Sejarah Umat Manusia

Sekitar 2,5 juta tahun lalu, ada genus hewan begitu mirip dengan manusia modern. Namun, mereka tak menonjol selama bergenerasi-generasi di antara makhluk lain. Artinya, “hewan” yang mirip dengan manusia itu adalah nenek moyang kita.

Manusia kali pertama berevolusi di Afrika Timur sekitar 2,5 juta tahun silam dari genus kera yang lebih tua. Genus kera itu disebut Australopithecus, yang memiliki arti ‘Kera Selatan’. Sekitar 500.000 tahun kemudian, beberapa laki-laki dan perempuan purba itu berimigrasi ke beberapa wilayah: Afrika Utara, Eropa, dan Asia.

Manusia di Eropa dan Asia Barat berevolusi menjadi Homo Neanderthalensis ‘Manusia dari Lembah Neander’. Tetapi, lebih populer dengan sebutan “Neandertal”. Di Asia Timur dihuni oleh Homo Erectus, ‘Manusia Tegak’ mampu bertahan nyaris selama 2 juta tahun. Spesies manusia yang bertahan paling lama. Rekor itu kecil kemungkinan bisa dipecahkan oleh spesies kita sendiri. Tetapi, Homo Sepiens diragukan akan masih ada seribu tahun dari sekarang. Jadi, 2 juta tahun itu benar-benar tidak tergapai oleh kita (hlm. 7).

Di Indonesia memiliki dua jenis manusia: di Pulau Jawa hidup Homo Soloensis, ‘Manusia dari Lembah Solo’ dan di Pulau Flores terdapat Homo Floresiensi, ‘Manusia Flores’. Manusia Flores ini berevolusi menjadi manusia katai. Berbobot kurang dari dua puluh lima kilogram. Sangat kecil dan musnah.

Manusia terus berevolusi. Seperti, Homo Rudolfensis, ‘Manusia dari Danau Rudolf’; Homo Ergaster, ‘Manusia Bekerja’; dan akhirnya sampai ke ‘Manusia Bijak’, yang diberi nama Homo Sapiens. Menurut Yuval, spesies terakhir inilah yang banyak menghancurkan makhluk-makhluk lain di muka bumi. Dan, begitu congkak. Terdeteksi lagi jenis manusia pada 2010, ilmuwan menemukan Homo Denisova hasil dari galian di Gua Denisova di Siberia.

Yuval membagi empat waktu yang memengaruhi sejarah manusia (Sapiens). Pertama, Revolusi Kognitif. Kedua, Revolusi Pertanian. Ketiga, Pemersatuan Umat Manusia. Keempat, Revolusi Sains.

Revolusi Kognitif
Kamampuan pertama kali dilakukan manusia adalah awal-mula produk Revolusi Kognitif. Beberapa pencapaian seperti membuat perahu, lampu minyak, busur dan anak panah, serta jarum. Adalah cara manusia beradaptasi dengan alam di sekitarnya. Kemampuan itu mengakibatkan Neandertal punah dan Sapiens mampu mendarat ke benua Australia melintasi beberapa pulau Indonesia.
Selain itu, kemampuan lebih signifikan di Revolusi Kognitif ialah kemampuan meneruskan informasi mengenai hal-hal yang tidak sungguh-sungguh ada, misal arwah pelindung suku dan bangsa. Akibatnya, manusia mampu bekerja sama antara orang-orang tak saling mengenal dalam jumlah sangat besar dan melakukan inovasi perilaku sosial secara cepat.

Revolusi Pertanian
Manusia mulai bertani saat memikirkan apa yang mesti dimakan esok harinya. “Ya, kita harus bekerja keras agar panen nanti akan banyak sekali! Kita tidak perlu lagi khawatir mengenai tahun-tahun paceklik. Anak-anak kita tidak akan tidur dalam keadaan lapar” (hlm. 104).

