana ketangguhan suku Bugis-Makassar dan Mandar mengarungi lautan Nusantara, bahkan dunia. Suku Bugis tersebar di mana-mana, di Singapura, Malaysia, Australia, dan Afrika Selatan.

Keberadaan suku Bajo bisa kita temukan di pesisir Nusantara, dari Kepulauan Riau, Madura, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Bali, Maluku, Sulawesi, dan Kalimantan. Mereka juga tersebar di Kepulauan Sulu (Filipina Selatan), Kepulauan Johor (Malaysia), Vietnam, Thailand, Madagaskar. Karena mereka adalah suku nomaden, tak mengherankan apabila mereka ada di mana-mana.

Namun, perkembangan zaman dan desakan oleh pemerintah setempat untuk menetap di daratan sehingga kebanyakan Suku Bajo mulai tinggal dan berbaur dengan suku-suku lain. Sebelum menetap, “Manusia Perahu” ini adalah komunitas yang hidup di atas perahu (leppa). Kebudayaan berupa ini dialiri oleh leluhur mereka. Mereka mampu bertahan dalam laut selama 13 menit tanpa bantuan alat teknologi. Mampu berlayar ke manapun tanpa kompas. Dari sisi agama, mereka hanya beragama Islam Laut (tradisional).

Pernah dengar Benua Atlantis? Semoga pernah. Keberadaan benua itu menua banyak spekulasi. Sampai-sampai menjadi bagian dari teori konspirasi. Cukup aneh!

Konon, Benua Atlantis berada di Indonesia dengan berbagai teori. Banyak yang menyinyir keberadaan benua tersebut.

Bila keberadaan Benua Atlantis belum diketahui hingga sekarang dan banyak teori spekulatif dari berbagai pakar, hal demikian sama dengan teka-teki asal muasal Suku Bajo ini.

Banyak cerita, banyak perspektif. Karena saya terlahir dari suku Bajo, kerap mendengar cerita-cerita lisan dari tetuah di kampung. Namun beriring pencaharian saya terhadap titik temu sejarah suku Bajo, ternyata banyak literatur yang belum menemukan sejarah Suku Bajo.

Dalam buku Islam Bajo: Agama Orang Laut karya Benny Baskoro mengulas asal-usul Suku Bajo. Saya mengutip beberapa dari cerita di dalamnya:

Pertama, salah satu sumber sejarah tertulis yang menyebutkan tentang asal-usul orang Bajo adalah naskah Lontarak Assalena Bajo. Dalam naskah tersebut disebutkan, nenek moyang orang Bajo berasal dari daerah Ussu, yang dahulu termasuk dalam wilayah Kerajaan Luwu. Pada zaman itu, sebatang pohon besar bernama Walenreng tumbang, dan terjadilah banjir besar.

Menurut Anwar Hafidz , kata “Walenreng” sendiri juga bermakna runtuhnya sebuah kerajaan. Akibatnya bencana tersebut, penduduk tercerai berai, banyak yang hanyut ke laut atau mencari tempat pengungsian. Sebagian dari mereka terdampar di Kerajaan Gowa, kerajaan tetangga. Seorang gadis pengungsi bahkan kemudian diperistri Raja Gowa dan diangkat menjadi permaisurinya, yang lalu menurunkan raja-raja Gowa selanjutnya. Kemudian Kerajaan Gowa ditaklukan Kerajaan Bone, maka para penduduk Gowa, termasuk bekas pengungsi menjadi warga Kerajaan Bone. Oleh Raja Bone, bekas pengungsi ini kemudian diberi tempat khusus di lepas pantai timur Bone, yang bernama BajoE. Kemungkin dari nama “BajoE” inilah para penduduknya disebut sebagai orang “Bajo”.

Kedua, riwayat yang dituturkan Kepala Desa Mola Selatan, Pulau Wangi-Wangi, Kabupaten Wakatobi menyebutkan, asal-usul orang Bajo dari dataran Mekong, sekarang termasuk wilayah Vietnam Selatan. Pada saat itu terjadi huru-hara dan bencana kelaparan, sehingga para penduduknya mengungsi. Sebagian mengungsi ke arah timur, dan sebagian lagi ke arah selatan. Mereka yang mengungsi ke arah timur kemudian mengembara melalui Laut Cina Selatan dan menyebar ke Filipina, Malaysia Timur, hingga Sulawesi bagian utara, sedangkan yang mengungsi ke arah selatan kemudian mengembara melalui Selat Malaka dan menyebar ke Semenanjung Malaya, Kepulauan Riau, hingga Sulawesi bagian selatan. Para pengungsi itulah yang menjadi cikal-bakal orang Bajo di wilayah-wilayah tersebut, sementara orang Bajo di Kepulauan Wakatobi berasal Sulawesi bagian selatan, yaitu dari para pengungsi Mekong yang lari ke selatan.

Dalam legenda dan cerita rakyat Bajo yang kerap kami dengar bahwa orang Bajo dari Johor, di semenanjung Malaya. Dikisahkan putri Raja Johor hilang ketika sedang berlayar, dan Sang Raja memerintahkan prajuritnya untuk mencarinya. Para prajurit itu telah mencari berbagai penjuru dan tidak menemukan Sang Putri yang hilang. Mereka takut kembali ke kerajaan karena akan mendapat hukuman Raja. Para prajurit lebih memilih untuk mengembara di laut daripada mendapat hukuman dari Raja.

Dari cerita yang berbeda itu, akan membingungkan bagi sejarawan sehingga titik temu asal usul orang Bajo menjadi misteri hingga sekarang.

Kalau kelompok Yahudi diusir dari tanah suci Yerusalem atau Muslim Rohingya diusir dari Myanmar. Dengan alasan tanah itu bukan tanah mereka. Jadi, bagaimana dengan kasus orang Bajo?

Telah lama ilmuwan bertanya-tanya tentang asal-usul Orang Bajo seperti kata Phillippe Grange, ahli linguistik dari Universite La Rochelle, Perancis (nationalgeographic.co.id), “Mereka memang nomaden, tapi orang pasti punya asal-usul. Di mana asal-usul mereka, itu masih pertanyaan”.

Lebih masygul yang dialami Francois-Robert Zacot, terekam dalam bukunya Orang Bajo: Suku Pengembara Laut bahwa ia sempat dikatakan “gila” ketika ia balik ke Prancis karena masih bingung dan bertanya-tanya dari mana Suku Pengembara Laut ini?

Bila kita telusuri keberadaan orang Bajo, di mana ada orang Bajo, pasti ada suku Bugis yang berbaur dengan mereka. Apakah ini ada kaitannya dengan Kerajaan Bone? Atau, suku Bajo adalah adik dari suku Bugis?

Entahlah, saya yang memiliki darah suku Bajo tetap optimis bahwa asal-muasal kami akan terkuak nantinya, seratus atau seribu tahun lagi.