Resensi-Resensi “Nelayan Itu Berhenti Melaut”

Saya arsipkan resensi-resensi buku Nelayan Itu Berhenti Melaut yang tersebar di beberapa media. Buku pertama saya ini diterbitkan oleh Pojok Cerpen. Saya membaca dengan saksama ulasan mereka tanpa menggurutu atau kesel karena sudah mengurai kesalahan-kesalahan yang saya buat dalam menulis cerita. Bagi teman-teman yang mau membaca ulasan mereka, saya hadirkan enam resensi di sini.

Resensi 1

Nelayan Itu (Tidak) Berhenti Melaut
Oleh Bahrul Amsal di Bahrulamsal Journal, 25 Juni 2019

DUA cerpen awal kumcer ini saya baca di sebuah warkop ketika hari jelang sore. Setelah membelinya, saya memilih rehat dari kerumunan kendaraan yang menggila di atas bara aspal. Makassar, jelang sore adalah kota sibuk. Di jalan raya, seolah-olah semua sedang diburu sesuatu mendesak yang seketika sesak.

Saya tidak bisa menahan tidak sesegera mungkin membaca buku karangan Safar Banggai. Kiprah kepenulisannya sedikit banyak sering saya lihat melalui layar Fb. Safar orang Luwuk Banggai. Ia kini mengabdikan dirinya di dunia kepenulisan Yogyakarta. Di sana Safar menghibahkan dirinya sepenuh-penuhnya untuk dunia literasi.

Sebagian masyarakat Banggai, daerah asal Safar, banyak hidup di atas lautan. Hidup sebagai nelayan dan mati sebagai nelayan pula. Sebagian besar mereka sudah turun temurun hidup bersama laut.

Semua tema dalam kumcer Safar ini mengambil latar masyarakat pesisir—peristilahan yang kurang tepat mengingat masyarakat Banggai lebih banyak tinggal di atas air lautan. Satu tema yang unik mengingat sependek pengetahuan saya, tema masyarakat laut masih jarang dinarasikan melalui sastra. Apalagi, mengingat ini adalah Banggai, suatu daerah yang seringkali luput dari perhatian masyarakat daratan.

Nelayan Itu Berhenti Melaut sudah dari awal menanam rasa penasaran. Bagaimana mungkin nelayan yang berhubungan secara organik dengan lautan berhenti melaut? Apa sebab utama, nelayan, salah satu ”profesi” tertua di Nusantara memunggungi semesta tempatnya mencari kehidupan?

Berbekal rasa penasaran saya mulai membaca cerpen pertama yang kebetulan bertitel sama dengan kumcer ini. Rasa kopi khas warkop langganan menambah sensasi imajinatif menangkap dunia fiksi ciptaan Safar melalui gaya kalimat padat dan langsung.

Nelayan Itu Berhenti Melaut adalah cerita dengan tokoh nahas. Seorang pemuda yatim piatu bernama Atam. Ia berhenti melaut lantaran cintanya ditolak. Siti, perempuan dambaan Atam, ogah menjadi tambatan jangkar cinta Atam.

Siti lebih menyukai pria tampan sekaligus berasal dari kota.

Cinta Atam cinta buta sekaligus pincang. Atam buta mencintai Siti, gadis berpendidikan tinggi dari keluarga terpandang di Kampung Nelayan. Atam hanya pemuda nelayan miskin yang lebih sering pulang tanpa ikan tangkapan.

Cinta Atam disebut pincang karena tak membantunya mampu memangkas jarak stratifikasi sosial yang jauh di antara keduanya.

Cintanya kepada Siti seperti orang laut Banggai melihat daratan. Jauh sekaligus asing.

Tapi walaupun begitu, kisah Atam tidak berhenti seketika. Cinta Atam cintanya orang-orang lautan. Keras dan pantang mundur. Seolah-olah mengafirmasi prinsip masyarakat nelayan: masalah di lautan jangan dibawa sampai ke daratan. Begitu juga sebaliknya. Selama ia belum menuntaskan cintanya di daratan, selama itu pula ia enggan menghirup aroma laut.

Nasib sial lain Atam juga dialami dalam kisah Mengubur Kenangan. Setelah ia ditolak Siti kali kedua ia dipecundangi anak Pak Haji. Anak Pak Haji dalam Mengubur Kenangan bahkan diceritakan enggan melihat Atam. Ia bakal tertawa melihat ompong dua gigi di wajah Atam.

Kisah kehilangan dua gigi Atam diceritakan Safar melalui mitos khas masyarakat nelayan. Sering dipercayai, ketika seseorang bermimpi dua giginya tanggal, menandai akan ada orang terdekat segera mangkat.

Di kisah Mengubur Kenangan, melalui Atam, Safar seolah-olah sedang melawan irasionalitas mitos. Atam dikisahkan mencabut sendiri giginya setelah terbangun dari mimpinya. Ia ogah mimpi serupa bakal terulang. Itu artinya tidak ada bakal mati hanya karena urusan dua gigi tanggal dalam mimpi.

Persamaan kisah cinta Atam dalam dua cerita di atas—Nelayan Itu Berhenti Melaut dan Mengubur Kenangan—adalah cinta yang dilatarbelakangi perbedaan status sosial. Baik Siti maupun Anak Pak Haji bukanlah cinta yang dilatarbelakangi nuansa lautan tanpa batas dan embel-embel, melainkan sudah disapu budaya kota: harta dan kedudukan sosial.

Cerita Dua Perempuan Untuk Satu Lelaki tersirat mengutarakan problem sering dialami kaum perempuan nelayan. Ada anekdot barang siapa menjadi pelaut kemungkinan memiliki lebih satu istri dari pulau berbeda. Jika tidak, masih ada risiko lain. Selain ditinggal pergi kerja ke luar negeri, istri-istri nelayan harus siap apabila sang suami ditelan kedalaman laut lepas.

Efek dari kehilangan suami bisa berbuntut panjang terutama bagi kebutuhan tubuh. Begitulah pengalaman si Aku dalam kisah ini. Yang menarik ia tidak sendiri. Sahabat dekat si Aku mengalami nasib serupa. Suatu hari si Aku tidak tega melihat sahabatnya kebelet berhubungan badan. Sesama perempuan, ia paham perasaan sahabatnya. Itulah sebabnya setelah mendapatkan persetujuan, demi sahabatnya, ia rela berbagi tubuh suaminya.

Eksplorasi tubuh juga ditemui dalam Perempuan Yang Membuang Jala—hal yang sama dalam Makan Mayat Manusia, cerpen kedua. Di kisah ini tubuh perempuan digambarkan anomali. 10 tahun tubuh Dewi, tokoh kisah ini, tidak mampu melahirkan keturunan. Kontras dengan kemampuan tubuh Atam, suami Dewi, yang perkasa di atas ranjang.

Tubuh Dewi dalam hal ini adalah korban. Sebagai perempuan ia jadi objek seksual Atam. Sebagai istri, tubuhnya enggan beregenasi. Mandul.