Manusia berternak sapi, domba, kambing, babi, dan ayam. Proses berternak ini dimulai melalui perburuan selektif. Mereka tidak berburu domba betina subur dan anak domba karena menjaga ketahanan jangka panjang. Hewan-hewan itu didomestikasi untuk memasok makanan (daging, susu, telur), bahan mentah (kulit dan wol), dan tenaga otot. Hewan-hewan itu difungsikan sebagai pengangkut beban, membajak tanah, menjalankan penggilingan, dan tugas-tugas lain yang sebelumnya dilakukan oleh otot manusia.

Pada revolusi ini, kita melihat bagaimana “kekejaman” manusia terhadap hewan di sekitar, bahkan perilaku itu diteruskan dari generasi ke generasi.

Pemersatuan Umat Manusia
Pasca Revolusi Pertanian, masyarakat manusia berkembang pesat dan semakin kompleks. Mitos dan fiksi dipupuk sedari lahir untuk berpikir, berperilaku, menginginkan, dan menuruti aturan-aturan tertentu. Aturan-aturan ini memungkinkan jutaan orang tak saling kenal bekerja sama secara efektif. Dan, itu disebut sebagai kerja “budaya”. Dalam agama juga demikian, jutaan orang tak saling kenal namun punya ikatan ritual. Budaya dan agama dibentuk oleh imajinasi. Seperti ucapan Rocky Gerung—yang sempat viral di media sosial—bahwa agama merangsang imajinasi pengikutnya. Berimajinasi tentang surga sehingga orang-orang berusaha melakukan peribadatan agar masuk dalam surga itu. Inilah yang mengakibatkan ada kelompok tertentu bisa bersatu.

Revolusi Sains
“Aku menjadi maut, pembinasa alam semesta,” ucap Robert Oppenheimer, ahli fisika nuklir, mengutip Bhagawadgita saat melihat atom pertama kali diledakkan. Ucapan Robert itu mungkin ucapan penyesalan. Yang mana sains yang seharusnya memajukan kemaslahatan dan peradaban umat manusia berubah menjadi malapetaka.

Revolusi Sains bukanlah revolusi pengetahuan. Di atas segalanya, Revolusi Sains adalah revolusi ketidaktahuan. Penemuan besar yang meluncurkan Revolusi Sains adalah penemuan bahwa manusia tidak tahu jawaban bagi pertanyaan-pertanyaan mereka yang terpenting (hlm. 298).

Pada titik ini, Homo Sapiens mencoba melakukan apa yang Tuhan (bagi yang percaya Tuhan) lakukan, bahkan lebih dari itu. Ulasan panjang mengenai bagaimana proses manusia menjadi homo deus bisa dibaca pada buku keduanya yaitu Homo Deus: A Brief History of Tomorrow.

Yuval—dalam buku ini—memberikan wacana yang sebenarnya bukan hal baru. Namun, ia mampu meracik sejarah ke narasi populer.

Sebelumnya, buku ini terbit dalam bahasa Inggris, Sapiens: A Brief History of Humankind. Sebelum beredar menjadi best seller dunia, buku ini adalah modul untuk mahasiswa Yuval di Hebrew University of Jerusalem.

Buku yang diterjemahkan Damaring Tyas Wulandari Palar ini layak dibaca bagi pencinta sejarah. Sesuai testimoni Mark Zuckerberg bahwa buku ini adalah narasi sejarah besar peradaban manusia. Seperti Muqaddimah [Ibnu Khaldun], buku sejarah yang bersudut pandang intelektual 1300-an, Sapiens menjelajahi banyak pertanyaan penting untuk zaman sekarang.

Mungkin pembaca akan meragukan keakuratan sumber dalam buku ini. Tetapi, setidaknya, Yuval membuka ceruk baru untuk kita agar menengok sejarah panjang peradaban umat manusia. Dan, kita juga boleh memberi perspektif baru tentang sejarah manusia apabila literatur yang dihamparkan lebih sahih dibandingkan ilmuwan sejarah sebelumnya. Demikian.

Berdikari Book, 04 September 2018