Ia Ingin Mengubah Dunia Lewat Sastra

/1/

Pada malam itu, lebih tepatnya, saat azan magrib berkumandang, saya bertemu dua pria yang mengaku berasal dari Sulawesi. Saya memperkirakan mereka berumur sekitar 22–25 tahun. Kalau saya salah, tak apa, kan, saya hanya menebak.

Pria yang pertama mempunyai tinggi badan sekitar 170-an cm dan pria kedua di bawah dari itu. Kedua-duanya punya postur tubuh yang sesuai dengan tubuhnya, tidak gemuk pun tidak kurus. Mereka berdua berwajah berbeda dibandingkan dengan manusia yang kerap datang di komunitas ini. Sepertinya, mereka kali pertama datang ke sini.

Pria pertama wajahnya seperti wajah Portugis campur Hindia. Saya familier dengan wajah seperti itu karena saya banyak temukan orang-orang Portugis dari arsip-arsip koran tempo dulu yang saya arsipkan di lantai dua di rumah saya.

Lalu, pria kedua berwajah Arab campur Hindia. Karakter wajah seperti itu tidak asing lagi bagi kita di negeri ini. Gesekan pribumi atau tidak, orang-orang Arab jelas sudah lama menghuni bumi nusantara.

Saat itu, saya duduk santai di pelataran komunitas baca yang saya dirikan. Di pelataran, saya membuka warung kopi mini. Teman lama saya yang menjadi barista. Untuk hal bisnis dan keterampilan kopi, saya akui saya memang fakir ilmu tentang itu.

Meja kami hanya tiga buah, meja bundar. Saya terobsesi dengan meja bundar karena mata pelajaran sejarah di SMA terekam di memori saya, yaitu Konferensi Meja Bundar. Begitu pula meja-meja di dalam komunitas, semua meja mundar.

Dua pria itu datang menggunakan sepeda motor metik. Mereka baru satu minggu tinggal di Jogja. Pria pertama beralasan, datang ke Jogja hanya untuk bertemu saya. Alasan itu kerap saya dengar dari mulut pembaca-pembaca buku saya yang gagal itu. Katanya, buku saya yang gagal itu ia baca saat duduk kelas 2 SMA. Ia baca dengan khusyuk sebab mengunggah semangat ia terhadap dunia Islam di Indonesia. Buku itu pemberian dari seniornya di organisasi pelajar Islam saat satu minggu setelah perkaderan. Waktu yang tepat memang bila membaca buku itu setelah perkaderan.

Akan tetapi, saya tidak terlalu yakin ia membaca buku saya itu. Sebab, bagi orang muslim yang taat akan mencemooh ceritanya. Cerita yang tidak islami; buku yang menyesatkan; buku yang akan merusak iman dan takwa. Saya hanya percaya, ia pasti mendengar cerita senior-seniornya yang telah membaca buku itu. Saya pun tahu kebiasaan membaca di organisasi Islam di Indonesia begitu buruk. Kebanyakan mereka mengutip kalimat dari buku yang mereka dengar dari ucapan seniornya. Si senior itu mendengar dari ucapan seniornya lagi, dan seterusnya.

Ia terus bicara tanpa jeda. Saya melihat ada semangat yang tidak biasa pada dirinya. Semangat belajar atau semangat melakukan apa yang ia cintai. Istilah zaman sekarang disebut passion. Dan, saya tidak melihat ada semangat seperti itu dalam diri temannya yang berwajah Arab. Tidak ada. Ketika pria pertama berbicara buku apa yang ia baca kala SMA, pria kedua hanya plangak-plongok. Ia mau ngomong sesuatu tentang buku, tetapi seperti tidak mampu ia ungkapkan dengan lisan nan tangkas seperti temannya. Saya terus memerhatikan pembicaraan si pria pertama, sesekali menengok raut wajah temannya yang lesu.

“Sebenarnya, kalian berdua dari mana, sih?”Akhirnya, saya bisa memotong pembicaraan dari si pria pertama. “Kami dari Sulawesi Timur, Mbak,”langsung dijawab oleh si pria kedua. Dalam hati saya, tidak ada tuh wilayah Sulawesi Timur. Saya penasaran, saya ambil gawai dari tas, saya akses aplikasi Maps. Saya minta kepada mereka berdua untuk menunjukkan di mana posisi daerah mereka berdua.

