Semesta Telembuk

Judul: Rab(b)i
Penulis: Kedung Darma Romansha
Penerbit: Buku Mojok
Terbit: Juli 2020
Tebal: 136 halaman

Dangdut tidak saja dinikmati lewat musik, tetapi juga lewat teks, dalam hal ini sebuah karya sastra. Kedung Darma Romansha bisa berdangdut lewat karya-karyanya.

Ia telah menulis tentang pelaku dangdut hingga santri di dalam dua novelnya, yaitu Kelir Slindet (2014) dan Telembuk: Dangdut dan Kisah Cinta yang Keparat (2017). Dua novel tersebut diterbitkan kembali oleh penerbit Buku Mojok pada 2020.

Dalam dua buku tersebut, Kedung mengulik peradaban dangdut pinggiran di Jalan Pantura, Indramayu. Dan, pada pertengahan tahun ini, Kedung melahirkan satu buku kumpulan cerita pendek berjudul Rab(b)i, yang masih berkutat pada perihal dangdut dan santri; tentang kehidupan sehari-sehari warga kampung yang kerap nongkrong di warung kopi; tentang aktivitas bercinta sepasang kekasih; tentang telembuk di pinggir jalan; penyanyi dangdut di atas panggung; tentang pesantren; dan cerita lainnya dalam buku ini adalah representasi kehidupan Kedung yang begitu sentimental.

Kita sering mengucapkan ’’rab(b)i” ketika berdoa, tetapi cerita pendek ini mengisahkan ’’rabi” yang memiliki tiga arti, yaitu ’menikah’, ’istri’, dan ’bercinta’.

Dikisahkan tokoh bernama Untung yang mempunyai nasib baik. Ia mempunyai istri bernama Warti, pekerja di Taiwan, yang membolehkannya untuk nelembuk (jajan kepada pelacur) di kampungnya, dengan syarat tidak pacaran dan nikah lagi.

Selain itu, Wasti melarang keras Untung untuk mendekati perempuan bernama Nurlaila. Sayangnya, Untung tergoda kepada Nurlaila dan berbohong bahwa ia dan istrinya telah bercerai.

Mungkin dari paragraf tersebut, sedikit ada gambaran bahwa cerpen ’’Rab(b)i’’ sangat konvensional. Tapi, dalam cerpen ini Kedung memakai efek alienasi, yang lebih familier di dunia teater, dengan sebutan teknik Brecht.

Teknik tersebut begitu mengganggu kenikmatan penonton atau pembaca. Pembaca telah merasakan keasyikan cerita yang disuguhkan, tetapi disela atau diinterupsi si tokoh dan menjelaskan dirinya sendiri dan maksud dari cerita yang dibuat oleh narator.

Akan tetapi, teknik bercerita ala Kedung di beberapa cerpennya di Rab(b)i, dalam ’’menginterupsi” alur cerita tidak terlalu gamblang seperti teknik alienasi ala teater Brecht. Pembaca masih menikmatinya walaupun si tokoh sedang ’’menginterupsi”.

Misalnya, dalam cerpen ’’Rab(b)i”, si tokoh bernama Untung menjelaskan bagaimana dirinya mendapatkan nasib baik karena memiliki nama ’’Untung”. Di cerpen ini, penginterupsian dari tokoh tidak sempat memotong keterlibatan emosional pembaca terhadap cerita yang dibangun narator.

Bila Anda telah membaca novel Telembuk: Dangdut dan Kisah Cinta yang Keparat, sebenarnya Kedung telah menerapkan teknik alienasi. Dan, ia masih membawa teknik semacam ini di beberapa cerpennya, dalam Rab(b)i.

Kedung tak menyangsikan bagaimana pentingnya hal-hal kecil dan sederhana dalam kehidupan sehari-hari untuk diangkat dalam cerita. Kedung akan selalu merasakan kedekatan dirinya dengan cerita yang ia buat dan pembaca merasakan kedekatan yang sentimental itu.

Dengan begitu, membaca kumpulan cerita pendek ini akan memanggil memori kecil pembaca terhadap semesta per-telembuk-an yang telah dibangun oleh Kedung Darma Romansha dalam dua buku sebelumnya. Demikian!

Jawa Pos, 23 Agustus 2020