Kategori: Ulasan

Pramoedya Ananta Toer: Melawan dan Menulis

Buku ini adalah indeks beberapa tokoh, tempat, pemikiran Pramoedya Ananta Toer dan perihal yang sempat bersinggungan dengannya. Dihimpun oleh adik Pram, Koesalah Soebagyo Toer.

Koesalah menghimpun dari pelbagai sumber. Sumber utamanya dari karya-karya Pram sendiri dan sumber dari penulis lain. Nama-nama tokoh, kosakata subteknis, dan kosakata teknis yang berkaitan dengan Pram dihimpun menjadi satu.

Mungkin kita tidak bisa bedakan arti Pramoedya Ananta Toer, Pramis, dan Pramisme. Pram mengartikan namanya sendiri adalah “… sampai sekarang pun aku masih tetap Pramoedya Ananta Toer yang dulu” (hlm. 232). Artinya, Pram adalah orang keras kepala yang tidak bisa berkompromi. Sekali melawan, tetap melawan. Sekali menulis, tetap menulis. Itulah prinsip yang Pram pedomani hingga ajal menjemput.

Lalu, apa arti Pramis? Menurut Muhidin M. Dahlan, “Pramis bukan menunjuk pada ‘para pengikut/pembaca’ Pram, sebab Pram sendiri anti terhadap pemujaan idola. ‘Pramis’ menunjuk pada sebangunan keyakinan Pram sendiri yang paling personal sebagai pengarang yang terus menampung kontradiksi tindakan individualisme dan gerak sosial dalam masyarakat” (hlm. 231).

Dan, Pramisme—yang tertulis di Suara Pembaruan, 1 Mei 2006—adalah “Saya ini pengikut Pramisme. Saya tidak menganut ajaran tertentu. Saya hanya mengikuti ajaran saya sendiri. Tapi saya percaya pada keadilan dan kesejahteraan sosial.”

Pram memang tidak ada habisnya dibahas, diulas, ditulis. Selalu ada celah dari kehidupannya untuk bahan kajian. Khususnya, kajian sastra. Karyanya banyak. Kutipan-kutipan “motivasi menulis” bejibun beredar di media sosial. Pernyataannya yang kerap dikutip oleh penulis belia adalah “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”

Kutipan itu diulang-ulang sampai kuping saya ini muak. Sebab, mereka men-tasbih-kan pernyataan Pram, namun tidak eksekusi dalam tindakan. Nihil hasilnya. Penulis, tidak sekadar curhat di pagina berhalaman-halaman. Penulis punya emban “kalis” pada masyarakat. Setidaknya itu berlaku untuk Pram: “… penulis adalah intelektual yang turut mengemban aman politis untuk memperbaiki tatanan kehidupan masyarakatnya, sekaligus mencerdaskan bangsanya” (hlm. 221).

Pram seorang individu penyendiri, tak banyak mengindahkan kehidupan sosial, asosial, tidak bisa bergaul pada khalayak umum. Wajar bila Pram keras dengan kehidupan sendiri dan di sekitarnya. Penyendirinya bukan berarti ia tidak memedulikan masalah sosial dan bangsa. Bahkan, ia memikirkan ketidakadilan yang ia alami dan orang lain alami. Ia memikirkan negara yang dikuasai oleh penguasa otoriter sehingga ia melawan. Dengan cara ia sendiri yaitu menulis. Apa kata Pram perihal kerja keabadian itu? Menurutnya, “Menulis buat saya adalah perlawanan. Di semua buku saya, saya selalu mengajak untuk melawan. Saya dibesarkan untuk menjadi seorang pejuang.”

Seorang pejuang sejati tidak sempat memikirkan keinginan atau nafsu pribadi, namun ia memikirkan dan bertindak untuk rakyat. Di Bintang Timur, 22 April 1960, Pram menulis untuk memperingati 90 tahun Lenin bahwa segala berasal dari rakyat maka segalanya harus kembali pada rakyat. Begitulah Pram mengartikan rakyat. Rakyat bukan boneka yang diperlakukan manasuka. Tetapi, rakyat adalah dasar perjuangan untuk melawan kekuasaan yang digunakan sewenang-wenang.

Pram, bukan saja menulis yang ia jadikan gelanggang bertarung. Tetapi, organisasi pun ia masuki. Seperti Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Lekra adalah lembaga budayawan dan seniman yang bernaung di Partai Komunis Indonesia (PKI) yang didirikan oleh Iramani alias Njoto, D. N. Aidit, A. S. Dharta, M. S. Ashar pada 17 Agustus 1950 (hlm. 152).

Awal-awal Lekra berdiri, lembaga ini kuat tanpa tanding. Namun, tigabelas tahun kemudian Lekra tak sendiri. Pada 17 Agustus 1963 lahirlah Manifes Kebudayaan (Manikebu) hasil pertemuan 13 orang seniman dan cendekiawan di Jakarta, yaitu H. B. Jassin, Trisno Sumardjo, Wiratmo Sukito, Zaini, Bokor Hutasuhut, Goenawan Mohamad, A. Bastari Asnin, Bur Rasuanto, Soe Hok Djin alias Arief Budiman, D. S. Muljanto, Ras Siregar, Sjahwil, dan Djufri Tanissan.

Para pendukung Manikebu berseberang dengan politik Orde Lama. Tindakan melawan itu jelas dalam tulisan-tulisan mereka. Mereka hadir dengan ideologi humanisme universal, melawan Lekra yang memiliki semboyan “Seni dan sastra revolusioner, yaitu realisme-sosialis yang mengabdi buruh, tani, dan prajurit”.

“Lekra bukan organisasi bandit,” begitu kata Pram.