Si pria kedua bergegas menunjukkan daerah mereka. Saya tidak tahu daerah itu, yang saya tahu wilayahnya bertentanggga dengan Maluku Utara. Dan, wilayah itu masuk di Sulawesi Tengah, kenapa mereka tidak menyebut dari Sulawesi Tengah saja. Saya tidak menanyakan lebih perihal itu, saya terima apa saja yang mereka katakan. Toh, tidak bermanfaat kepada saya. Pun sumber-sumber tulisan saya tidak menyasar di daerah sana. Saya menulis tentang Jawa, mentok paling jauh, saya menulis tentang Sumatra.

Si pria pertama mengulangi kekagumannya terhadap novel saya. Saya tidak nyaman mendengar kekaguman itu. Saya lebih nyaman dikritik habis-habisan oleh kritikus sastra Indonesia daripada mendengar kekaguman macam itu di hadapan saya langsung. Walaupun saya tahu kritik bikin telinga merah dan otak kocar-kacir, tetapi saya punya semangat untuk menulis lebih baik, sedangkan bahaya dari pujian bikin kita terlena dan dibuat nyaman. Duh, berbahaya bagi saya sebagai penulis.

“Kalian tahu dari siapa komunitas ini?”Saya potong lagi pembicaraan si pria pertama. Kali ini yang jawab adalah si pria pertama. Menurutnya, ia temukan di Twitter di akun asli komunitas kami. Saya angguk-angguk saja mendengar jawabannya. Dan, saya lanjut bertanya kepada si pria kedua, “Apa kamu sudah pernah membaca novel-novel saya?”Jawabnya, tidak pernah sama sekali. Pantasan saja ia tidak terlalu semangat berbicara seperti temannya tadi.

Saya melihat teman saya yang barista sesekali melirik ke arah saya. Saya tahu ia mendengar obrolan saya dan dua anak muda yang duduk di hadapan saya. Teman saya sudah lama ditinggal suaminya. Ia menafkahi dirinya dari hasil jualan kopi. Saya tidak mengambil keuntungan. Saya meminta kepadanya agar dibagi tiga hasilnya: untuk komunitas, untuk dirinya, dan untuk modal usaha. Itu saja.

Malam ini, pengunjung hanya ada dua anak muda dari Sulawesi ini. Mereka malahan tidak memesan kopi. Alasan mereka, tidak punya uang. Saya pun tidak menawarkan kopi kepada mereka. Jangan-jangan mereka tidak punya kebiasaan minum kopi. Saya juga dulu saat awal-awal tinggal di Jogja, saya tidak punya kesukaan pada kopi, tetapi karena saya kerap nongkrong dengan sesama penulis perempuan lainnya, akhirnya saya menyukai kopi. Kopi akan lebih enak apabila diikuti dengan rokok kretek. Di Jogja masin nyaman bagi perempuan perokok. Di beberapa kota besar, perempuan perokok dianggap sebagai pelacur, padahal laki-laki perokok tidak ada bedanya dengan perempuan perokok. Saya sangat tidak suka dengan pemikiran orang-orang yang membenci perempuan perokok, seolah mereka hakim bagi orang lain. Perihal perempuan perokok ini sudah saya tulis dan dimuat di koran nasional 4 tahun lalu. Dan, menjadi tulisan terakhir saya di koran tersebut. Setelah itu, saya banyak menulis esai di koran daerah, khusus koran Jawa. Redakturnya terbuka terhadap pemikiran terbuka.

Saya menjadi lupa kalau ada dua anak muda di hadapan saya. Si pria pertama mengisap rokok Class Mild dengan tergesa-gesa, sedang pria kedua tidak merokok.

Saat saya mau beranjak masuk ke dalam komunitas, si pria pertama langsung menahan saya dan memberi tahu bahwa mereka akan balik ke kos mereka. Dan, ia meminta izin kepada saya kalau ia mau belajar menulis novel. Mohon dituntun, katanya.

Saya tidak punya jawaban lain, selain ia mesti banyak baca buku novel bila ingin menulis novel. Tidak ada cara lain selain banyak membaca, kemudian latihan menulis.

