Mata Kaki Aktivis

Tiap orang memiliki jejak sejarah masing-masing. Heran saja jika ada penulis kerap mengeluh tak punya ide saat menulis, padahal kita tahu manusia adalah sumber dari segala sumber.

Tak perlu menulis perihal “besar” dan akan menjadi abadi seperti kitab suci. Cukup tulis tentang di sekitar kita atau ikuti pesan banyak penulis: “Tulislah apa yang kamu ketahui”. Sesederhana itu.

Biasanya yang punya keinginan besar itu adalah penulis pemula. Pada akhirnya, keinginan tersebut mangkrak dalam angan. Tak dimulai, apalagi diakhiri. Dalam pikiran sudah banyak macam hasrat bahwa buku yang akan dia tulis mengguncang jagat kepenulisan.

Mata Kaki Kelilipan menampar para penulis seperti di atas, pun saya. Saleh Abdullah selaku penulis buku ini membentang kisah-kisah yang dia dapatkan secara empirik maupun dari buku-buku. Kisah dari ujung barat hingga timur Indonesia dia sapu bersih. Fragmen-fragmen yang tercecer dia susun apik menjadi esai naratif utuh.

Saya yang lahir tahun 90-an dan sadar di era milenium, buta akan Orde Baru. Saya tahu sejarah otoriter Soeharto dari beberapa sumber bacaan. Kalau tidak karena itu, gelaplah pengetahuan saya.

Banyak aktivis dipenjara di bawah cangkang Orde Baru. Aktivis yang dipenjara tersebut ditangkap karena bergerak membangun kekuatan petani, buruh, dan kekuatan massa lainnya.

Sudah menjadi pengetahuan umum, aktivis saat itu ada yang hilang dan belum ditemukan hingga sekarang. Dan, aktivis yang dipenjara, keluar dengan gegap gempita dan sekarang mereka banyak ambil posisi di berbagai jabatan politik.

Bahkan, ada yang nirsejarah. Budiman Sudjatmiko, misalnya.

Pada 21 Januari 2019, Budiman membuat tweet. Saya kutip secara utuh tweet­-nya:

“Jadi Golput pd pemilu2 palsu di era rezim otoriter itu sikap merdeka. Mengampanyekannya adlh sikap pemenang. Jd Golput di era denokrasi itu hak. Tp mengampanyekan Golput saat calon Progresif sdg melawan calon Konservatif Radikal/Rasis itu sikap pecundang.”

Sikap pecundang dari mana? Orang memilih Golput dan mengampanyekannya adalah sikap idealisme. Mereka menjaga kewarasan berpikir atas kedua calon presiden yang tidak menghadirkan tindakan serius atas masalah masalalu.

Pun Golput tidak melanggar konstitusi. Seandainya ada “Kertas Kosong” pada pemilihan calon presiden 2019, saya meyakini “Kertas Kosong” menang. Seperti yang terjadi pada Pilkada 2018 di Kota Makassar.

Pada 28 Mei 1971, Arief Budiman, Syahrir, Adnan Buyung Nasution, Imam Waluyo, Yusuf AR, Marsillam Simanjuntak, Julius Usman, dan Asmara Nababan mendeklarasikan berdirinya Golongan Putih (Golput). Mereka menolak ikut terlibat dalam Pemilu pertama Orde Baru pada tahun itu. Mereka adalah orang-orang yang menjaga idealisme dan demokrasi (hlm. 54).

Alasan mereka mendeklarasikan Golput, sebab Soeharto menerapkan strategi fusi atau peleburan partai. Ada belasan partai yang dileburkan dan tertinggal tiga partai saja: Golongan Karya, PPP, dan PDI. “Tak perlu diragukan, tujuan strategi fusi partai itu, di antaranya, adalah untuk mengeliminasi sikap oposisional dari partai-partai yang ada ketika itu, dan tentu saja juga untuk memudahkan Soeharto dalam mengontrol” (hlm. 51).

