Kategori: Ulasan

Semesta Telembuk

Judul: Rab(b)i
Penulis: Kedung Darma Romansha
Penerbit: Buku Mojok
Terbit: Juli 2020
Tebal: 136 halaman

Dangdut tidak saja dinikmati lewat musik, tetapi juga lewat teks, dalam hal ini sebuah karya sastra. Kedung Darma Romansha bisa berdangdut lewat karya-karyanya.

Ia telah menulis tentang pelaku dangdut hingga santri di dalam dua novelnya, yaitu Kelir Slindet (2014) dan Telembuk: Dangdut dan Kisah Cinta yang Keparat (2017). Dua novel tersebut diterbitkan kembali oleh penerbit Buku Mojok pada 2020.

(selengkapnya…)

Resensi-Resensi “Nelayan Itu Berhenti Melaut”

Saya arsipkan resensi-resensi buku Nelayan Itu Berhenti Melaut yang tersebar di beberapa media. Buku pertama saya ini diterbitkan oleh Pojok Cerpen. Saya membaca dengan saksama ulasan mereka tanpa menggurutu atau kesel karena sudah mengurai kesalahan-kesalahan yang saya buat dalam menulis cerita. Bagi teman-teman yang mau membaca ulasan mereka, saya hadirkan enam resensi di sini.

(selengkapnya…)

Dari Resensi ke Kelahi

Buku kiat-kiat menulis terus diproduksi. Dan, orang-orang terus membeli. Namun, buku tersebut tak membuat tulisan mereka gagah, malahan merosot.

Tips menulis tidak ujug-ujug membuat kita lihai menyusun kalimat dan paragraf sehingga menjadi satu tulisan utuh. Namun, metode yang diajarkan penulis yang sudah lama bergulat di dunia teks, setidaknya, bisa membuka wawasan kita bagaimana membuat paragraf pertama, mengolah isi, dan mengakhirinya. Apalagi ditambah si penulis membentangkan contoh-contoh resensi dari prakemerdekaan, awal kemerdekaan, hingga pascareformasi, minimal, kita tahu bagaimana keragaman tulisan (resensi). Misal, resensi Mas Marco Kartodikromo, Tjan Kiem Bie, Sukarno, Mohammad Hatta, Poerbatjaraka, P. Swantoro, Sumitro Djojohadikusumo, H.B. Jassin, Abdullah Sp, hingga resensi milik Zen RS.

Muhidin M. Dahlan dalam buku barunya, Inilah Resensi, tidak sekadar memberitahu kita jalan menembus media massa seperti yang dilakukan oleh motivator menulis pada umumnya, tetapi ia memperlihatkan seratus lebih resensi untuk menjadi contoh bagaimana menulis resensi.

(selengkapnya…)

Untuk Apa Karya Hebat Lahir?

Pada 9 Oktober 2019, di Facebook, Eka Kurniawan mengunggah sikap penolakannya terhadap Anugerah Kebudayaan dan Maestro Seni tradisi 2019. Jelas menuai pro dan kontra, tetapi sikap Eka sudah final. Alasan Eka menolak penghargaan itu pun jelas dan mendasar.

Pada 10 Oktober 2019, Detiknews.com, Hilmar Farid sebagai Direktorat Jendral Kebudayaan juga menerima dengan baik alasan penolakan tersebut. Lalu, apa masalah kita meributkan penolakan itu? Padahal, yang mesti kita bicarakan adalah alasan-alasan Eka, yang mana salah satu poinnya adalah pemerintah Indonesia tidak serius mengurusi dunia perbukuan Tanah Air. Dengan alasan mendasar tersebut, seharusnya menjadi tamparan keras untuk pemerintah bahwa dunia perbukuan—pembajakan—di Indonesia tidak sedang baik-baik saja.


Saya tidak membahas polemik “kebudayaan” itu, tetapi mengulas sedikit buku terbarunya.
Eka Kurniawan tidak saja menulis cerita pendek dan novel, ia pun menulis esai. Beberapa bulan terakhir kita bisa membaca esainya di salah satu media luring sebulan sekali.
Pernah satu ketika, Eka berhenti aktif di media sosial, dengan alasan fokus membaca dan menulis. Mungkin, terdistraksi, lalu ia aktif dan konsisten menulis di jurnal pribadinya, ekakurniawan.com.