Menurut A. Teeuw (1997) bahwa Pram menjadi penyumbang lidah ideologi kebudayaan itu (Lekra) antara lain lewat kegiatannya sebagai redaktur “Lentara” di lampiran kebudayaan harian Bintang Timur. Posisi Pram sungguh dilematis. Sebab, kadang, ia dinilai dengan argumen sastra sekaligus politik. Karena, menurut Muhidin M. Dahlan bahwa “… kedua-duanya melekat padat dalam diri Pram” (hlm. 230).

Kita tak bisa pungkiri bahwa karya Pram ada yang bagus, ada juga yang buruk. Ada kualitasnya menjulang ke langit, ada juga yang biasa-biasa saja. Dalam buku Ideologi Saya adalah Pramis: Sosok, Pikiran, dan Tindakan Pramoedya Ananta Toer, Muhidin M. Dahlan—selaku penulis buku—memilih 9 buku terbaik Pram. Sebut saja: Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Rumah Kaca, Bukan Pasar Malam, Cerita dari Blora, Arus balik, Gadis Pantai, Sang Pemula, dan Perburuan. Terus, buku Pram apa yang (tidak) baik? Yah, itu tugas pembaca menilainya.

Sehebat apa pun penulis, pasti ia terpengaruh oleh karya orang lain atau sosok tertentu. Misalnya, Eka Kurniawan—saat menulis Cantik Itu Luka—terpengaruh dari karya Gabriel Garcia Marquez, One Hundred Years of Solitude.

Saya kira, Pram juga mengalami demikian. Seperti dalam buku ini, Koesalah menyebut beberapa tokoh yang memengaruhi pemikiran Pramoedya Ananta Toer: Chairil Anwar, I Njoman Pandji Tisna, John Steinbeck, Maxim Gorky, Multatuli, Soekarno, terakhir Tirto Adhi Soerjo.

Pram mengabadikan Tirto Adhi Soerjo lewat buku Sang Pemula dan Tetralogi Buru. Dan, insyaallah kita akan menyaksikan sosok Tirto (Minke) pada Iqbaal Ramadhan. Kita nantikan film itu. Film Bumi Manusia.

Berdikari Book, 05 Oktober 2018

Sejarah Umat Manusia

Sekitar 2,5 juta tahun lalu, ada genus hewan begitu mirip dengan manusia modern. Namun, mereka tak menonjol selama bergenerasi-generasi di antara makhluk lain. Artinya, “hewan” yang mirip dengan manusia itu adalah nenek moyang kita.

Manusia kali pertama berevolusi di Afrika Timur sekitar 2,5 juta tahun silam dari genus kera yang lebih tua. Genus kera itu disebut Australopithecus, yang memiliki arti ‘Kera Selatan’. Sekitar 500.000 tahun kemudian, beberapa laki-laki dan perempuan purba itu berimigrasi ke beberapa wilayah: Afrika Utara, Eropa, dan Asia.

Manusia di Eropa dan Asia Barat berevolusi menjadi Homo Neanderthalensis ‘Manusia dari Lembah Neander’. Tetapi, lebih populer dengan sebutan “Neandertal”. Di Asia Timur dihuni oleh Homo Erectus, ‘Manusia Tegak’ mampu bertahan nyaris selama 2 juta tahun. Spesies manusia yang bertahan paling lama. Rekor itu kecil kemungkinan bisa dipecahkan oleh spesies kita sendiri. Tetapi, Homo Sepiens diragukan akan masih ada seribu tahun dari sekarang. Jadi, 2 juta tahun itu benar-benar tidak tergapai oleh kita (hlm. 7).

Di Indonesia memiliki dua jenis manusia: di Pulau Jawa hidup Homo Soloensis, ‘Manusia dari Lembah Solo’ dan di Pulau Flores terdapat Homo Floresiensi, ‘Manusia Flores’. Manusia Flores ini berevolusi menjadi manusia katai. Berbobot kurang dari dua puluh lima kilogram. Sangat kecil dan musnah.

Manusia terus berevolusi. Seperti, Homo Rudolfensis, ‘Manusia dari Danau Rudolf’; Homo Ergaster, ‘Manusia Bekerja’; dan akhirnya sampai ke ‘Manusia Bijak’, yang diberi nama Homo Sapiens. Menurut Yuval, spesies terakhir inilah yang banyak menghancurkan makhluk-makhluk lain di muka bumi. Dan, begitu congkak. Terdeteksi lagi jenis manusia pada 2010, ilmuwan menemukan Homo Denisova hasil dari galian di Gua Denisova di Siberia.

Yuval membagi empat waktu yang memengaruhi sejarah manusia (Sapiens). Pertama, Revolusi Kognitif. Kedua, Revolusi Pertanian. Ketiga, Pemersatuan Umat Manusia. Keempat, Revolusi Sains.

Revolusi Kognitif
Kamampuan pertama kali dilakukan manusia adalah awal-mula produk Revolusi Kognitif. Beberapa pencapaian seperti membuat perahu, lampu minyak, busur dan anak panah, serta jarum. Adalah cara manusia beradaptasi dengan alam di sekitarnya. Kemampuan itu mengakibatkan Neandertal punah dan Sapiens mampu mendarat ke benua Australia melintasi beberapa pulau Indonesia.
Selain itu, kemampuan lebih signifikan di Revolusi Kognitif ialah kemampuan meneruskan informasi mengenai hal-hal yang tidak sungguh-sungguh ada, misal arwah pelindung suku dan bangsa. Akibatnya, manusia mampu bekerja sama antara orang-orang tak saling mengenal dalam jumlah sangat besar dan melakukan inovasi perilaku sosial secara cepat.

Revolusi Pertanian
Manusia mulai bertani saat memikirkan apa yang mesti dimakan esok harinya. “Ya, kita harus bekerja keras agar panen nanti akan banyak sekali! Kita tidak perlu lagi khawatir mengenai tahun-tahun paceklik. Anak-anak kita tidak akan tidur dalam keadaan lapar” (hlm. 104).