Puncak anomali tubuh perempuan, dikisahkan Safar, setelah tubuh Dewi mencerna ramuan sanro atas inisiatif suaminya. Tubuh Dewi menunjukkan gejala tak biasa. Tak dikira, Dewi mengandung dan melahirkan ikan ketambak.

Seperti dapat ditemui dalam masyarakat perairan sungai—di Sulawesi selatan, percaya tidak percaya ada perempuan yang melahirkan buaya—Safar mengingatkan kepada pembaca mengenai kejadian-kejadian aneh yang kerap ditemui pada masyarakat pinggiran sungai.

Cerpen terakhir buku ini menuturkan kesenjangan antara tradisi masyarakat laut dengan kebudayaan di luarnya—yang juga ditemukan dalam Leppa. Hubungan ini ditunjukkan dari sosok peneliti dengan masyarakat laut. Sang peneliti asing mewakilkan kemajuan peradaban yang menatap asing asal usul masyarakat lautan. Sayangnya kesenjangan itu membuat masyarakat lautan sebagai objek ilmu pengetahuan dengan kesimpulan penelitian yang aneh: asal usul masyarakat laut adalah ikan-ikan.

Kesimpulan aneh ini membalikkan prasangka yang selama ini disematkan kepada peradaban modern. Ternyata orang berpendidikan juga masih diliputi takhayul. Mana ada asal-usul suatu masyarakat berasal dari ikan-ikan?

Pada akhirnya 12 cerpen ini nyatanya adalah hasil tangkapan penulis dari masyarakat nelayan tempat ia sendiri berasal. Nyatanya nelayan itu tidak berhenti melaut.

 

Resensi 2

Nelayan Boleh Berhenti Melaut, Penulis Tidak
Oleh Teguh Afandi di Basabasi.co, 13 Juli 2019

‘Buku-buku terbaik di seluruh dunia’ hampir semua terbit di tangan penerbit kecil, penerbit independen, setidaknya pendapat ini diukur dari penghargaan Man International Booker Prize di 2019. Saat Guardian menurunkan berita tersebut, daftar panjang pemenang sudah menguatkan pendapat spektakuler yang harusnya menambah energi pada pegiat penerbitan independen. Dari tiga belas judul, hanya ada dua judul yang diterbitkan oleh penerbit nonindie. Sebelas judul tersebut muncul dari penerbit indipenden seperti Fitzcarraldo Editions, Sandstone Press, Granta, dan Other Stories and Scribe. Maureen Freel—penulis, penerjemah, sekaligus salah satu panel juri dalam penghargaan tersebut, berujar dengan santainya, “Penerbit besar harus berusaha lebih.”

Di luar penerbit independen (kita tidak akan membahas bagaimana yang independen dan tidak independen) teruji memiliki taji dalam percaturan literasi dunia. Namun bagaimana dengan Indonesia, yang sudah menjadi rahasia umum bahwa “semua orang bisa menerbitkan buku dan punya penerbitan”? Lantas, mampukah buku terbitan penerbit independen yang hendak dibahas ini menunjukkan taji?

Sudah menjadi pengetahuan publik, penerbitan buku secara independen atau secara istilah sederhana adalah tiras yang tidak begitu banyak. Yang sedikit itu tetap diharuskan berkancah dalam rimba judul buku yang terbit setiap minggunya. Secara serampangan penerbit independen luar negeri yang mampu menyuguhkan judul-judul yang diperhitungkan dalam penghargaan sastra, pastilah bukan sekadar beralasan “dicetak sendiri, disesuaikan jumlah modal kita saja.” Itu terlalu remeh. Bisa dipastikan kurasi, penyuntingan, pengemasan, dan pemasaran independen mereka jauh-jauh-dan-sangat-jauh bila dibandingkan dengan sistem independen milik kita.

Selain harus mampu memberi warna baru yang tidak biasa, yang tidak jamak, yang tidak pasaran, penerbitan independen tidak boleh melewatkan ketatnya kurasi, primanya penyuntingan, dan jempolnya pengemasan. Karena bak makanan, mau di emperan, mau di swalayan, makanan enak tetap menuai pujian.

Buku Nelayan Itu Berhenti Melaut (2019) adalah karya perdana Safar Banggai, salah satu nama yang lebih saya kenal sebagai kerani di Radio Buku. Kumpulan cerpen perdananya ini sekaligus menunjukkan kemampuan dan keberanian menjajal sebagai pencerita. Pembahasan penerbitan indipenden di awal adalah terkait dengan pilihan Safar Banggai untuk hadir lewat penerbit independen. (Karena indie, buku ini takkan ada di toko buku kebanyakan, harus berburu secara daring).

Selepas membaca buku Safar Banggai, kita akan merasakan bahwa indie Indonesia masih di kelas seperti ini. Meski harus diakui masih banyak judul bagus dan mendapatkan perhatian besar dari pembaca yang terbit dari penerbit independen. Buku Safar Banggai, terutama dalam hal konten, masih tampak terburu-buru dan “asal jadi-asal terbit”. Banyak cerita yang nanggung, yang diakhiri dengan begitu saja.

Cerpen pembuka, yang kemudian dijadikan judul buku, Nelayan Itu Berhenti Melaut, dibuka dengan paragraf megah. Yang paling dibenci pria adalah sikap diam wanita. Yang dibenci wanita adalah ketidaktegasan pria. Yang paling dibenci dua kaum ini tidak adanya komunikasi. (hal.1)

Namun, cerita dijalin dengan biasa saja dan bahkan diakhiri dengan berengutan yang kurang memuaskan. Hal paling mengecewakan untuk cerpen ini adalah Banggai harus menautkan cerita dengan agama, sedangkan sejak awal tak sekali pun Banggai menyitir hal tersebut. Seolah babak akhir adalah kelokan paling tajam dan membuat kecewa penikmat ceritanya.

“Bagaimana caranya menjadi muslim?” (hal. 9)

Kisah nelayan ini bisa menjadi lebih dramatis, bisa lebih menikam dengan akhir yang subtil, bila penulis tak membelokkan soal beda agama. Meski sebenarnya bukan hal yang keliru, tapi bisa lebih kaya lagi andai tidak diakhiri demikian. Pilihan tokoh lelaki yang seolah lemah, tidak punya keajegan pilihan, dan membuat membaca seperti di-skak-mat, tidak ada pilihan lain.

Kesan ketergesa-gesaan juga tampak dalam beberapa judul lain. Cerpen Makan Mayat Manusia—lagi-lagi diakhiri dengan tergesa-gesa dan seharusnya tidak demikian. Dalam cerpen ini ada ketidakberanian penyunting memberi saran bagian yang “mengaburkan” cerita dan hanya menambah karakter saja. Adegan latihan renang tokoh dalam cerpen ini tidak signifikan untuk diceritakan cukup panjang.

Mungkin penulis harus diikat dikursi lebih lama untuk membaca berulang kali setiap ceritanya. Cerpen superpendek, misalkan, Ia Tak Sadar Air Matanya Jatuh justru menunjukkan kalau Safar belum selesai merampungkan cerita ini. Fragmen tidak berarti ini hanya sekadar membuat pembaca geram, seolah disuruh mencicip seujung sendok makanan, tidak memuaskan, tidak mengenyangkan.