Dalam jurnalnya, ia menghadirkan ulasan-ulasan buku (fiksi dan nonfiksi) dan tokoh-tokoh sastra. Kehadiran jurnal pribadinya menjadi jalan baru bagi penulis pemula menjejak bacaan—dalam dan luar negeri—yang mahaluas. Kerja demikian pernah dilakukan oleh Salman Rushdie dalam buku Imaginary Homelands: Essays and Criticism 1981—1991 dan Step Across This Line: Collected Nonfiction 1992—2002; Italo Calvino di Why Read Classic; dan, Between Parenthesis­-nya Roberto Bolano.

Mengapa Eka mengulas buku? Begini kata Eka, “… banyak buku yang dibaca seseorang dalam hidupnya, tapi hanya sedikit yang diingatnya. Bersaing dengan nomor telepon, jadwal pembayaran tagihan, nama-nama sepupu jauh, percakapan di novel bisa lebih cepat pudar daripada bisikan kekasih” (hlm. v).

Mengulas buku adalah cara mengarsipkan bacaan kita. Ada misi pribadi terhadap peningkatan bacaan yang kita miliki, seperti anak milenial maupun generasi Z yang mengabadikan buku dengan memotret, lalu mengunggahnya di akun pribadi media sosial.
Tindakan anak milenial dan Eka adalah cara merayakan kebahagian bersama buku. Eka menangkap melalui teks, anak milenial menangkap melalui kamera. Dua-duanya sah, dua-duanya tidak berdosa.

Eka tidak menyembunyikan apa yang ia baca. Ia ungkapkan dengan ulasan sederhana tanpa tendensi berlebihan. Esai-esainya mengingatkan bacaan kita dan sastra Indonesia yang tidak berkembang dari tahun ke tahun.

Esai-esai dari titimangsa 2012—2014 dalam jurnalnya dibukukan oleh Penerbit Circa dan diberi judul Senyap yang Lebih Nyaring, yang diambil dari judul esainya pada halaman 329. Para penulis mesti belajar “diam” di kala orang-orang banyak bicara. Eka memberi contoh bagaimana polemik Gabriel Garcia Marquez dan Mario Vargas Llosa terlibat baku hantam di bioskop, yang mengakibatkan mata Marquez bengkak. Namun, kasus tersebut tidak diketahui duduk perkaranya. Marquez hingga akhir hayatnya dan Llosa hingga saat ini tak memberi tahu apa yang sedang terjadi di antara mereka. Mereka memilih diam.
Menarik kita telaah esai “Ketika Semua Orang Bisa Bicara, Apa Tugas Penulis?” (hlm. 160). Kemudahan akses informasi membuat semua orang menjadi ahli: ahli ekonomi, ahli politik, ahli sastra, dan ahli-ahli lainnya. Warganet berkomentar apa saja dan di mana saja. Di mana posisi penulis dalam hal ini? Apa mesti ikut keriuhan yang terjadi di media sosial? Menurut Eka, penulis semestinya diam.

Sekarang bukan lagi zaman di mana Seno Gumira Ajidarma saat menulis “Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara”. Orang banyak terbungkam karena penguasa, akhirnya penulis yang bicara. Lain hal dengan kondisi sekarang: orang banyak bicara. Masyarakat punya banyak akses terhadap informasi dan mereka bisa mengatakan apa saja.

Apa tugas penulis? Diam. Kembali ke kamar, baca buku, dan berpikir elaboratif. Namun, jangan lupa penulis juga jangan banyak berdiam diri, sesekali menengok ke luar, melihat realitas.

Dalam beberapa esainya, Eka tampak resah dengan sastra Indonesia. Apa itu sastra Indonesia? Apakah karya-karya Asmaraman S. Kho Ping Hoo dan Abdullah Harahap termasuk sastra? Apakah mereka berdua masuk kategori sastrawan? Kho Ping Hoo sebatas dikenal sebagai penulis cerita silat dan Abdullah Harahap sebagai penulis cerita horor. Mereka bukan sastrawan, lalu penulis seperti apa yang disebut sastrawan?
Mungkin dari keresahan tersebut, Eka bersama Intan Paramaditha dan Ugoran Prasad menulis kumpulan cerpen Kumpulan Budak Setan untuk mengapresiasi karya-karya Abdullah Harahap.

Eka juga menyoroti lingkaran sastra di ASEAN (Asia Tenggara) agar saling membaca karya. Kita jangan hanya menengok karya-karya dari Amerika Latin, Eropa, dan Timur Tengah. Ini memang pilihan pembaca, buku apa yang mereka baca, tetapi pilihan kepada karya-karya dari negara tetangga mestinya tidak luput dari jangkauan kita.