Kepala mengangguk-angguk. Semoga ia tangkap apa yang saya katakan tadi, tidak asal iya iya. Sebab, kebanyakan dari penulis pemula, hanya panas-panas tai ayam-ayam. Semangat pada awal, habis itu menyerah.

 

/2/

Saya belum pergi ke kamar tidur. Sampai di rumah, dari komunitas, saya langsung ke lantai dua, tempat kerja saya. Arsip-arsip koran dan buku-buku tidak tersusun rapi. Saya tidak punya waktu untuk beres-beres. Saya biarkan begitu saja. Saya menganggap mereka cukup membuang waktu saya. Saya mesti banyak baca dan menulis. Saya menyalakan komputer. Saat komputer sedang berproses, tiba-tiba bayangan wajah Si Pria berwajah Portugis tampak dalam imajinasi saya. Saya tidak tahu mengapa pria itu yang datang, bukan si pria berwajah Arab. Dan, mengapa saya tidak menanyakan nama mereka berdua, setidaknya nama si pria pertama. Saya lupa menanyakan itu. Mungkin saya sudah muak dengan ocehannya. Baru pertama kali ketemu, ia sudah banyak bacot. Mungkin ia terlalu bersemangat karena bertemu saya, yang ia anggap sebagai idolanya. Namun, saya tidak punya ketertarikan mendengar bualannya itu. Dan, kenapa sekarang ia hadir dalam bayangan saya? Saya tidak tahu. Saya berusaha untuk menghilangkan wajahnya dengan konsentrasi pada layar komputer.

Ada file tulisan yang mesti saya edit. Tulisan yang sedang ditunggu oleh redaktur koran Jawa di halaman 10. Si redaktur meminta saya untuk menanggapi festival-festival sastra di Indonesia yang sedang marak. Dan, substansi dari sastra itu sudah hilang. Para pembicara dan pengunjung banyak take picture dan membagikan foto-foto mereka di media sosial. Permintaan itu saya sanggupi dan malam ini harus saya kirim. Saat saya mendengar pembicaraan dua anak muda di komunitas, redaktur sudah mengingatkan saya untuk mengirim esai saya paling lambat pukul 10 malam. Dan, sekarang baru sudah pukul 9.30, masih ada waktu 30 menit untuk menyelesaikannya.

Bukan hal mudah mengkritik orang-orang yang terlibat dalam ajang sastra demikian. Selain mereka terkenal di media sosial, mereka mempunyai kebiasaan bergerombolan. Satu orang saja yang dikritik, akan bermunculan konco-konco membantunya. Sedangkan, saya tidak punya kebiasaan bergerombolan itu. Menulis adalah kerja privat dan dunia kesendirian. Mau bergerombolan, silakan berpartai politik. Di situ banyak bandit-bandit yang suka kebodohan. Di dunia sastra, bukan dunia sosialita, yang seperti para selebriti yang suka mengumbar-umbar lipstik baru di akun media sosial. Ini sastra, yang harus dikedepankan adalah teks, bukan foto-foto bersama buku yang tak jelas maksudnya. Buku itu pun adalah buku sampah yang tak bernilai sastra.

Mungkin seperti itu secara verbatimnya apa yang saya tulis dan ingin saya sampaikan kepada khalayak. Saya tidak mau kompromi masalah beginian. Sudah terlalu muak saya melihat sastra Indonesia yang tidak punya perkembangan. Sebenarnya, ini bukan pekerjaan saya, saya seorang novelis, yang mesti mengerjakan hal demikian adalah para kritikus dan para sarjana sastra atau dosen-dosen sastra Indonesia di kampus-kampus. Di mana mereka sekarang?

Saya telah menyelesaikan editan tulisan. Saya nyalakan internet dan masuk email, kirim ke alamat email pribadi, email si redaktur. Tak berapa lama kemudian, si redaktur membalas dan mengucapkan terima kasih. Honor cair setelah satu minggu kemudian. Begitu ia mengakhiri pesannya. Saya tidak membalasnya lagi. Saya kira sudah cukup jelas. Saya tunggu koran besok, apa redaktur tengil itu memuatnya atau tidak.