Manusia berternak sapi, domba, kambing, babi, dan ayam. Proses berternak ini dimulai melalui perburuan selektif. Mereka tidak berburu domba betina subur dan anak domba karena menjaga ketahanan jangka panjang. Hewan-hewan itu didomestikasi untuk memasok makanan (daging, susu, telur), bahan mentah (kulit dan wol), dan tenaga otot. Hewan-hewan itu difungsikan sebagai pengangkut beban, membajak tanah, menjalankan penggilingan, dan tugas-tugas lain yang sebelumnya dilakukan oleh otot manusia.

Pada revolusi ini, kita melihat bagaimana “kekejaman” manusia terhadap hewan di sekitar, bahkan perilaku itu diteruskan dari generasi ke generasi.

Pemersatuan Umat Manusia
Pasca Revolusi Pertanian, masyarakat manusia berkembang pesat dan semakin kompleks. Mitos dan fiksi dipupuk sedari lahir untuk berpikir, berperilaku, menginginkan, dan menuruti aturan-aturan tertentu. Aturan-aturan ini memungkinkan jutaan orang tak saling kenal bekerja sama secara efektif. Dan, itu disebut sebagai kerja “budaya”. Dalam agama juga demikian, jutaan orang tak saling kenal namun punya ikatan ritual. Budaya dan agama dibentuk oleh imajinasi. Seperti ucapan Rocky Gerung—yang sempat viral di media sosial—bahwa agama merangsang imajinasi pengikutnya. Berimajinasi tentang surga sehingga orang-orang berusaha melakukan peribadatan agar masuk dalam surga itu. Inilah yang mengakibatkan ada kelompok tertentu bisa bersatu.

Revolusi Sains
“Aku menjadi maut, pembinasa alam semesta,” ucap Robert Oppenheimer, ahli fisika nuklir, mengutip Bhagawadgita saat melihat atom pertama kali diledakkan. Ucapan Robert itu mungkin ucapan penyesalan. Yang mana sains yang seharusnya memajukan kemaslahatan dan peradaban umat manusia berubah menjadi malapetaka.

Revolusi Sains bukanlah revolusi pengetahuan. Di atas segalanya, Revolusi Sains adalah revolusi ketidaktahuan. Penemuan besar yang meluncurkan Revolusi Sains adalah penemuan bahwa manusia tidak tahu jawaban bagi pertanyaan-pertanyaan mereka yang terpenting (hlm. 298).

Pada titik ini, Homo Sapiens mencoba melakukan apa yang Tuhan (bagi yang percaya Tuhan) lakukan, bahkan lebih dari itu. Ulasan panjang mengenai bagaimana proses manusia menjadi homo deus bisa dibaca pada buku keduanya yaitu Homo Deus: A Brief History of Tomorrow.

Yuval—dalam buku ini—memberikan wacana yang sebenarnya bukan hal baru. Namun, ia mampu meracik sejarah ke narasi populer.

Sebelumnya, buku ini terbit dalam bahasa Inggris, Sapiens: A Brief History of Humankind. Sebelum beredar menjadi best seller dunia, buku ini adalah modul untuk mahasiswa Yuval di Hebrew University of Jerusalem.

Buku yang diterjemahkan Damaring Tyas Wulandari Palar ini layak dibaca bagi pencinta sejarah. Sesuai testimoni Mark Zuckerberg bahwa buku ini adalah narasi sejarah besar peradaban manusia. Seperti Muqaddimah [Ibnu Khaldun], buku sejarah yang bersudut pandang intelektual 1300-an, Sapiens menjelajahi banyak pertanyaan penting untuk zaman sekarang.

Mungkin pembaca akan meragukan keakuratan sumber dalam buku ini. Tetapi, setidaknya, Yuval membuka ceruk baru untuk kita agar menengok sejarah panjang peradaban umat manusia. Dan, kita juga boleh memberi perspektif baru tentang sejarah manusia apabila literatur yang dihamparkan lebih sahih dibandingkan ilmuwan sejarah sebelumnya. Demikian.

Berdikari Book, 04 September 2018

Am.pe.nan: Tiga Suku Kata yang Menggelisahkan

“Ampenan merupakan bagian dari dunia suara dan bunyi ….”
(Afrizal Malna)

Lahir karya moncer pada 2017 yang berlatar di sebuah gang sempit, jauh dari hingar-bingar kebisingan kota. Di mana gang itu hidup sebuah masyarakat yang menjaga dan memelihara semangat kemajemukan: Bugis, Melayu, Cina, Arab, dan suku setempat hidup berdampingan.

Salah satu ingatan masa lalu yang tetap terjaga, yaitu ingatan kebisingan musik tetangga rumah—mungkin terusik—tapi antartetangga tak saling sibuk. Suasana ini melahirkan buku sepilihan puisi berjudul Di Ampenan, Apa Lagi Yang Kau Cari? karya Kiki Sulistyo.

Menurut Kiki pada pengantarnya, gang di mana rumah saya berada dikenal sebagai Gang Buntu, meskipun gang itu tidak buntu sama sekali. Gang itu tembus ke Jalan Pabean, jalan yang mengarah ke pantai Ampenan (hal. 4).

Seiras dengan pengantar itu, Kiki mengisahkan gang tersebut pada puisi “kawasan makelar” halaman 19:

jalan ke barat dari simpang lima menuju pantai
jalan lurus dengan beberapa simpang kecil
ke Kampung Melayu, ke Gang Buntu
tangki pertamina dan sebuah gudang tua

Kota kecil di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), yang bernama Ampenan menjadi objek kreatif Kiki menuliskannya dalam bentuk puisi. Atau, memanggil ulang kenangan kampungnya dengan serimbun puisi dalam buku ini.

Jika para penguasa dan pengusaha setempat menjadikan kota kecil itu sebagai tempat wisata lokal maupun asing, Kiki melawan itu dengan cara subtil nan menohok. Laku itu merupakan salah satu tindakan dalam melawan kebanalan dan kerakusan pimpinan daerah. Pemimpin yang hanya mengejar keuntungan materi tanpa menengok dan melongok kalangan bawah yang terpinggir dan tersingkir dari pembangunan daerah dengan kecepatan dorongan turbo.