Bila Pemilu 2019 mayoritas rakyat Indonesia memilih Golput, jangan kaget. Sebab, rakyat disodorkan calon presiden itu-itu saja. Ini karena presidential threshold, partai politik harus mengantongi 20 persen kursi atau 25 persen suara sah nasional pada Pemilu 2014 agar bisa mengusung pasangan capres dan cawapres. Golput harga mati. Begitulah.

Pemilihan calon presiden Indonesia banyak diwarnai dengan isu rasialisme. Narasi seperti: orang Cina banyak menyerbu negeri ini; negeri ini tak akan dipimpin oleh bukan orang Jawa; dan penganut nonmuslim tak layak menduduki kursi kepresidenan sangat familer di media massa dan diskusi warung kopi.

Tindakan rasialisme tersebut juga menyebar di kalangan bawah, persekusi merajalela. Orang yang waras akal pikirannya pasti menolak isu dan tindakan demikian. Bila kita kembali tengok sejarah bangsa ini, pada isi Sumpah Pemuda, semestinya kita sadar bahwa persekusi tidak harus hadir dalam percakapan masyarakat kita.

Di lingkarangan teman-teman saya untuk menyebut “dasar orang timur” atau “dasar Cina” atau “sialan! Jawamu kental banget” atau “logat timurmu jelek banget” adalah sebatas candaan. Tidak perlu emosi dan menjadi suluh pertengkaran.

Diksi itu akan berbahaya apabila dikeluarkan ke ruang publik, apalagi bila disambut dan dikaitkan dengan politik. Mengapa ruang publik kita masih saja tak menerima perbedaan demikian?! Saya hitam dan Anda putih. Selesai.

Pada esai “Mari Tertawakan Rasisme yang Kadung Terlembaga”, Saleh memberitahu kepada kita, rasialisme harus ditertawakan, bukan dijadikan alasan saling memusuhi satu sama lain.

“Kita mungkin bisa lebih mudah memaafkan caci maki, tetapi tetap akan sulit melupakannya. Humor adalah salah satu media yang kemungkinan besar, karena sudah sering terbukti, menjadi cara aman untuk mengekspresikan hal-hal terpendam” (hlm. 143).

Banyak sejarah, polemik, dan cerita sehari-hari yang diangkat oleh Saleh. Dia mampu memberikan alternatif perspektif kepada kita perihal isu-isu terkini. Dia merespons isu, tapi selalu mengaitkan dengan isu masalalu.

Buku pertamanya ini terbagi menjadi empat bab: “Mata Kaki Kelilipan”, “Pancasila & Archimedes”, “Perjalanan”, dan “I Stand With Gondrong”. Bab terakhir, menurut saya, tidak terfokus pada tema tertentu, pun bab “Mata Kaki Kelilipan”.

Tema yang terfokus hanya dua bab: “Pancasila & Archimedes” yang diisi dengan esai-esai politik lalu dan kini, sedangkan, “Perjalanan” mengisahkan turba si penulis ke berbagai daerah pelosok di Indonesia, khususnya Papua.

Saleh Abdullah adalah aktivis senior di Indonesian Society for Social Transformation (INSIST). Dia kerap mengawal pendidikan masyarakat di Indonesia Timur.

Dia mengisahkan dengan rapi kondisi masyarakat Papua, tanpa lupa unsur kejenakaan. Dia menghadirkan orang-orang Timur tidak sebagai objek, tapi subjek. Sehingga—menurut saya—pembaca orang Timur tidak merasa “dieksploitasi”.

Kekonsistenan Saleh Abdullah mengawal pendidikan masyarakat di Indonesia Timur, membuat dia menjadi orang Timur yang sangat Timur.

Pada turba itu, Saleh mendapat diktum kuat dari tetuah Mandar, Haji Ando.
“… kami bisa melupakan kematian para leluhur, tapi tak akan bisa melupakan warisan leluhur”.

Ingat kasus tanah di berbagai daerah?

Begitulah.

Revius, 04 April 2019