Kalau fragmen ini diolah lebih tenang, lebih panjang, sangat mungkin pembaca akan meleleh air mata merasakan keharuan. Kalau yang ini, pembaca meleleh kegeramannya.

Selain kesan buru-buru yang sangat dipaksakan, banyak hal yang penulis salah menempatkan kamera sehingga hal yang menarik tidak dieksplorasi lebih. Seperti seorang perekam video atau juru foto tapi salah menempatkan moncong lensa. Misalkan satu kalimat dalam cerpen Makan Mayat Manusia, yakni “Kami terus menjaga laut seperti kami menjaga Ibu”, adalah kalimat kuat dan premis menarik yang justru diabaikan, Banggai sibuk soal “penangkapan penjual bahan peledak”.

Atau dalam cerpen Dua Perempuan untuk Satu Lelaki, ada premis menarik yang tidak sadar telah diabaikan oleh penulis. Seorang perempuan yang kawin kedua kali, karena suami pertama yang menjadi TKI tak ada kabar. Alangkah premis ini akan menjadi cerita yang lucu-satire bila dikembangkan tidak seperti yang di dalam buku ini. (Ini mengingatkan saya pada Nh Dini dalam “Jalan Bandungan”, istri yang menyambut suaminya pulang selepas tapol sedangkan dia telah dinikahi oleh adik kandung suaminya).

Salah menempatkan kamera juga bisa ditemukan dalam beberapa judul, Leppa, Mbo ma di Lao, dua cerpen ini menyimpan harta karun besar yang bisa dijadikan cerpen atau novel yang menarik. Lagi-lagi penulis terlalu terburu-buru dan tidak benar menempatkan mata kamera.

Buku telah terbit, ibarat kue telah dihidangkan kepada pembaca. Berhasil atau gagal kue itu “memuaskan” pembaca adalah pertaruhan kedua setelah keberanian penulis menjajal membukukan cerita. Banggai tidak seperti nelayan dalam cerpennya yang loyo, berpemikiran lemah. Banggai telah menunjukkan sikapnya sebagai pelaut-penulis yang berani melawan badai komentar pembaca.

Banggai punya kans untuk mengeksplor lebih dalam banyak hal yang dia miliki. Kekayaan lokal, pengetahuan akan budaya yang tak banyak orang tahu. Hal penting yang mungkin sekarang belum digali lebih. Tentu dengan tidak buru-buru dan jangan keliru menyorot cerita.

Kembali pada dua paragraf awal bahwa penerbitan independen memiliki peluang besar sebagai promotor karya-karya “aneh” yang patut dipertimbangkan. Tentu bukan yang seperti milik Banggai. Bila pilihan menerbitkan independen sebab terburu-buru asal jadi, asal punya karya, nasibnya pun akan sama saja tak dilirik.

Sebagaimana bentangan samudra, ide-ide Banggai bisa dipastikan mahaluas, dalam, sekaligus menyimpan bahaya yang mengancam. Namun, sebagaimana seorang nelayan yang mampu memperkirakan laut mana yang berombak tenang dan berikan banyak, Banggai juga harus memilah bagian mana yang potensial dikembangkan menjadi cerita, cara terbaik memanen kisah, dan tentu kapan harus melempar sauh dan layar. Jadi, hanya nelayan yang boleh berhenti melaut, penulis tidak. Tidak boleh berhenti menulis.

Kita tunggu buku Banggai kedua!

 

Resensi 3

Safar Banggai Mengajak Pembaca untuk Menyelami Dunia Pesisir
Oleh Ayu Pratiwi di Bookish Journal, 15 Juli 2019

Apa penyebab nelayan berhenti melaut? Bukankah itu pekerjaan yang menyenangkan? Bermain dengan birunya air serta memancing ikan segar sebagai tujuan utamanya. Setiap keputusan pasti ada alasannya. Setiap cerita juga memiliki kadar cinta dan emosi yang berbeda.

Safar Banggai mempersembahan sebuah buku berjudul Nelayan Itu Berhenti Melaut sebagai bacaan nostalgia kenangan masa lalu bagi para anak pesisir. Beberapa penulis menjadikan tempat asal sebagai inspirasi ketika menulis cerita. Hal itu mungkin saja dilakukan karena dua hal, yakni kerinduan akan kampung halaman atau hendak memperkenalkan tempat tersebut kepada pembaca.

Nelayan Itu Berhenti Melaut adalah buku pertama yang akhirnya berhasil diangkat dari laut oleh seorang penulis kelahiran Banggai Laut, Sulawesi Tengah. Safar memperlihatkan dinamika para nelayan dan juga menggambarkan suasana pesisir sebagai ruang yang selama ini melekat dengan dirinya.

Lewat Nelayan Itu Berhenti Melaut terbitan Pocer, Safar menuliskan dua belas cerita pendek yang terdiri dari 80 halaman. Secara utuh hal yang sebenarnya disorot dalam kumpulan cerpen ini, baik tersirat atau tersurat ialah bagaimana laku sosial dulu dan kini pada masyarakat laut saling bertaut.

Cerita-cerita itu lahir sebagai pundi-pundi memori tentang laut dan orang-orang yang menghabiskan usianya disana. Pundi-pundi memori dengan ragam masalah yang cukup kompleks itu dipicu seorang tokoh bernama Atam di beberapa kisahnya.

Secara sederhana Safar ingin menyampaikan kepada para pembacanya, bahwa laut selalu mengikuti hukum alam. Manusia datang membuat hukum sendiri, lalu merusak laut dengan dalih melindungi.

Dalam buku Nelayan Itu Berhenti Melaut dengan kategori sosial budaya ini, pembaca diajak menjelajahi kehidupan masyarakat yang terlahir dari rahim lautan, para nelayan yang berkawan dengan ikan juga karang-karang.

Penulis mendeskripsikan masalah-masalah yang kerap menyapa mereka yang menggantungkan hidupnya pada sumber daya laut. Masalah yang dibuat oleh tangan-tangan manusia usil.

Apa yang tersaji dalam buku ini membuat kita merasa seperti menyaksikan indahnya pemandangan laut, menghirup aroma laut, atau membayangkan kita sedang memancing ikan bersama nelayan-nelayan tangguh itu. Hal itu terukir indah mungkin dengan alasan sang penulis yang juga tumbuh bersama laut. Jika kamu ingin membuktikan aroma laut dan juga kepingan laut lainnya, silahkan baca buku Nelayan Itu Berhenti Melaut segera!