Sebuah pengantar editor pada buku Sastra Kota: Bunga Rampai Esai Temu Sastra Jakarta (2003) mengatakan, “bagian tak terpisahkan dari kota adalah kaum pekerja kecil, seperti buruh, kaum pekerja serabutan, pedagang kaki lima, anak jalanan, preman, dan sebagainya. Adakah sastra yang lahir di perkotaan mengangkat pula masyarakat khas kota semacam ini di dalamnya?” Jawabannya: ada. Kiki telah melakukannya.

banyak makelar di gang itu
makelar arloji dan cincin batu
di rahang gang, sebuah toko bangunan
seorang perempuan setengah botak
menggendong boneka
dulu, boneka itu anaknya yang mati kena malaria
(“kawasan makelar”)

Puisi “kawasan makelar” merupakan—menurut saya—kritik sosial dan ekonomi yang timpang. Seperti mencari masa depan/di jalan-jalan kecil Ampenan.

Judul puisi “Di Ampenan, Apa Lagi yang Kau Cari?” pada halaman 59 dicatut menjadi judul sepilihan buku puisi ini. Mari kita baca dan simak isi puisi itu:

di Ampenan, apalagi yang kaucari?
kota tua yang hangus oleh sepi
kali kecil menjalar di tengah mimpi
di mana kecil masa kecil mengalir tak henti
ingatkah kau tekstur-tekstur kuno
rumah es di ujung gang
ingatkah kau gudang kusam
aroma tajam dari puskermas seberang?

di Ampenan hanya gedung-gedung tua
bertahan dalam kemurungan
hanya angin yang resah
mondar-mandir dengan kaki patah
dan simpang lima itu
akan kau temui kembali
riwayat keluarga
yang terus menggelepar
di ingatanmu.

Pada alinea pertama di larik satu hingga empat, Kiki bermain rima pada akhiran tanpa mengurangi maksud mengaburkan kenangan kecil yang tak mampu ia lupakan. Lagi, ia memberitahu ke pembaca bahwa gedung-gedung tua yang murung dan resah sempat menghiasi Kota Ampenan. Kemurungan dan keresahan itu menjadi penanda Kiki beserta keluarga menanggalkan titimangsa dalam ingatan para pelaku.

Kiki tidak ingin apa yang terjadi di kota kecil kelahirannya itu berlalu begitu saja. Hal ini mesti diikat melalui kata-kata, walaupun kata-katanya yang bersajak begitu bersahaja tanpa menonjolkan dada. Sebab menurutnya, saya tidak ingin melihat Ampenan dengan ‘mata kedua’, seolah-olah pengalaman nostalgik saya menjadi pengalaman orang lain, seolah-olah saya yang sekarang bukan saya yang dulu dalam konteks relasi dengan Ampenan. Saya ingin ‘menyatukan’ diri saya yang sekarang dengan diri saya yang dulu, dengan segala keterpecahannya (hal. 7).

Kecemasan dan keresahan Kiki pada Kota Ampenan karena “dipaksa modern” tak menyurutkan ia membenci Ampenan secara membabi buta. Semakin ia ingin melupakan ingatan tentang Ampenan, semakin ia ingin memeluk kecemasan dan keresahan itu. Ampenan, kemana aku akan menjelang/kota yang kian jalang melupakan semua yang ingin kukenang/semua yang tak bisa lekang dari ingatan (“ampenan, kemana aku akan menjelang”; 58).

Kegelisahan Kiki pada Kota Ampenan karena kesemrawutan dan kebisingan wisatawan-wisatawan, tidak bikin ia berpaling dari Ampenan. Ia mesti pulang. Dan, ia berpuisi:

aku mesti pulang,
melewati kembali sunyi jembatan
bukit sampah, rumah seorang dokter yang hangus
oleh dengus-amuk kerusuhan
juga jalan ringkas itu, jalan menuju pantai
sepanjang Pabean dan rumah-rumah tua Tionghoa

ada memang saat, seseorang menungguku di pasar itu
seseorang yang bukan pacar
tapi kerap fosfor merah jambu
dari pipinya seakan memancar

dan aku pun sekarang pulang
membuka palang-silang ingatan
barangkali untuk dia yang tak lagi menunggu
atau untuk kenangan
satu-satunya yang tersisa dari Ampenan
(“pulang ke ampenan”; 45)

Aku-lirik ingin pulang tanpa menemui siapa-siapa. Menemui si “dia” yang lelah menanti sehingga menyerah pada kata kerja: menunggu. Alasan terakhir untuk pulang ke peraduan—tempat aku-lirik lahir dan tumbuh dewasa—adalah kenangan satu-satunya yang tersisa. Kenangan apa yang tersisa di kota kecil yang bernama Ampenan itu? Mungkin rumah seorang dokter yang hangus/oleh dengus-amuk kerusuhan. Sebab, pada 17 Januari 2000, terjadi sebuah peristiwa kerusuhan di Lombok. Di Ampenan mendapat imbas dari kerusuhan tersebut.

Kiki tak luput mengisahkan peristiwa itu dalam puisi “Januari”:

di bulan merah orang-orang
melempar kaca sejarah
kaca yang pecah disimpan di matamu
setelah kerusuhan Januari
ada ular yang tak pernah tidur
seorang pejalan membisikkan kata-kata
bagi bumi saat kau kecup pagi hari

Buku ini menjadi pemenang kategori puisi Kusala Sastra Khatulistiwa (KSK) 2017. Dengan tema lokalitas yang kuat, saya kira, Kiki Sulistyo memang layak mendapatkan penghargaan itu. Saat kita membaca seluruh puisi dalam buku ini akan kita temukan kejutan-kejutan. Kejutan tidak tahu menjadi tahu perihal Ampenan dan diksi-diksi yang dianggit oleh penulisnya.