Saya matikan komputer. Dan, bayangan pria berwajah Portugis itu muncul lagi. Saya hiraukan. Saya mengambil buku novel Moby Dick karya Herman Mervile. Novel ini termasuk buku yang mesti dibaca sebelum kita meninggal. Apa pula maksud dari daftar-daftar demikian? Mungkin karena bagus atau karena novel itu banyak memengaruhi orang. Entahlah. Intinya, saya suka novel ini. Ia sudah mengunggah saya di kalimat pertama, call me Ishmael. Satu kalimat dengan tiga kata. Sungguh jauh dengan pembuka novel-novel Tanah Air, yang banyak menyebut senja, bulan, embun, dan macam planet di luar angkasa sana.

 

/3/

Pukul 10 malam. Ada yang mengetuk pintu. Saya malas beranjak dari kursi. Namun, suara ketukan itu semakin lama semakin keras. Lagi, saya malas beranjak dari kursi. Suara ketukan itu mengganggu telinga saya. Dengan terpaksa, saya taruh buku yang sedang saya baca. Saya tinggalkan kursi kayu dan melangkah menuju tangga turun. Saya menuju arah pintu. Saat saya membuka pintu, tak ada satu pun manusia di depan pintu bahkan depan rumah.

Lampu temaram yang tak mampu menerangi semua bunga-bunga di pekarangan rumah dan jalan gang begitu kosong, saya bertanya pada diri sendiri, siapa yang datang tadi dan mengetuk pintu cukup keras itu?

Saya tidak yakin bila suara itu dari rumah sebelah atau rumah yang persis di depan rumah saya ini. Saya tidak yakin. Suara ketukan keras itu hadir di sini, di rumah ini.

Saya tidak menunggu lama, saya menutup kembali daun pintu. Dan, kembali ke lantai atas, melanjutkan bacaan saya.

Mungkin ada orang iseng yang mengisengi perempuan seperti saya di rumah sepi ini. Namun, siapa? Saya tidak tahu.

Ketika membuka buku lagi, suara ketukan keras kembali hadir. Namun, saya tidak memedulikannya. Orang itu, sekali lagi, orang iseng, yang tidak punya kerjaan pada malam hari. Saya terus melanjutkan bacaan. Lambat laun, suara ketukan hilang begitu saja. Saya sudah katakan tadi, orang itu hanya iseng.

Saya mencoba memaksa diri melanjutkan membaca. Saya menargetkan malam ini mesti 50 halaman yang saya baca. Namun, kelopak mata saya sudah tidak berkompromi. Dengan terpaksa, saya tutup buku dan pergi ke kamar tidur di lantai bawah. Saya matikan lampu dan turun lagi.

Rumah ini terlalu sepi dan saya sudah biasa dengan kesepian. Saya ingin mempekerjakan orang untuk mengurusi hal-hal yang tidak mampu saya urusi, tetapi akan ada masalah baru bila ada satu manusia hadir di rumah ini. Selain saya mengeluarkan uang, saya mesti berbaik hati pada manusia baru. Dan, itu rumit bagi saya. Bukan apa, lebih baik saya urusi diri sendiri dengan cara saya sendiri. Biarlah rumah ini sepi dan berantakan, toh teman-teman saya, para penulis yang banyak ingin mengubah dunia lewat tulisan, tidak pernah ke sini. Bila pengen ketemu, saya meminta mereka bertemu di komunitas, tidak di rumah ini. Rumah adalah perihal privat.

Saya masuk kamar tidur, saya tanggalkan semua pakaian, kecuali celana dalam dan BH. Tali BH saya lepas, tetapi katupnya tetap menempel di payudara. Banyak dokter menyarankan seperti itu bila kita akan tidur, sebab bila tidak, akan berakibat kanker payudara. Dan, ritual macam itu sudah saya lakukan sekitar 10 tahun belakang.

Saya rebahkan tubuh di tempat tidur dan suara ketukan pintu muncul lagi. Duh! Saya melihat jam dinding, sudah pukul 11. Siapa lagi yang iseng pada jam begini?! Saya tidak tahu.