Eka tidak bermain ria dengan teori-teori sastra untuk mengulas satu buku dan memang ia bukan kritikus sastra. Ia penulis novel dan pembaca novel. “Membaca novel membawa saya ke satu dunia dan kehidupan, yang sadar saya memasukinya, bahkan memilihnya” (hlm. 296).

Dalam esai “Corat-coret di Toilet dan Hal-Hal Lain tentang Cerpen”, Eka mengatakan bahwa “… kesusastraan Indonesia tak lagi membutuhkan karya yang bagus. Sudah banyak. Yang benar-benar kita butuhkan adalah karya yang hebat, sebab sekadar bagus sudah tak lagi mencukupi” (hlm. 214). Pun tiap hari banyak buku baru diterbitkan.

Menghasilkan karya hebat membutuhkan kerja keras, bahkan “kerja paksa”. Namun, yang menjadi pertanyaan mendasar bagi kita, untuk apa karya hebat itu di tengah-tengah masyarakat Indonesia? Atau, untuk apa karya hebat di hadapan pemerintah yang belum menghargai sebuah buku?

Maaf, saya salah, pemerintah sangat menghargai buku: buku proyek.

Mata Kaki Aktivis

Tiap orang memiliki jejak sejarah masing-masing. Heran saja jika ada penulis kerap mengeluh tak punya ide saat menulis, padahal kita tahu manusia adalah sumber dari segala sumber.

Tak perlu menulis perihal “besar” dan akan menjadi abadi seperti kitab suci. Cukup tulis tentang di sekitar kita atau ikuti pesan banyak penulis: “Tulislah apa yang kamu ketahui”. Sesederhana itu.

Biasanya yang punya keinginan besar itu adalah penulis pemula. Pada akhirnya, keinginan tersebut mangkrak dalam angan. Tak dimulai, apalagi diakhiri. Dalam pikiran sudah banyak macam hasrat bahwa buku yang akan dia tulis mengguncang jagat kepenulisan.

Mata Kaki Kelilipan menampar para penulis seperti di atas, pun saya. Saleh Abdullah selaku penulis buku ini membentang kisah-kisah yang dia dapatkan secara empirik maupun dari buku-buku. Kisah dari ujung barat hingga timur Indonesia dia sapu bersih. Fragmen-fragmen yang tercecer dia susun apik menjadi esai naratif utuh.

Saya yang lahir tahun 90-an dan sadar di era milenium, buta akan Orde Baru. Saya tahu sejarah otoriter Soeharto dari beberapa sumber bacaan. Kalau tidak karena itu, gelaplah pengetahuan saya.

Banyak aktivis dipenjara di bawah cangkang Orde Baru. Aktivis yang dipenjara tersebut ditangkap karena bergerak membangun kekuatan petani, buruh, dan kekuatan massa lainnya.

Sudah menjadi pengetahuan umum, aktivis saat itu ada yang hilang dan belum ditemukan hingga sekarang. Dan, aktivis yang dipenjara, keluar dengan gegap gempita dan sekarang mereka banyak ambil posisi di berbagai jabatan politik.

Bahkan, ada yang nirsejarah. Budiman Sudjatmiko, misalnya.

Pada 21 Januari 2019, Budiman membuat tweet. Saya kutip secara utuh tweet­-nya:

“Jadi Golput pd pemilu2 palsu di era rezim otoriter itu sikap merdeka. Mengampanyekannya adlh sikap pemenang. Jd Golput di era denokrasi itu hak. Tp mengampanyekan Golput saat calon Progresif sdg melawan calon Konservatif Radikal/Rasis itu sikap pecundang.”

Sikap pecundang dari mana? Orang memilih Golput dan mengampanyekannya adalah sikap idealisme. Mereka menjaga kewarasan berpikir atas kedua calon presiden yang tidak menghadirkan tindakan serius atas masalah masalalu.

Pun Golput tidak melanggar konstitusi. Seandainya ada “Kertas Kosong” pada pemilihan calon presiden 2019, saya meyakini “Kertas Kosong” menang. Seperti yang terjadi pada Pilkada 2018 di Kota Makassar.