Karepe.com, 04 Agustus 2018

Akhirnya, Jalan Penulis Adalah Kesunyian Masing-Masing

Judul buku ini sama dengan judul lagu dangdut karya Rhoma Irama: Darah Muda. Saya tak tahu apakah buku ini diangkat berdasarkan lagu karya Rhoma Irama atau tidak. Namun, pada bab “Pracerita”, Dwi Cipta—sebagai penulis buku ini—mengatakan, “Catatan ini tentang masa kanak-kanak, kehidupan ranum masa remaja, tikungan nasib gelap awal masa dewasa, dan impian tidak sampainya untuk menulis cerita, ….”

Kita anggap saja—setidaknya menurut saya—bahwa kisah kanak-kanak, pubertas remaja, hingga gejolak hati dan pikiran orang dewasa adalah titimangsa di mana darah itu “mendidih”. Ketika kanak-kanak, kita “mendidih” dengan permainan. Ketika remaja, kita “mendidih” dengan cinta monyet. Dan, ketika dewasa, kita “mendidih” dengan pergolakan hal-hal di sekitar kita: keuangan, kampus, organisasi, politik, cinta, dll.

Cipta mengawali novelnya, “Pada mulanya adalah kisah keringnya sungai di sebelah timur rumahku selama bulan Oktober ….” Pembuka novel yang cukup klise bila kita potong pada mulanya adalah …. Sama halnya dengan “pada mulanya adalah kata,” kalimat yang kerap diucapkan penyair Sutardji Calzoum Bachri. Atau, dalam Alkitab, Yohanes 1:1 tertulis “pada mulanya adalah Firman.” Mungkin, yang over klise seperti pada suatu hari ….

Namun, saya mencoba hilangkan tiga kata awal yang klise itu. Sebab, di kata selanjutnya kita tergerak untuk membaca apa yang terjadi di sungai kering dekat rumah aku-tokoh pada Oktober.
Setiap Oktober, sungai di desa Aku-tokoh—yang tidak terdeteksi peta—mengalami kekeringan luar biasa. Di bawah terik sinar matahari, aroma busuk kotoran manusia, bangkai binatang dan sampah menguar dari sungai sebelum menyebar ke berbagai sudut desa (hlm. 2). Penduduk desa membenci derita bulan Oktober. Padahal, akibat sungai kering itu penduduk desa banyak mengambil ikan. Dan, pastinya menjadi santapan di rumah-rumah. Kadang, kita memang fokus pada yang buruk, tidak bersyukur pada hal baik.

Tetapi, bukan itu. Kekeringan di bulan Oktober, bukan saja kekeringan air sungai, namun kekeringan empati penguasa terhadap rakyatnya; kekeringan air mata atas perilaku serdadu yang semena-mena; dan kekeringan itu membawa malapetaka.

Orang-orang menyebut tragedi itu dengan nama Gestok. Mencekamnya masa-masa sesudah Gestok itu membuat kakek dan ayahku dihantui ketakutan pada seragam loreng dan kaki-tangannya (hlm. 11).

Di awal, pembaca diajak sekilas mengetahui apa yang terjadi dengan peristiwa Gestok atau yang lebih dikenal dengan nama G30S PKI. Peristiwa yang cukup menyita mata dan pikiran bangsa ini, bahkan kita belum menerima apa yang sesungguhnya terjadi di bulan Oktober tersebut.

Cipta berhasil menarasikan dengan baik melalui si tokoh Aku dalam menceritakan kisah sungai kering di bulan Oktober, yang dituturkan oleh kakek dari kakek buyut. Pengisahan ini sebenarnya bukan hal baru di masyarakat Indonesia: “sejarah lisan” yang terus dipelihara oleh tetuah-tetuah kampung.

Setelah itu, pembaca digiring ke perjalanan si tokoh Aku saat sekolah dasar serta polemik-polemiknya yang cukup keras bila ditarik ke zaman sekarang. Misalnya, “Kirik cengeng”, ejekan yang tersemat pada diri tokoh Aku. “Jangan sering bermain dengan dia. Main saja dengan anak-anak lain daripada dengan Kirik” (hlm. 43).

Ibu mana yang tidak membela apabila anaknya dipersekusi demikian? Saya kira ibu yang normal pasti membela. “Bermainlah dengan anak-anak yang tidak menyakitimu. Kalau tidak, bermainlah dengan anak-anak anjing yang sering berkeliaran di depan rumah. Lebih baik bermain dengan anak anjing daripada bermain dengan manusia yang memperlakukanmu seperti anjing” (hlm. 44). Ada rasa keputusasaan dari seorang ibu, melihat anaknya dipersekusi. Dengan putus asa itu, seorang ibu tidak lagi meminta anaknya bermain dengan anak-anak sebaya, tetapi dengan anak anjing.

Persekusi itu banyak terjadi di lingkungan kita. Bagaimana seorang anak tidak ingin sekolah lagi karena di sekolah telah menjadi rangkiang kekerasan fisik dan psikis. Apa yang terjadi kemudian, yah, berkurung di kamar dan si anak terisolasi dengan dunia luar. Ini berbahaya pada tumbuh kembang si anak. Seperti kalimat kesedihan si Aku pada halaman 53, Aku berperan seolah-olah mulai memahami bahwa akhir hidup manusia adalah kesunyian mencekam, tanpa seorang pun bisa membantunya keluar, benar-benar sendirian.

Mungkin pembaca akan bertanya, apakah kalimat itu sudah mampu dikeluarkan dari mulut dan pikiran anak seusia SD? Ini kekeliruan Dwi Cipta menarasikan tokoh Aku-kecil. Si Penulis nampak lebih cerdas daripada tokoh yang ia buat sendiri.