Saya tidak bergerak sama sekali, apalagi mau membukakan pintu dengan kondisi saya yang semi telanjang sekarang. Tidak. Saya malas memakai pakaian lagi. Saya biarkan suara ketukan itu terus menggema di sudut-sudut ruang, biarkan saja tetangga-tetangga terusik dengan suara ketukan itu. Saya pengin tidur. Saya tidak mau diganggu. Sekarang adalah waktu saya untuk tidur, tidak untuk melayani manusia pengganguran yang datang ke rumah sepi ini.

Saya biarkan tukang ketuk itu dan saya mengambil selimut dan pejamkan mata. Besok, masih ada buku yang mesti dibaca.

Pagi. Saya bangun. Saya tenangkan diri selama sekitar setengah jam di kasur yang sama. Malas masih menyelimuti tubuh saya. Dingin pagi di pinggiran kota ini cukup mengganggu aktivitas pagi saya. Namun, saya menikmatinya. Tidak ada hal yang lebih bahagia pada pagi hari selain bermalas-malasan setelah tidur panjang pada malam hari. Saya tidak peduli dengan aktivitas tenggat kerja dari penerbit-penerbit yang meminta saya mengedit buku-buku dari penulis belia, dari penulis yang tergesa-gesa yang tidak sabar berproses. Mereka hanya butuh eksistensi sebagai penulis. Saya tidak peduli itu semua. Pagi ini saya menikmatinya. Saya juga tidak repot-repot lagi pergi ke agen koran untuk arsip saya. Tiap pagi, pembawa koran membawakan setumpuk koran nasional dan lokal di bawah pintu. Saya hanya mengambilnya.

Pagi. Saya masih bermalas-malasan di tempat tidur yang sama. 30 menit sudah berlalu, tetap saya masih menikmati empuk kasur. Selimut yang menyelimuti saya pada malam hari saya lepaskan, yang tertanggal cuma BH dan celana dalam. Saya menyentuh BH ada yang ruang kosong sebab ukuran BH saya tidak proporsi dengan ukuran payudara saya. Saya sudah lama tidak memerhatikan bagian tubuh saya. Tubuh saya telah menjadi bagian lain dari hidup saya yang saya jalani semenjak memutuskan menjadi penulis profesional. Menurut saya, mengurusi tubuh adalah pekerjaan yang tidak bermanfaat untuk perkembangan intelektual dan skil menulis saya. Mengurusi hal remeh remeh yang membuang waktu saya saja. Entah mengapa pagi ini, saya ditarik oleh alam semesta untuk mengetahui lebih detail apa yang terjadi dengan tubuh saya sendiri. Dan, saya baru sadar, di bagian atas payudara kanan saya ada tahi lalat, tidak besar, tetapi cukup tampak di mata saya. Pula di daerah kedua puting saya, ada rumput tipis tumbuh tampa saya sirami dengan tiap paginya.

Tahi lalat dan rumput tipis. Entah maksudnya apa dua tanda itu hadir di bagian dada saya. Yang membuat saya heran, saat saya menyentuh tahi lalat, ada gemetaran tak terduga dari dalam tubuh. Dan, semakin gemetaran ketika saya menyentuh rumput tipis di daerah puting susu saya.

Saya cepat lepaskan tangan saya dan bergegas beranjak dari kasur. Saya pergi ke dapur.

 

/4/

Saya mengambil koran yang sudah dari tadi diantar oleh pembawa koran. Ada tiga koran di bawah pintu rumah: koran nasional, koran Jawa, dan koran Jogja.

Saya membawa koran-koran itu ke meja kerja di lantai dua. Saya membuka koran Jawa duluan, koran ini yang memuat esai saya tentang para penulis yang banyak selfie dengan foto mereka sendiri di festival-festival sastra.

Redaktur koran Jawa menepati janjinya, memuat esai saya pada hari ini. Saya senang sebab seminggu lagi saya mempunyai uang untuk membeli keperluan dapur.

Sudah. Saya tinggalkan koran Jawa itu, saya beralih ke koran Nasional. Tidak ada berita baik. Pun esai-esainya. Esai-esai mereka banyak mengulang-ulang hal yang sudah ditulis oleh esais pada tahun ’90-an. Tidak saja temanya, juga gaya esai mereka persis seperti esais-esais sebelumnya. Terlalu banyak menjadi pengekor. Bodoh amat. Biarkan saja mereka mau jadi apa dan ngekor pada siapa.