 

Resensi 4

Narasi-Narasi Laut pada Peta Rasio Masa Kini
Oleh Cep Subhan KM di Berdikari Book, 25 Juli 2019

Narasi tentang laut adalah narasi yang tak pernah berhenti memukau manusia, di manapun dan kapanpun. Kita menjumpainya di berbagai tempat pada beragam masa, dalam risalah kuno Aristoteles, puisi klasik Beowulf yang panjang, kitab klasik Jalaluddin al-Suyuthi, sampai dalam puisi salah satu sastrawan Indonesia Angkatan ’66:

busa dan buih putih

menuntun gulungan ombak

mengendap pasir putih pantai

busa dan buih putih

menuntun lelaki pelaut

pulang dari kemenangan di laut

Bisa ada banyak analisis tentang mengapa laut selalu memukau manusia, tetapi bagi Psikoanalis penyebabnya sederhana: laut adalah bagian dari ingatan manusia yang tak pernah tuntas, seperti mimpi yang tak bisa kita ingat sepenuhnya saat terjaga tapi kita tahu ia benar-benar ada menemani kita saat kita terlelap memejamkan mata. Berbeda dengan gunung, hutan, dataran luas, laut tak pernah benar-benar terjelajahi sepenuhnya, ia selalu menyimpan sisi misterius, dan apa yang misterius selalu memiliki sisi memukau tersendiri.

Dalam kisah pra-tulisan, Adam diturunkan—secara literal—dari langit di puncak gunung sebagai bagian dari bumi yang paling dekat ke langit. Terpisah dari Hawa yang diturunkan di Jeddah, dia kemudian mengembara melintasi hutan, rawa-rawa, padang pasir luas, dan bertemu dengannya di Jabal Rahmah. Setelah itu kisah umat manusia adalah kisah agrikultur dan gembala, baru kemudian pada zaman Nuh kita akan menemukan laut sebagai latar utama narasi tentang manusia, dan itu pun dalam wujudnya yang tak bisa dikontrol manusia kecuali melalui bantuan wahyu Tuhan.

Laut sebagai sesuatu yang tak terkontrol, misterius, tak terstruktur. Pikiran manusia selalu membunyikan tanda bahaya ketika menemukan apa yang tak terstruktur. Manusia yang sudah dewasa—dan dengan kata lain: distrukturkan kultur—akan berusaha menstrukturkannya dan melupakan sisanya yang tak teringkus manajemen struktural. Tapi apa yang dilupakan manusia pada dasarnya tak pernah benar-benar lenyap, ia hanya mengendap, dan demikianlah laut bertempat dalam pikiran sebagai bagian yang karakteristiknya ditempatkan di dalam ketaksadaran tetapi tak pernah benar-benar hilang.

Maka bagi Psikoanalis, laut adalah simbol kelahiran generasi manusia pasca-Nuh, bahwa mereka yang bermimpi tentang laut—dan artinya ingatan tentang laut klasik dalam ketaksadarannya menerobos gerbang sensor struktur—adalah mereka yang merindukan persetubuhan. Laut adalah ibu manusia, dan ibu, sosok perempuan, adalah sosok yang mewakili gender yang tak pernah bisa sepenuhnya disingkap oleh rasio. Manusia kerap merasa paling dekat dengan sang ibu, tapi kerap kali pula mereka merasa tak benar-benar memahaminya.

Karena alasan yang sama, dalam tradisi Barat, laut seringkali menjadi simbol surga. Surga yang bisa dimaknai ganda sebagai ujung tempat manusia berbahagia sekaligus sebagai pangkal tempat dulu Adam berbahagia. Pada titik inilah imaji-imaji laut dalam sastra seringkali hadir sebagai figur ibu, gerak mengarunginya adalah gerak mengarungi salah satu bagian paling misterius dalam semesta, gerak kembali ke sana adalah tindakan yang digerakkan oleh hasrat untuk kembali ke ketenangan yang tanpa struktur, suatu ketenangan purba ketika yang misterius masih seakrab bayi dengan plasenta sementara kultur adalah belaian dan bisikan ibu dari luar perut, lembut dan tanpa hasrat meringkusnya ke dalam struktur.

Bertolak dari sana, kita akan menemukan sosok-sosok pria yang “bisa” mengarungi “lautan maha dalam”—dalam sajak Chairil—atau “lautan yang tak terselami”—dalam sajak Shelley—sebagai sosok-sosok yang gagah, imaji maskulin yang bisa memahami imaji feminin: Nuh dalam kisah kuno, Odysseus dalam puisi Homer, Beowulf dalam puisi klasik Inggris, Sindbad, Marco Polo, Ibn Battuta. Ketika yang mengemuka adalah hasrat untuk menaklukkan, maka kita biasanya menemukan narasinya sebagai narasi Tragedi: Moby Dick, Heart of Darkness.

Sesekali, sampai sekarang, kita selalu menemukan juru kisah yang mencoba menengok kembali apa yang masih bisa dikabarkan tentang laut, dan selalu pula ingatan purba kita menyodorkan keterpukauan akan apa yang tak pernah bisa sepenuhnya diringkus struktur peta hasil pencapaian rasio modern itu: laut. Pada momen kita berjumpa dengan salah satu juru kisah itu, saat itu pulalah kita mungkin berjumpa dengan Safar Banggai.

~

Safar adalah anak Banggai. Safar adalah anak laut. Baginya laut sama dengan gunung bagi anak gunung, sebagaimana gunung baginya adalah laut bagi anak gunung. Ia adalah bagian dari kultur yang membentuk kegarangan “mereka yang takut dilamun ombak, jangan berumah di tepi pantai”, kultur yang membentuk ketakziman dan penghayatan penuh saat menyanyikan baris-baris lagu kanak-kanak anggitan Ibu Soed:

Nenek moyangku s’orang pelaut

Gemar mengarungi samudra

Menerjang ombak tiada takut

Menempuh badai sudah biasa

Ombak, nenek moyang: bagian dari ingatan yang selalu bergerak menepi tapi tak pernah benar-benar pergi. Nenek moyang selalu terbayang sebagai sosok-sosok yang hidup pada zaman yang jauh, mereka yang dalam “kultur daratan” hanya bisa dikenang tanpa bisa benar-benar sepenuhnya dekat. Waktu, apa boleh buat, adalah jarak yang paling jauh dalam peta ingatan, ia mungkin mewariskan sesuatu dalam darah kita yang melahirkan totem dalam kultur daratan dan, dalam kasus Safar, melahirkan nyanyian, dan cerita.

Karena bagi mereka yang dilahirkan ombak seperti salah satu penulis dari Banggai ini, laut tak pernah jauh, ia selalu dekat. Ombak dan nenek moyang tak pernah benar-benar pergi dari peta baik pada zaman ketika Mpu Prapanca sedang menuliskan tera pada kisah masa lalunya sebagai Buntun Benggawi ataupun pada zaman ketika Safar memutuskan menjadi juru kisah.

Tak benar-benar pasti memang apakah selusin cerita dalam buku ini adalah buah dari perasaan dekat itu atau justru sebuah upaya untuk memastikannya: laut dalam kisah-kisah di dalam antologi ini bukan suara yang homogen, mereka mungkin memukau kita tetapi bukan dengan keseragaman nada ombak yang diringkus struktur, melainkan kerancakannya yang mengingatkan kita pada kondisi asali yang lahir jauh sebelum struktur itu sendiri ada.