Buku tentang Penulis
Buku Darah Muda bisa menjadi rujukan untuk siapa pun yang berkeinginan menjadi penulis. Siapa pun dia bisa menjadi penulis andal bila fokus. Fokus dan konsisten terhadap apa yang dia inginkan adalah cara mutakhir untuk melumpuhkan hambatan-hambatan untuk meraih cita-cita. Maaf, saya tidak mencoba memberi Anda motivasi agar bergairah menulis. Tidak.

Tetapi, buku ini bisa membawa pembaca untuk mengetahui bagaimana perjuangan calon penulis meraih mimpinya. Atau, bagaimana pergulatan anak muda yang gandrung terhadap kata-kata: buku. “… aku menikmati momen-momen kesendirianku: membaca novel dan buku-buku di perpustakaan atau persewaan buku, bercanda dengan teman-temanku, menyembunyikan diri di antara rak-rak buku sebuah toko swalayan di samping alun-alun kota selama dua jam, atau menghabiskan waktu sore hari di pantai …. Memasuki malam hari, aku kembali pada dunia imajinasi lewat buku-buku cerita yang kusembunyikan di bawah kasur” (hlm. 129).

Malam menjadi penanda kesunyian dan waktu yang tepat untuk membaca buku. Si tokoh Aku dalam novel Aku, Buku, dan Sepotong Sajak Cinta karya Muhidin M. Dahlan pun menjadikan malam sebagai medium komunikasi antara pembaca dan buku. “… tiap malam aku meringkuk di kamar. … sendiri tanpa ada masa depan. Beberapa kali kubolak-balik buku. Beberapa kali kuambil pena untuk menulis lagi. Dan, selalu saja gagal. Aku takut” (hlm. 260).

Kisah kecemasan calon penulis yang digambarkan di atas adalah ultimatum bagi siapa saja yang ingin menjejaki jalan sunyi itu: berat dan mendaki.

Kisah yang tak kalah heroik juga ditampilkan oleh Knut Hamsun dalam novel Lapar. Si tokoh Aku pada novel Lapar memiliki tekad baja untuk mempertahankan nilai hidup yang ia jalani. Walaupun, hidup itu terjal, pahit, dan berliku ia tetap semangat menulis. Novel ini telah banyak memengaruhi jejak kepenulisan beberapa penulis hebat Indonesia. Salah satunya adalah Eka Kurniawan. Seperti kata Eka, “Lapar adalah novel yang pertama kali membuat saya ingin menulis.”

Hamsun mengambil Kota Kristiania, Norwegia, sebagai latar cerita Lapar. Muhidin M. Dahlan dan Dwi Cipta menjadikan Kota Yogyakarta sebagai tempat proses kepenulisan mereka. Dan, mereka berdua hingga sekarang tetap berkutat dengan dunia aksara.

Lebih dari itu semua, bila membaca Darah Muda pembaca akan mengetahui seluas apa bacaan penulisnya. Cipta tidak pelit mencantumkan buku-buku apa saja yang ia baca. Dan, itu akan kita tahu saat menelusuri kata per kata di buku setebal 386 halaman ini.

Kenapa buku ini harus dibaca bagi orang yang ingin menjadi penulis? Buka halaman 322, “Aku ingin terus menulis, apa pun yang terjadi dengan hidupku kelak.”

Karepe.com, 18 Mei 2018

Bertuhan pada Bahasa, tetapi Tidak Bersyahadat pada Budaya

Menulis puisi tidak sekadar mengandalkan imaji, namun ia berpijak pada bumi dengan metafora—yang biasa-biasa pun bukanlah persoalan. Bagaimana puisi itu lahir dari “akar budaya”, “akar bumi”, dan “akar sosial” tempat penyair berasal. Mengapa demikian? Agar penyair dan puisinya tidak berjarak begitu jauh.

Biasanya, judul sehimpun buku puisi diambil dari sebutir puisi dalam buku. Dengan persepsi itu, ketika membaca Bertuhan pada Bahasa, saya langsung mencari judul puisi yang serupa judul buku. Tapi, pencarian itu gagal. Bertuhan pada Bahasa tak hadir di daftar isi. Saya tak berpaling dan menaruh buku ini di rak. Saya gelisah. Mungkin ada maksud subtil di balik pemberian judulnya.

Judul buku ini memantik saya mengingat pernyataan Nurcholish Madjid (Cak Nur) yang mengartikan Lailahailallah sebagai ‘Tiada tuhan selain Tuhan’ bukan ‘Tiada Tuhan selain Allah’. Apa kaitannya dengan judul buku ini? Tidak ada. Saya sekadar mengingat, dan tidak memiliki kaitan dengan cara bertuhan ala Sengat Ibrahim.

Bila ada kaitannya, mungkin, saya akan “memaksa” mengaitkan agar nampak terkait. Cak Nur mencoba meniadakan tuhan kecil, sedangkan Sengat menguatkan tuhan kecil itu. Apa tuhan kecil Sengat? Ya, bahasa. Semoga Sengat tidak “murtad” dari janji primordialismenya.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) V, bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer (sewenang-wenang), yang digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasi diri. Yang menjadi pertanyaan, apa Sengat Ibrahim menuhankan bahasa Indonesia dan Madura? Sebab, Madura adalah bahasa ibunya, sedangkan bahasa kedua adalah Indonesia.

Dua bahasa Madura yang Sengat taruh di dua puisinya, seperti “Abe’” (aku) dan Bittheng Phae’ (kopi hitam). Dalam puisi “Abe’”-lah terdapat larik yang saya cari, yaitu bertuhan pada bahasa dan ia akhiri berlindung pada cinta. Seagung apakah “bahasa” itu sehingga dituhankan? Dan, sekuat apakah “cinta” itu sehingga aku-lirik menyerahkan dirinya pada cinta?