Saya malas membuka koran Jogja. Koran ini hanya memberitakan aktivitas sultan. Bila ada puisi, puisi yang dimuat banyak memplagiasi puisi-puisi orang yang diambil dari media sosial, lalu redaktur mereka mencantumkan nama penulis puisi yang saya tidak dengar. Entah penulis dari mana. Bila para warganet mengetahui tindakan plagiat itu, ribut di media sosial, selanjutnya si redaktur akan membuat klarifikasi pada esok harinya. Begitu-begitu saja perilaku mereka dari tahun ke tahun.

Saya membuka akun Facebook, banyak pemberitahuan. Orang-orang menyebut nama saya di status orang yang saya kritik di koran Jawa. Dalam status–dan menampilkan foto tulisan saya–tidak menerima dengan pendapat saya dengan sastrawan sosialita yang kerap membagikan foto-foto mereka dengan buku mereka saat menghadiri festival sastra yang baru selesai berlangsung. Tidak saja menerima pendapat saya, pun mereka menghantam personal saya. Mereka menyebut saya tidak pernah bercinta sehingga otak saya beku, tidak bisa menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Sampai-sampai mereka juga menghajar lagi karya saya yang gagal itu. Menurut mereka, saya tidak bisa menulis kalimat, baru sok-sok mengkritik penulis lain. Mereka tidak hanya dua atau tiga orang, tetapi bergerombolan, berkelompotan, lalu menyerang dengan cara serempak.

Akan tetapi, saya tidak peduli dengan penulis-penulis macam demikian. Mereka hanya menurunkan kelas sastra yang sudah agung. Sastrawan terdahulu sudah menjaga keagungan sastra Indonesia, lalu mereka meruntuhkannya. Dosa sastra yang mereka terima.

 

/5/

Saya tinggalkan hiruk-pikuk orang-orang di Facebook. Tidak berfaedah bila saya ladeni mereka semua. Toh, bila mereka tidak suka atau tidak terima esai itu, ya silakan balas dengan pula. Tidak hajar fisik orang atau personal saya. Mereka balas dengan gagasan konstruktif, tidak status Facebook yang tidak sampai 100 kata.

Saya tinggalkan komputer dengan kondisi menyala dan playlist lagu. Saya memilih lagu-lagu lawas dari penyanyi dalam dan luar negeri. Lagu lawas enak didengar, pun lirik-liriknya masih terbaca dan memiliki kalimat jelas. Tak sama dengan lirik-lirik lagu sekarang, tidak sastrawi dan nadanya banyak copot sana dan sini, lalu digabungkan. Mereka bangga dengan karya mereka, padahal plagiasi.

Saya turun ke lantai bawah, memasak air, lalu membuat kopi. Kopi saset telah lama menjadi minuman pagi saya. Saya tidak peduli dengan maniak kopi yang mengejek orang-orang yang menyukai kopi sasetan. Mereka sudah seperti hakim kopi. Ini enak dan itu tidak. Mereka ingin menyamakan rasa mereka ke orang lain, padahal tiap orang punya rasa berbeda. Tidak saja untuk kopi, di kasus lain juga begitu. Pun kopi-kopi yang menurut mereka adalah enak, saya tidak merasakan tuh keenakannya. Saya hanya merasakan pahit bukan main. Mereka itu sama hal dengan orang-orang yang ingin mengubah dunia lewat sastra: buku ini wah luar biasa, buku sana pop banget.

Saya tidak peduli dengan itu semua, yang saya peduli, apakah buku itu laris atau tidak. Walaupun buku bagus kalau tidak laku, lalu si penulis mau makan apa? Masih mengemis pada teman-teman mungkin.

Saya tidak peduli. Menulis itu kata kerja. Kerja semestinya menghasilkan uang agar esok bisa kerja lagi.

Kopi saset yang sudah saya aduk, saya taruh di atas meja di lantai bawah. Rokok kretek masih tertinggal di kamar, sebab tadi malam, sebelum tidur saya menghisap sebatang rokok. Saya ambil rokok itu.

Saya tidak menulis pada pagi hari ini, tetapi saya mesti melanjutkan satu buku.

 

Yogyakarta, awal 2020