Dalam kisah kelima misalnya, “Mengubur Kenangan”, laut menjadi simbol ibu yang sudah tidak mampu lagi meninabobokan salah satu anaknya, Atam. Ungkapan “angin laut di kampung nelayan itu bikin warga tertidur pulas, kecuali Atam.” (hal. 27) adalah satu gambaran yang mengingatkan pada gambaran ibu yang membelai, membacakan dongeng, meninabobokan anaknya. Yang menjadi soal kemudian adalah kenapa laut sebagai ibu bisa meninabobokan anak-anaknya yang lain (warga), tetapi tidak Atam?

Dalam teori Freud, ibu adalah objek cinta erotis pertama anak laki-laki, situasi yang kemudian dipandang oleh peradaban—diwakili manifestasinya oleh masyarakat, negara, beserta hukum, tradisi—sebagai menyalahi moral. Karena itulah cinta terhadap ibu kemudian berubah menjadi “cinta yang tujuannya diinhibisi”, jenis cinta yang sama yang mendasari hubungan dengan anggota keluarga yang lain dan hubungan persahabatan. Cinta erotis yang pada pria dewasa melibatkan penis, kemudian menjadi dasar pembentukan keluarga.

Pada titik ini tampak bahwa kenapa “angin laut” sebagai simbol “belaian ibu” sudah tak mampu membuai Atam adalah karena tuntutan moral membuatnya mengarahkan cinta erotisnya pada wanita lain dari luar: anak Pak Haji. Kemudian dikatakan bahwa “Atam pernah mimpi bahwa dua gigi depannya goyang”, mimpi yang dalam Psikoanalisis biasanya dirujukkan sebagai simbol ansietas kastrasi, suatu ketakutan yang ilahar timbul pada diri anak laki-laki bahwa penisnya akan dipotong oleh ayahnya sebagai rival cintanya. Dalam cerpen ini simbol sang ayah yang memancing munculnya ansietas itu pada Atam adalah Pak Haji yang menghalangi cinta erotis Atam sebagaimana digambarkan dalam kalimat “Aku sudah katakan padamu, tak usah mengejar anakku” (hal. 29).

Pun dalam kisah keenam, “Dua Perempuan untuk Satu Lelaki”, sisi misterius laut muncul, di mana ia menjadi menjaga jarak dan tak mau menjamin kesejahteraan sehingga “mencari ikan tidak semudah dulu” (hal. 32). Kesejahteraan yang makin jauh itu menggambarkan masa depan peradaban yang terancam. Karena itulah dalam cerpen ini kita menemukan pembahasan mengenai konsep anak.

Dalam Psikoanalisis, konsep bahwa “normalnya menikah itu lantas memiliki anak” adalah cara peradaban melestarikan keberlangsungannya, sama dengan konsep-konsep lain yang dilahirkannya seperti “menikah itu normal, tidak menikah itu kehidupan belum sempurna”, “suburkan pertemanan dan bukan persengketaan karena persengketaan itu buruk”, “peluklah agama dan hindari ateisme”. Dalam cerpen keenam ini, pada pernikahan pertamanya, di mana tergambar lanskap jaminan kesejahteraan yang kian tidak tentu itu, digambarkan si Aku tidak memiliki anak, kemudian dalam pernikahan keduanya ia memiliki anak. Setelahnya tak ada lagi digambarkan masalah, bahkan ketika aroma seksualitas yang “berdosa dalam agama kita” muncul menjelang akhir cerpen, peradaban tetap diam. Begitulah, peradaban adalah makhluk egois yang hanya peduli dirinya sendiri: sepanjang masa depannya aman, peradaban selalu diam, tentang apa pun.

Terakhir, dalam kisah kesembilan, “Mbo Ma Di Lao’”, laut adalah “Kakek” yang marah, mengirimkan ombak menyapu rumah-rumah nelayan, termasuk juga “Musala yang kokoh disangga oleh tiang utama dan sembilan puluh sembilan tiang kecil” (hal. 49). Di sini natur kembali dipertentangkan dengan kultur: laut-politik, spiritualitas-duniawi. Karena itu pulalah yang selamat dari kemarahan sang Kakek adalah Kakek Gila yang dikatakan “mana tahu dia tentang politik.” (hal. 48).

Tampak bahwa laut dalam narasi cerpen-cerpen yang diciptakan Safar Banggai dalam antologi ini menjadi titik tolak yang membawa narasi ke berbagai belokan lain. Keresahan-keresahan atas perlakuan manusia terhadap laut, terhadap para nelayan, pertentangan antara kultur asali dan kultur yang dicangkokkan oleh modernitas, adat dan cara hidup yang berbeda dari kultur daratan, kesemuanya dibingkai dalam narasi laut, di sebelah manapun laut itu sendiri diposisikan di dalamnya.

Maka narasi laut dalam cerpen-cerpen yang dimuat dalam antologi ini bukan semata narasi laut sebagai benda mati, melainkan juga sebagai narasi laut dan manusia sebagai makhluk hidup. Selain itu ada juga satu cerpen dalam kisah ini yang tak “mengandung” laut sama sekali, yakni kisah kesepuluh, “Pamit dari Rumah”, meski jika dihubungkan dengan cerpen-cerpen lain dalam antologi ini maka cerpen itu juga bisa dilihat sebagai gambaran yang dimungkinkan terjadi di “kampung laut” juga.

~

Safar adalah anak Banggai. Safar adalah anak laut. Tetapi anak yang ari-arinya tertanam di arus bawah laut itu di kemudian hari memutuskan untuk merantau ke tanah di mana satu-satunya hubungan dia dengan laut adalah berlayar di “kapal buku”: laut tak semata dia maknai secara literal melainkan metaforis. Laut, bagi Safar si perantau, tampaknya adalah apa yang disebut oleh baris-baris sajak Goenawan Mohamad sebagai “sebuah negeri yang ingin kita lepaskan tapi tak kunjung hilang”: bagian dari identitas yang melekat tak pernah lekang.

Maka tak mengherankan jika di sela-sela aktivitasnya—apapun makna kata ini bagi dia—dia menyempatkan diri menulis, dan dari sekian jenis tulisan yang ada dia memilih menulis cerita pendek, prosa, yang, berbeda dengan gaya puitik yang—mengutip Sartre—“menolak menggunakan bahasa atas nama kepraktisan dan efektivitas”, bertolak dari hasrat melakukan “pengungkapan apa yang rahasia”. Merunut ke belakang, laku menulis itu sendiri, dalam pandangan Freud, adalah tindakan yang analog dengan persetubuhan, diksi yang mengingatkan kita pada tindakan seorang pengembara melintasi laut, sang ibu.

Dengan demikian, Safar si perantau yang menulis, si nelayan yang “berhenti melaut”, pada dasarnya adalah seorang pelaut pula. Ia adalah penjelajah peta lautan dengan caranya sendiri: menulis 12 narasi tentang laut. Safar dengan 12 cerpennya ini adalah bukti bahwa dia anak laut yang melaut dengan kapal yang dia bangun sendiri, kapal yang berbeda dengan kapal nenek moyangnya tetapi pada dasarnya menyimbolkan hal yang sama, yakni keakraban dengan ombak yang mengalir dalam darah somatis, kenangan psikis akan kejayaan maritim yang bukan hanya “dilap-lap” melainkan diracik pada zaman yang berbeda, dengan cara yang tak sama.