Bahasa dan cinta adalah cara Sengat mengabadikan orang-orang terdekat. Misalnya, pada puisi “Dramatik Bigulian”, “Dunia Fakih”, dan “Kembang Liur” untuk Daruz Armedian. Pada “Kembang Liur”, Sengat sangat jelas menggambarkan kehidupan keseharian Daruz Armedian—yang juga seorang penyair dan cerpenis muda.

Di tubuh baju-baju kotor yang kau campur

dan diikat dalam sarung sebagai bantal

sarung yang setiap tepinya bermotif kembang

musim kering

dan

kembang musim kering

yang kau siram dengan kucur air liur sepanjang tidur

seolah itu sketsa kebun anggur ….

Tak selesai di sketsa kebun anggur, Sengat sebagai aku-lirik mengajak pembaca mengetahui bahwa Daruz dan aku-lirik kerap gelisah dengan sajak-sajak yang mereka baca. Kamar menjadi subjek sekaligus sebagai ruang berproses kepenyairan mereka.

Kamar yang kerap memanggil-manggil jasad kita

melalui bahasa luka dan selusin derita neraka

yang kita baca dalam sajak-sajak romansa.

Kamar, jasad, bahasa, luka, dan sajak adalah kata kunci yang meresahkan. Tapi, saya perlu bertanya, apakah neraka berjumlah 12? Anggaplah ini metafora, seperti kata Chairil Anwar, aku ingin hidup seribu tahun lagi. Apa bisa manusia masa kini hidup selama seribu tahun? Sekali lagi, ini metafora.

Setiap penulis ingin menyampaikan pesan ke pembacanya. Apakah dalam bentuk esai, novel, cerpen, puisi, atau medium lainnya. Puisi “Talese’”, “Mata Tase’”, dan “Monche’” adalah cara Sengat menyampaikan hal-hal di sekitarnya. Saya tidak mengetahui apa arti dari tiga judul puisi itu. Ketidaktahuan itu memaksa saya mencari di KBBI V. Dan, tidak menemukan apa-apa. Apakah kata-kata itu adalah nama-nama kampung penulis yang lahir di Sumenep, Madura? Bila kita baca larik ini: bermain kelereng di tanah lempeng/ sehabis melepas layangan daun kering/ sebelum langit disempitkan kabel listrik (“Talese’”), terasa kita berada di suasana kampung yang masih menjaga permainan tradisional.

Mari kita baca puisi berikutnya yang menggambar ruang kampung nelayan:

Mata Tase’

adalah ombak menyibak pasir

menyapa getir kaki-kaki mungil

diempas angin meraup dingin.

adalah jalan rezeki bagi nelayan

sampan-sampan memenggal tujuan

tempat ikan-ikan memilih kediaman.

Puisi di atas menghamparkan suasana kampung nelayan, yang mana Sengat amat akrab dengan aktivitas riuh tersebut. Sebab, ia berasal dari Sumenep, Madura.

Sayangnya, pada puisi “Monche’”, Sengat tidak menulis tentang dia dan masa lalunya (kampung nelayan), tetapi dia dengan sesuatu yang baru baginya; tempat, pengetahuan, resah, dan rasa. Dialah ibu bagi setiap peradaban/ nyanyian bagi seluruh kota metropolitan/ tempat manusia melupakan perang.

Masih ada beberapa puisi yang Sengat tulis tentang dia dan mandalanya. Salah satunya “Joglo”;

Gus Zainal, berkatilah kami yang berdiam di joglo ini

joglo yang tersusun dari pohon-pohon mati

menarilah dalam sajak kami serupa tarian Tuhan

dalam mulut kami, sewaktu mengaji.

Puisi “Joglo” lahir dari proses kreatif Sengat selama di Komunitas Kutub. Komunitas yang didirikan Gus Zainal Arifin Thoha ini mengajarkan bagaimana ia menjadi penyair dan berjuang menitipkan nasib di koran minggu lokal dan nasional. Dalam pengantar buku, Sengat menulis;

“Setelah sampai di Yogyakarta saya dibuang secara percuma di Pondok Pesantren Hasyim Asy’ari atau dikenal dengan Komunitas Kutub, …

Selasa 16 Agustus 2016, saya pertama kali jualan koran. Dan pada hari Minggu, 20 November 2016, sajak-sajak saya dimuat pertama kali di Radar Surabaya. Saya bahagia menjadi penjual koran sekaligus turut aktif mengisi rubrik-rubrik koran yang saya jual tersebut.”

Buku yang diterbitkan Basabasi ini dibumbui tiga bagian dan sekitar 73 puisi. Untuk ukuran buku puisi yang beredar di toko buku, buku ini cukup tebal. Puisi paling pendek terdapat pada halaman 128, “Percayalah”: menangis cara yang benar menikmati dunia dan puisi yang panjang berjudul “Obituari Waktu”.

Dalam puisi yang panjang itu, Sengat memisahkan 17 puisi dengan waktu: detik, menit, jam, hari, bulan, dan tahun.

Saya cuplik beberapa bagian “waktu” yang Sengat tuliskan:

Obituari Waktu

15:15
dewi kenangan

sebelum kematian benar-benar membunuhku

aku ingin mengajari padanya merasakan kematian itu.

….

15:26
sore dewi kenangan

apa kabar masihkah kau

menyediakan tempat penginapan

bagi lelaki pengembara yang sejak lahir menghindari

medan perang?

….

16:25
dewi kenangan

gerbang kota memberi salam sebelum aku mengenal pulang

mungkin sebentar lagi senja bakal ikut-ikutan

dan pohon-pohon akan menghitam

….

Dalam puisi “Obituari Waktu” ini, saya tidak melihat lagi Sengat sebagai aku-lirik berada dalam mandalanya. Aku-lirik seakan menjauh dari akar kampung-Sumenep-Maduranya dan masuk pada tataran kenangan-masa silamnya. Bukan masa lalu aku-lirik dengan kampung halamannya, tetapi masa lalu dengan kenangan-cintanya.