Pada 28 Mei 1971, Arief Budiman, Syahrir, Adnan Buyung Nasution, Imam Waluyo, Yusuf AR, Marsillam Simanjuntak, Julius Usman, dan Asmara Nababan mendeklarasikan berdirinya Golongan Putih (Golput). Mereka menolak ikut terlibat dalam Pemilu pertama Orde Baru pada tahun itu. Mereka adalah orang-orang yang menjaga idealisme dan demokrasi (hlm. 54).

Alasan mereka mendeklarasikan Golput, sebab Soeharto menerapkan strategi fusi atau peleburan partai. Ada belasan partai yang dileburkan dan tertinggal tiga partai saja: Golongan Karya, PPP, dan PDI. “Tak perlu diragukan, tujuan strategi fusi partai itu, di antaranya, adalah untuk mengeliminasi sikap oposisional dari partai-partai yang ada ketika itu, dan tentu saja juga untuk memudahkan Soeharto dalam mengontrol” (hlm. 51).

Bila Pemilu 2019 mayoritas rakyat Indonesia memilih Golput, jangan kaget. Sebab, rakyat disodorkan calon presiden itu-itu saja. Ini karena presidential threshold, partai politik harus mengantongi 20 persen kursi atau 25 persen suara sah nasional pada Pemilu 2014 agar bisa mengusung pasangan capres dan cawapres. Golput harga mati. Begitulah.

Pemilihan calon presiden Indonesia banyak diwarnai dengan isu rasialisme. Narasi seperti: orang Cina banyak menyerbu negeri ini; negeri ini tak akan dipimpin oleh bukan orang Jawa; dan penganut nonmuslim tak layak menduduki kursi kepresidenan sangat familer di media massa dan diskusi warung kopi.

Tindakan rasialisme tersebut juga menyebar di kalangan bawah, persekusi merajalela. Orang yang waras akal pikirannya pasti menolak isu dan tindakan demikian. Bila kita kembali tengok sejarah bangsa ini, pada isi Sumpah Pemuda, semestinya kita sadar bahwa persekusi tidak harus hadir dalam percakapan masyarakat kita.

Di lingkarangan teman-teman saya untuk menyebut “dasar orang timur” atau “dasar Cina” atau “sialan! Jawamu kental banget” atau “logat timurmu jelek banget” adalah sebatas candaan. Tidak perlu emosi dan menjadi suluh pertengkaran.

Diksi itu akan berbahaya apabila dikeluarkan ke ruang publik, apalagi bila disambut dan dikaitkan dengan politik. Mengapa ruang publik kita masih saja tak menerima perbedaan demikian?! Saya hitam dan Anda putih. Selesai.

Pada esai “Mari Tertawakan Rasisme yang Kadung Terlembaga”, Saleh memberitahu kepada kita, rasialisme harus ditertawakan, bukan dijadikan alasan saling memusuhi satu sama lain.

“Kita mungkin bisa lebih mudah memaafkan caci maki, tetapi tetap akan sulit melupakannya. Humor adalah salah satu media yang kemungkinan besar, karena sudah sering terbukti, menjadi cara aman untuk mengekspresikan hal-hal terpendam” (hlm. 143).

Banyak sejarah, polemik, dan cerita sehari-hari yang diangkat oleh Saleh. Dia mampu memberikan alternatif perspektif kepada kita perihal isu-isu terkini. Dia merespons isu, tapi selalu mengaitkan dengan isu masalalu.

Buku pertamanya ini terbagi menjadi empat bab: “Mata Kaki Kelilipan”, “Pancasila & Archimedes”, “Perjalanan”, dan “I Stand With Gondrong”. Bab terakhir, menurut saya, tidak terfokus pada tema tertentu, pun bab “Mata Kaki Kelilipan”.

Tema yang terfokus hanya dua bab: “Pancasila & Archimedes” yang diisi dengan esai-esai politik lalu dan kini, sedangkan, “Perjalanan” mengisahkan turba si penulis ke berbagai daerah pelosok di Indonesia, khususnya Papua.

Saleh Abdullah adalah aktivis senior di Indonesian Society for Social Transformation (INSIST). Dia kerap mengawal pendidikan masyarakat di Indonesia Timur.

Dia mengisahkan dengan rapi kondisi masyarakat Papua, tanpa lupa unsur kejenakaan. Dia menghadirkan orang-orang Timur tidak sebagai objek, tapi subjek. Sehingga—menurut saya—pembaca orang Timur tidak merasa “dieksploitasi”.

Kekonsistenan Saleh Abdullah mengawal pendidikan masyarakat di Indonesia Timur, membuat dia menjadi orang Timur yang sangat Timur.