Kita mungkin bisa mengkritik selusin cerpennya ini di sana-sini dalam kaitannya dengan teknik, mengecam penulisnya sebagai pelaut yang tergesa mengunjungi rumah bersalin di dermaga, tetapi bersama itu kita mungkin luput mensyukuri bahwa anak pertama—dan semoga bukan satu-satunya—yang dilahirkannya ini adalah selusin cerpen dan bukan selusin ikan ketambak. Prematur ataupun tidak, ketika bayi manusia sudah lahir maka kritik terhadap kondom bocor adalah kritik besar yang nihil guna, terutama ketika pada saat yang sama kita tahu bahwa bahkan lazim-lazim saja bolak-balik kita dirikan panggung megah terang benderang sebagai wadah melontarkan puji-pujian untuk bayi ikan ketambak hanya karena ada raksasa kapital yang berkepentingan mempromosikan kelebihan ikan yang bersangkutan meski pada dasarnya ia bukan ikan jenis baru dan merupakan ikan yang sungguh biasa-biasa saja.

Mensyukuri, menyambut. Maka alih-alih melulu mengkritik—dalam pengertian melulu meributkan nilai sastrawinya dengan tolok ukur teknik yang dasarnya melulu subjektif pula, suatu jenis kritik sastra purba yang sudah lama ditinggalkan para cendekia yang tak jemawa—dan mengecam, menggurui penulisnya dengan deret kata “seharusnya” dan semacamnya padahal perihal pembagian tugas kita sama tahu sangat jelas bahwa kita adalah pembaca-karya-ini dan dia adalah penulis-karya-ini, akan lebih baik jika kita menyelipkan tugas tambahan sederhana yang lahir dari tindak “membaca sungguhan”: mendedahkan apa yang apa boleh buat—dalam karya sastra—memang tak mungkin dijelaskan lugas oleh penulis tetapi rancak tersirat di dalamnya.

Dengan kata lain, bukan tugas kita mengharuskan Atam dalam “Mengubur Kenangan” bermimpi giginya goyang tiga dan bukan dua, bukan tugas kita mengharuskan Dewi dalam “Perempuan yang Membuang Jala” melahirkan ikan mujair dan bukan ikan ketambak, dan keharusan-keharusan lain semacamnya yang lebih sering menimbulkan tawa tanpa berpotensi memancing lahirnya inteligensia. Tugas kita, andaipun kita menginginkan memiliki tugas, adalah mendedahkan mengapa yang Atam mimpikan adalah gigi goyang dan bukan pinggul goyang, misalnya, atau kenapa Dewi melahirkan ikan dan bukan, taruhlah, kera putih…

Karena kritik teknik, kritik bentuk, kritik konten permukaan, kesemua itu akan lebih pada tempatnya—dan jelas lebih berguna—ketika disodorkan untuk karya “sebelum lahir”, bukan “setelah lahir”. Jika kita melulu berkilah bahwa kita tak memiliki kesempatan menyampaikan kritik semacam itu “sebelum lahir” dan mendapatkan kesempatan itu “setelah lahir”, maka tidakkah itu dengan sendirinya membuktikan bahwa kredibilitas kita sebagai “kritikus” belum dipandang tinggi oleh penulisnya untuk memberi sumbang saran pra-kelahiran? Mungkin dan semoga bukan itu alasannya, tetapi berpraduga demikian tak ada salahnya terutama karena praduga itu jelas tak akan membawa kita pada level jemawa yang lebih tinggi.

Karena toh pada beberapa cerpen dalam antologi ini kita akan menemukan kekhasan yang semoga bukan lahir dari ketidaksengajaan. Narasinya yang selalu lugas dan sesekali unik seperti misalnya “Atam, suaminya, pemalas. Lebih malas dari kemalasan umum.” (hal. 41), dialog yang lepas seperti penutup cerpen “Pamit dari Rumah” (hal. 54), ataupun ungkapan yang menggelitik seperti “’Tak mungkin suamiku melakukan itu. Kurang apa adegan ranjang kami. Semua ia hajar.” (hal. 44), dan banyak ungkapan yang kuat seperti paragraf pembuka “Nelayan itu Berhenti Melaut” (hal. 1) dan paragraf penutup “Kami Orang Bajo, Tanah Asal Jadi Dongeng” (hal. 59) adalah modal awal penulis yang mungkin tak luar biasa tapi juga terlalu tak adil untuk disepelekan.

~

Narasi tentang laut adalah narasi yang tak pernah berhenti memukau kita, dan negeri ini memiliki rekaman masa lalu yang panjang tentangnya. Satu bagian dari narasi itu terekam dengan sangat baik dalam puisi “Epos Laut” yang bait pembukanya dikutip di awal tulisan ini:

canga merayap terus

bertebar terus

ke timur menuju papua

ke barat ke pulau banggai

ke utara, ke teluk tomini dan sangihe

dan atas layar yang dibiriti mentera

mindanao dan sabah rebah tunduk

atas titah sultan hairun

Banggai. Puisi itu ditulis pada tahun 1961 oleh Idroes Ahmad Djoge Lagora O’Galelano yang memiliki nama pena Indonesia O’Galelano. Setengah abad lebih setelah sastrawan kelahiran Halmahera itu menulisnya, kita kembali mendapatkan kabar pulau tersebut melalui cerpen-cerpen yang ditulis oleh seorang penulis yang lahir pada peta yang diguratkan puisi itu. Teks-teks yang lahir dari tangannya mungkin tak semuanya berhasil memukau kita, tetapi diam-diam kita mungkin mesti bersyukur bahwa memukau ataupun tidak, narasi-narasi tentang laut tak pernah benar-benar lenyap dari kehidupan kita.

 

Resensi 5

Mengenal Peradaban Laut Melalui Sehimpun Kisah
Oleh Dewi Setya di Buruan.co, 16 Agustus 2019

Sebagai seorang yang tumbuh besar di daratan, laut adalah narasi yang asing bagi saya. Setiap kali mendengar semboyan “Nenek moyangku seorang pelaut, yang muncul dalam benak justru karakter kartun Popeye, Si Peniup Pipa Cangklong. Popeye si pelaut… tut-tuuut…

Ketika dewasa, pengetahuan mengenai laut pun sebatas dalam struktur wacana pemerintah. Misalnya, politik luar negeri Indonesia ‘poros maritim dunia’. Atau, Menteri Kelautan dan Perikanan yang gemar menenggelamkan kapal-kapal asing yang menerobos zona perairan Indonesia. Selain itu, laut pun tereduksi menjadi brosur iwisata dan proses pelelangan ihasil laut. Alam bahari dipromosikan sebagai sulur-sulur pelancongan, sementara biotanya dihitung-hitung sebagai nilai ekspor negara.