Dalam puisi “Dramatik Kasih” (Radhika Rao & Vinay Sapru) (hlm. 47), “Dramatik Hidup” (Michael Damian) (hlm. 49), “Dramatik Bacaan” (Brian Klugman & Lee Stemthal) (hlm. 51), “Dramatik Kenangan” (John Carney) (hlm. 52), dan “Chronicle of a BLOOD Merchant” (hlm. 84), Sengat Ibrahim semakin menjauh antara ia dan “akar budaya”-nya; ia dan “akar bumi”-nya; dan, ia dan “akar sosial”-nya.

Pocer.co, 08 April 2018

Tiap Manusia Dilahirkan untuk Menjadi Pelawak

24 Jam Bersama Gaspar bukan cerita detektif ala Sherlock Holmes tapi Sabda Armandio. Di dalam buku yang menjadi unggulan pilihan para juri Dewan Kesenian Jakarta itu, pembaca diajak untuk menertawakan diri sendiri dan hal-hal ringan yang luput kita maknai. Bahwa your soul’s a bowl of jokes (hlm. vi) dan betapa lucunya umat manusia sampai-sampai aku menyimpulkan secara serampangan bahwa tiap manusia memang dilahirkan untuk menjadi pelawak (hlm. 19).

Bermula dari si tokoh aku yang bernama Gaspar mengajak beberapa temannya untuk mencuri kotak hitam di tokoh emas. Konon, kotak hitam ini mengakibatkan orang menjadi kaya. Pergulatan Gaspar agar bisa meyakinkan teman-temannya untuk terlibat dalam perampokan ini tidaklah mudah. Ada seni lobi yang dipakai oleh Gaspar, walau niatnya sekali saja melakukan aksi perampokan tapi mencuri itu candu yang tidak akan membawa kita ke mana-mana (hlm. 71).

Gaspar bersama Cortazar — motor yang kerap melawan keinginan tuannya — mendatangi satu persatu kawan-kawannya melakukan aksi di toko emas milik Wan Ali.

Costazar, Afif, Yadi, Bu Tati, Njet dan Kik yang membantu melakukan aksi ini. Pihak kepolisian cukup sulit melakukan penyelidikan atas perampokan yang tersusun secara rapi oleh Gaspar.

Jangan salah sangka, Gaspar telah memikirkan perihal siapa yang mesti ditarik ke dalam komplotan ini. Gaspar mengajak orang-orang yang paham tentang Wan Ali, posisi rumahnya, bagaimana aktivitas sehari-harinya, dan kotak hitam berada di bagian mana.

Kenapa mesti orang yang kenal Wan Ali? Karena segala sesuatu di negeri ini lebih mudah kalau punya orang dalam (hlm. 71).

Gaspar kerepotan ketika mengajak suami istri, Kik dan Njet yang sedang menyiapkan kelahiran anak mereka. Sedangkan uang sepersenpun tak punya. Apalagi orangtua mereka tak menganggap sebagai anak lagi hanya karena Kik dan Njet berbeda keyakinan.

Karena itulah aku datang sore ini, kutawarkan kepadanya jalan keselamatan: ikutlah merampok. Kau cuma perlu nyali, Njet (hlm. 98). Orangtua mana yang mau beli susu untuk anaknya dari hasil curian? Namun, kau pernah dengar cerita tentang suami yang ditinggal istrinya karena dia miskin? (hlm. 90).

Sabda Armandio (Dio) sebagai penulis 24 Jam Bersama Gaspar tidak membuat pembaca menjadi bingung atau membolak-balik halaman karena alur cerita begitu sulit. Tidak.

Dio menaratifkan dengan gaya ringan. Renyah lagi jenaka tersaji di sepanjang cerita dan beberapa dialog. Menurut saya, interogasi polisi kepada Bu Tati mengundang gelak tawa.

Seperti pada halaman 61: pertanyaan yang dilontarkan oleh polisi, apakah ada yang menyaksikan semua pengakuan Anda ini? Bu Tati menjawab, tentu saja ada: Tuhan. Polisi menyela, maksud saya, selain Tuhan? Dengan santai Bu Tati membalas, tiada Tuhan selain Allah, Pak.

Atau percakapan selanjutnya pada halaman 84:
Polisi: Kalau begitu Anda membenarkan dugaan saya?
Bu Tati: Sudah azan, saya ingin salat dulu.
Polisi: Bukan, itu bukan azan dari masjid. Itu nada dering ponsel teman saya di luar.
Bu Tati: Tetapi azan tetap azan, Pak.

Saya kira kepolisian Indonesia akan tetap geram kala melakukan interogasi pada saksi semacam Bu Tati yang tidak bisa dibilang pikun, bukan pula alzheimer. Dia hanya tidak ingat kejadian yang tidak ingin dia ingat (hlm. 87).

Ada banyak tokoh terkenal yang disebut dalam buku ini. Tapi, saya terusik dengan nama Arthur Harahap dalam kata pengantar.

Saya belum pernah dengar nama itu sebelumnya. Kalau Abdullah Harahap atau nama Arthur Conan Doyle, mungkin, kerap kita dengar namanya dan baca karya-karyanya.

Keterusikan itu membawa saya untuk mencari tahu siapa Arthur Harahap di internet. Dan saya tidak menemukan apa-apa.

Mungkin saja Dio sengaja menaruh tokoh rekaan dalam pengantar bukunya. Mungkin juga Arthur Harahap adalah gabungan dari nama Arthur Conan Doyle dan Abdullah Harahap.

Entahlah. Tapi ketika resmi membawa pulang motor yang kemudian kunamai Cortazar. Nama itu kuambil dari tokoh utama dalam novel karangan Arthur Harahap. Arthur Harahap mengambilnya dari pengarang kesukaannya, Julio Cortazar (hlm. 134).

Jawa Pos, Minggu, 21 Mei 2017