Pada turba itu, Saleh mendapat diktum kuat dari tetuah Mandar, Haji Ando.
“… kami bisa melupakan kematian para leluhur, tapi tak akan bisa melupakan warisan leluhur”.

Ingat kasus tanah di berbagai daerah?

Begitulah.

Revius, 04 April 2019

Mengobati Lumbung Kebosanan Hidup

Suatu ketika di warung kopi di Jogja, seorang editor penerbit membagi pengalamannya ke saya. Bahwa ia pernah jalan kaki dari Jakarta hingga Lombok. Ia datangi Gunung Rinjani. Ia membutuhkan waktu empat bulan perjalanan. Menurutnya, itu pengalaman sangat berharga selama ia hidup. Saya bertanya, mengapa tak naik kereta atau bus atau pesawat atau kendaraan lainnya? Jawabannya: zaman sekarang begitu cepat berlari, kita perlu berhenti sejenak dan menikmati langkah kaki. Kira-kira begitu yang saya tangkap.

Saya terheran-heran dengan jejak editor itu. Masih ada saja pikiran seperti demikian. Mungkin saya yang berlebihan menanggapi pengalaman editor tersebut.

Pada 2007 ada sebuah film Into the Wild disutradarai Sean Penn. Berkisah anak muda bernama Christopher “Chris” McCandless berpetualang ke gurun Alaska selama dua tahun. Chris lulus sarjana pada Mei 1990 dari Jurusan Sejarah dan Antropologi Universitas Emory, Druid Hills, Amerika Serikat. Tak lama kemudian, ia menghancurkan kartu kredit dan dokumen identitasnya. Uangnya ia sumbangkan kepada Oxfam (organisasi nirlaba dari Inggris berfokus pada pembangunan penanggulangan bencana dan advokasi) dan sisakan untuknya sedikit saja. Tanpa sepengetahuan orangtua dan saudaranya, ia mulai berpetualangan lewati California Utara, Dakota Selatan, Meksiko, Slab City (California), Salton City (California). Singkatnya, ia banyak hadapi medan berbahaya—terutama di Lake Mead—namun ia selesaikan dengan baik. Tapi, ia tak mampu hadapi tanaman hama Hedysarum mackenzii ‘buncis liar’ sangat beracun, yang ia kira adalah biji Hedysarum alpinum ‘kentang liar’. Ia meninggal di bus dan meninggalkan catatan di buku harian dan dinding dalam bus. Film itu diangkat dari buku Into the Wild karya Jon Krakauer (1996).

Kota menjadi lumbung kebosanan. Para penghuninya dengan segala cara menghilangkan rasa bosan. Ada pergi ke gunung, hutan, laut, atau tempat rekreasi yang tersedia di dalam kota. Puisi Umbu Landu Paranggi “Apa Ada Angin di Jakarta” (1983) menjadi refleksi kita bahwa kota bukan tujuan, tapi persinggahan untuk menjadi warga desa. Apa ada angin di Jakarta / Seperti dilepas desa Melati / Apa cintaku bisa lagi cari / Akar bukit Wonosari // Yang diam di dasar jiwaku / Terlontar jauh ke sudut kota / Kenangkanlah jua yang celaka / Orang usiran kota raya // Pulanglah ke desa / Membangun esok hari / Kembali ke huma berhati.

Kita mesti kembali ke desa, membangun bukan merusak. Kembali membawa harapan dan meninggalkan hiruk-pikuk kota. Desa adalah surga yang kita tinggalkan.

Semangat meninggalkan kota dan pergi ke desa atau tempat paling sunyi sudah dilakukan oleh Henry David Thoreau pada akhir Maret 1845. Ia meninggalkan Kota Concord di bagian barat laut Boston, Massachusetts, AS. Thoreau tidak pergi ke desa—tapi lebih jauh dari itu, ia jemu dengan gosip murahan masyarakat. Ia pergi ke hutan segar. Di hutan, ia tinggal sendirian di dekat Danau Walden yang cantiknya bukan main. Tanah yang ia tempati adalah milik Ralph Waldo Emerson, sahabat Thoreau yang mengenalkannya transdentalisme (aliran pemikiran yang condong individual dan kemandirian). Ia merasa bahwa Walden adalah tempat sekaligus fondasi berlabuh yang indah.