Bahwa laut menghimpun peradaban masyarakat, tidaklah hidup dalam kepala saya.

Dalam situasi itulah sehimpun kisah Nelayan itu Berhenti Melaut karya Safar Banggai seperti suara yang menyeruak dari kedalaman laut. Membaca cerpen demi cerpennya, saya terbawa pada pengalaman-pegalaman fisik si penulis, bukan sekadar hasil pelacakan literal. Apalagi, konon, si penulis memang lahir dan tumbuh di peradaban Banggai Laut, Sulawesi Tengah.

Safar Banggai berhasil mengelola berbagai topik, mulai dari perilaku tokoh sebagai orang pesisir dalam kehidupan sehari-hari hingga bentang sejarah laut yang hidup dalam tradisi. Namun, paling mencolok, atau setidaknya paling menarik bagi saya ialah soal kritik Safar terhadap isu sosial yang terjadi di masyarakatnya, atau paradigma umum yang bias terhadap masyarakatnya.

Cerpen “Makan Mayat Manusia” berkisah tentang seorang warga desa yang menggunakan potas ikan. Si warga mati karena ledakan potasnya sendiri. Alih-alih cerita soal azab Tuhan, cerpen ini mengkritik institusi pemerintah dengan pungkasan judul berita koran: Kepala Kepolisisan Kabupaten Ditangkap Polisi Karena Menjual Bahan Peledak Alias Pupuk (hal. 16). Kritik sosialnya bukan pada perkara masyarakat yang menggunakan peledak, melainkan skakmat untuk aparat yang justru membiarkan dan menyediakan barang tersebut.

Kritik soal pemerintah juga hadir dalam cerpen “Leppa”. Safar menuai sesal kepada aturan pemerintah yang memindahkan masyarakat dari Leppa—semacam rumah kapal—ke daratan. Konflik sosial yang terjadi akibat aturan tak luput disinggung.

Tak hanya pemerintah, peneliti pun menjadi bahan kritikan dalam cerpennya. Masih dalam cerpen yang sama, Safar mengingatkan para akademisi yang seringkali menjadikan subyek peneliti sebagai narasumber semata. “Belajarlah pada tradisi Leppa, Tuan” (hal. 36) adalah isyarat bahwa riset etnografi tak seharusnya sekadar didampingi penerjemah dan melontar tanya ina-inu saja. Bahwa etika riset etnografi seharusnya mencari jawaban melalui pengalaman meresap (immerse) ke dalam masyarakatnya, yakni dengan mempraktikkan laku masyarakat setempat. Sehingga, jawaban bisa diperoleh dari proses berpraktik menjadi masyarakat itu sendiri.

Safar pun menyindir tabiat peneliti yang bias, membawa pengetahuan-pengetahuan modernnya untuk mengamati pengetahuan lokal. Padahal, lensa saintifik yang modern tidak selalu mampu membaca yang tradisi.

Dalam cerpen “Manusa Ikan”, si peneliti dikisahkan tidak mendapat jawaban dari masyarakat lokal, maka, si peneliti berburu literatur di kampus-kampus besar. Cerpen pun diakhiri dengan perkataan narator “Dia menyimpulakn hasil penelitiannya di simposium beken. Dan, dia menyimpulkan bahwa orang laut adalah keturunan ikan”. Seolah-olah ingin menyindir sumber pengetahuan para akademisi yang sekadar asumsi, bukan berbasis pengetahuan masyarakat asli. Sebuah gambaran mitos akademik yang umum.

Namun, tidak seluruhnya cerpen-cerpen Safar selalu diketahui juntrungannya secara gamblang. Di satu-dua cerpen, selaku pembaca saya dibuat menerka-nerka dan kadang mengajukan keberatan.

Pada cerita berjudul “Nelayan itu Berhenti Melaut”—yang menjadi pembuka sekaligus judul kumcer—Safar mencoba memaparkan isu keagamaan di kalangan pesisir. Seorang pemuda nelayan bernama Atam diletakkan sebagai tokoh sudut pandang cerpen. Alkisah, Atam naksir putri Pak Haji, bernama Siti. Siti terpelajar dan taat beribadah. Atam buruk rupa dan melarat. Atam ditolak mentah-mentah oleh Pak Haji tatkala melamar Siti. Setelah mutung beberapa hari, pergilah Atam ke rumah seorang kawan. Cerpen ditutup dengan pertanyaan Atam kepada sang kawan, “Bagaimana cara menjadi Muslim?” (Hal. 9).

Mungkin, Atam hanya punya satu pilihan untuk menaikkan sedikit derajat dirinya di mata Pak Haji, yaitu menjadi muslim sejati. Seandainya premisnya memang demikian, hal yang sedikit mengganggu adalah sebuah kalimat “Selesai sholat Asar, Atam menyiapkan perlengkapan melaut.” (Hal. 4). Itu mencerminkan bahwa Atam pun telah taat beragama, juga meruntuhkan asumsi pembaca yang seperti sebelumnya.

Sebagai pembuka, cerpen ini membuat saya kesal, bukanya terpana. Saya merasa Safar membangun narasi yang agak membingungkan dan sulit ditangkap fokusnya.

Sementara di cerpen “Kabar dari Kampung Lede” saya malah ingin protes pada satu narasinya. Cerpen itu berkisah tentang dua lelaki yang semasa kuliah bersebrangan garis ideologi, tetapi direkatkan oleh sebuah hobi diskusi. Si narator bertutur “Saat kami masuk kuliah, ia masuk di organisasi merah dan aku di organisasi hijau. Ideologi dua organisasi ini jauh berbeda. Mengapa kami bersahabat? Sebab ia suka diskusi, aku juga. Dialektika mempererat persahabatan kami.” (hal. 22). Usai kalimat itu, si narator menambahkan “Ideologi boleh beda, tapi kultur kampung tidak boleh ditinggalkan.” (hal. 22)

Seandainya isu primordial lebih diutamakan Safar, bukan “dialektika yang mempererat persahabatan kami”, melainkan “kami sama-sama orang Timur, itulah yang mempererat persahabatan kami”, mungkin akan lebih pas.

Dengan segala muatan kritik budaya dan sosial, sayangnya cerpen ini pun kurang terlalu asyik dalam gaya tutur berbahasa. Tampak hampir terjebak pada bahasa opini ilmiah atau populer yang membedah realitas sosial. Apalagi bagi penikmat metafora senja dan segala luasan cakrawala yang ulala, mungkin akan sedikit kecewa terhadap daya ungkapnya.

Namun, jika pembaca mempertimbangkan konten realitas sosial dan budaya—khususnya dari perspektif orang laut—kekurangan itu tidak terlalu berarti. Gagasan yang disampaikan melalui alur dan penokohannya punya nilai kekayaan tersendiri. Kekayaan memori sejak kecil tentang akar peradabannya.

Buku tipis ini cukup untuk menjadi salam perkenalan dari Safar Banggai dalam dunia sastra, tentu saja sebagai penulis, bukan nelayan.

 

Resensi 6

Fragmen Ingatan Bahari
Oleh Udji Kayang di Ideide.id, 24 September 2019

Pada sesi terakhir diskusi buku Cuaca Buruk Sebuah Buku Puisi (2018) di Balai Soedjatmoko, Ibe S. Palogai (penulis buku itu), menyampaikan pernyataan yang kurang lebih demikian, “Barangkali, orang Makassar menjadi pelaut bukan serta-merta karena laut adalah kehidupan mereka, melainkan keengganan bertahan di daratan yang penuh pertumpahan darah.” Terkait pernyataan itu, ada gambaran peristiwa kecil tetapi patut dipikirkan pada pengantar buku puisi Ibe, “… saya menyaksikan perkelahian dua lelaki. Perkaranya sederhana, tubuh mereka tanpa sengaja bersentuhan. Mata mereka saling tatap. Salah seorang kemudian maju melepas badik yang ia sisipkan di pinggang. Saya tidak tahu kelanjutannya. Orang-orang dewasa berkerumun dan menutup pandangan saya. Apa yang membuat mereka tergila-gila pada darah?”

Misalkan pernyataan Ibe benar, dengan demikian orang Makassar menjadi pelaut bukan karena mereka punya—meminjam frasa dalam cerpen H.B. Jassin—“darah laut”, melainkan sekadar pelarian dari daratan yang sengit dan mengerikan. Memang, kajian akademis diperlukan untuk membuktikan motif melaut orang Makassar secara lebih akurat. Maka, pernyataan Ibe mungkin saja salah. Namun, yang pasti benar, sekalipun masyhur sebagai pelaut, orang Makassar punya kampung halaman di darat. Apakah ada orang laut yang benar-benar berkampung halaman di laut? Pertanyaan itu coba dijawab Safar Banggai dalam buku kumpulan cerpennya, Nelayan Itu Berhenti Melaut (2019).

Nelayan Itu Berhenti Melaut tipis, hanya 70 halaman dan berisi 12 cerpen, yang beberapa bahkan cukup pendek untuk ukuran cerpen—misalnya cerpen “Ia Tak Sadar Air Matanya Jatuh”. Satu cerpen yang barangkali menjelaskan latar kultural Nelayan Itu Berhenti Melaut adalah “Kami Orang Bajo, Tanah Asal Jadi Dongeng”. Jika sekujur buku Safar boleh dipadatkan dalam satu cerpen saja, tentu cerpen itulah yang paling representatif. Pada bagian akhir cerpen “Kami Orang Bajo, Tanah Asal Jadi Dongeng”, Safar menulis pernyataan penting, “Orang Makassar dan Mandar memang pelaut, tapi mereka punya daratan asal. Orang Minang dan Jawa, memang perantau, tapi mereka punya tanah kembali. Tapi, kami orang Bajo, tanah asal menjadi dongeng.”

Safar, sebagai orang Bajo, tetap tak mau berlagak orang Bajo benar-benar berasal dari laut. Orang Bajo adalah representasi paling tepat bagi kebudayaan bahari, karena mereka bermukim di laut, mencari penghidupan di laut, bahkan mati pun di laut. Safar, dan orang-orang Bajo yang hari ini mulai mengalami peradaban darat, masih mungkin bercerita pada generasi mendatang bahwa kampung halaman mereka adalah laut. Tentu, Safar benar. Namun, jauh pada masa silam, barangkali ada daratan yang ditinggalkan, sebelum orang Bajo memulai peradaban laut mereka. Daratan itu tidak diketahui pasti. Maka, ketimbang menduga-duga dari daratan mana orang Bajo berasal, atau berlagak mereka diturunkan Tuhan di laut, Safar memilih “dongeng” sebagai kampung halaman orang Bajo.

Pilihan Safar mengingatkan pada revolusi kognitif Homo sapiens. Dongeng—atau dalam istilah Yuval Noah Harari: fiksi—adalah hasil revolusi kognitif itu, yang lantas menjadikan Homo sapiens mampu membangun peradaban manusia seperti sekarang, alih-alih punah karena seleksi alam. Dalam bukunya, Sapiens (2017), Yuval menulis, “… fiksi telah memungkinkan kita bukan hanya mengkhayalkan ini-itu, melainkan juga melakukannya secara bersama-sama. Kita dapat merajut mitos-mitos bersama seperti kisah penciptaan dunia dalam kitab suci, mitos-mitos Kala Mimpi orang-orang Aborigin Australia, dan mitos-mitos nasionalis negara-negara modern. Mitos-mitos semacam itu memberi Sapiens kemampuan yang tak pernah ada sebelumnya untuk bekerja sama secara luwes dan beramai-ramai.”

Fiksi melahirkan agama, suku, dan komunitas terbayang manusia modern: negara. Fiksi jugalah yang membuat orang-orang laut di Sulawesi, Kalimantan, Nusa Tenggara, bahkan Filipina, Malaysia, dan Brunei, membayangkan identitas bersama sebagai orang Bajo. Kisah seorang putri dari Kerajaan Melayu yang memutuskan minggat berlayar bersama kekasihnya—seorang nelayan jelata—ialah dongeng yang diyakini orang Bajo menjelaskan asal-usul mereka. Kata tokoh Safar dalam cerpennya, “… cerita hilangnya Sang Putri telah menjadi legenda dan jika dosen sejarahmu masih mempertanyakan asal-usul suku kita, ceritakanlah apa yang sudah ayah ceritakan kepadamu pada malam ini.”

Selebihnya, selain cerpen penting “Kami Orang Bajo, Tanah Asal Jadi Dongeng”, Nelayan Itu Berhenti Melaut melimpah fragmen-fragmen ingatan Safar sebagai seorang yang—kendati kini berperistiwa di darat, termasuk untuk menulis cerpen-cerpennya—lahir dan dibesarkan di laut. Membaca Nelayan Itu Berhenti Melaut seperti mendengar seorang perantau yang menceritakan peristiwa-peristiwa kecil di kampung halamannya dengan penuh kerinduan. Karenanya, pembaca tak perlu terlalu berharap Safar menulis dengan teknik ampuh, plot mengejutkan, atau diksi memukau bak pengarang-pengarang mutakhir yang penuh gairah. Safar, melalui 12 cerpennya, terasa sekadar ingin bercerita, sekadar ingin dibaca.

Ada satu pertanyaan setelah mengakrabi cerpen-cerpen Safar dalam Nelayan Itu Berhenti Melaut. Pada Oktober 1980, Sir Keith Shann berkunjung ke Indonesia dalam rangka Program Pertukaran Penceramah. Tiga dari beberapa ceramah yang disampaikan bekas Duta Besar Australia untuk Filipina, Indonesia, dan Jepang itu dibukukan lalu diterbitkan Kantor Penerangan Australia pada 1981 dengan judul Tetangga. Pada salah satu teks ceramah Shann, ada satu kutipan menarik, “…yang pertama kali menemukan Australia? Dalam segala kemungkinan pernyataan ini mungkin berada pada pelaut-pelaut suatu bangsa yang sekarang dikenal sebagai Indonesia.” Siapakah para pelaut yang Shann maksud?