“Walden berwarna biru di suatu waktu dan hijau di waktu lainnya, bahkan dari sudut pandang yang sama. Lantaran terbentang di antara bumi dan langit, Walden mengambil warna keduanya” (hlm. 225). Airnya tembus pandang hingga ke dasar. Ikan-ikan perch dan shiner berukuran sekitar 2,5 sentimeter nampak jelas dari pinggir danau. Di pinggiran Walden terhampar batu putih bulat halus, menurut Thoreau seperti batu ubin.

Sekitar empat kilometer ke arah barat, ada yang mirip dengan Walden yaitu Danau Putih di Nine Acre Corner. Tapi, tidak sejernih dan seindahan Walden. Di Walden, Thoreau membangun rumah dan tinggal selama dua tahun lebih. Tujuan ia tinggal di Walden, “… bukan untuk hidup murah atau sengsara, melainkan untuk menjalankan usaha pribadi dengan rintangan sesedikit mungkin; terhambat dari sebuah pencapaian hanya karena ketiadaan sedikit akal sehat, sedikit kegigihan, dan bakat usaha, bukan hanya menyedihkan, tapi juga kebodohan” (hlm. 27).

Thoreau meminjam kapak dari kawannya. Ia menebang pohon pinus putih muda dan pohon hickory untuk bangunan rumah mungilnya yang akan ia tempati. Ia memotong kayu utama dengan ukuran empat puluh sentimeter persegi. Selama dalam pembangunan rumah, ia tidak lama di hutan. Sebab, belum ada tempat inap. Sehingga, tiap hari ia pulang pergi dari desa ke Walden. Biasanya, ia membawa bekal roti dan mentega untuk makan siang.

“Saya tidak terburu-buru dalam bekerja, tapi berusaha mengerjakannya sebaik mungkin. Karena itu, baru pada pertengahan April kerangka rumah saya terbentuk dan siap untuk didirikan” (hlm. 55). Di awal Mei, kawan-kawannya membantu Thoreau mendirikan rumahnya. Atas bantuan itu, ia merasa paling terhormat sehingga pada 4 Juli, akhirnya ia tempati rumah tersebut. Saat pagi, Thoreau menanam kentang, kacang polong, dan buncis. Itulah beberapa menu makanan sehari-harinya. Kadang, ia memancing di tengah danau. Saat malam, ia membaca dan menulis. Aktivitas produktif.

Banyak hal yang Thoreau ceritakan dalam buku Walden or Life in the Woods, lalu diterjemahkan Ratih Dwi Astuti ini. Bukan saja perihal Danau Walden, tetapi perenungannya tentang kehidupan, ekonomi, sosial, masyarakat yang kurang baca buku, dan kegelisahannya kepada pemerintah. Perenungannya ia dapatkan selama tinggal di pinggir Danau Walden.

Membaca Walden merangsang semesta imajinasi saya tentang danau indah di Indonesia. Apa ada? Jika ada, penulis mana yang mengisahkannya?

Genre memoar ditulis dengan rasa prosa ini adalah hasil eksperimen kehidupan Thoreau. Menurutnya, “Inilah kehidupan; sebuah eksperimen yang sebagian besarnya belum saya jalani; tetapi tak ada gunanya bagi saya mengetahui bahwa orang lain telah menjalaninya. Andai saya memiliki pengalaman yang menurut saya berharga, saya yakin yang saya alami itu tidak pernah disampaikan oleh mentor saya” (hlm. 13).

Buku ini diterbitkan Penerbit Basabasi dan tata sampul adalah sukutangan. Sukutangan melakukan kesalahan kecil, tapi fatal yaitu salah menulis nama Henry David Thoreau. Di punggung buku tertulis Hendry David Thoreau.

Terlepas dari keindahan Walden, kegelisahan Thoreau, dan kesalahan kecil sukutangan, mungkin layak kita baca saksama pesan Thoreau pada halaman 402: “Apakah daging yang diawetkan diciptakan hanya untuk mengawetkan daging? Tidak, jadilah seorang Kolombus bagi benua-benua dan dunia-dunia baru, di dalam diri kalian, membuka jalur-jalur baru, bukan jalur perdagangan, melainkan jalur pemikiran”.

Berdikari Book, 04 April 2019

Polemik Rambut Gondrong

Mantan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin sempat mengatakan bahwa rambut gondrong adalah hak asasi manusia. Namun, ia tetap menginstruksikan aparat pada 1968 untuk mengadakan razia rambut gondrong. Bahwa rambut gondrong sebaiknya sesuai dengan norma-norma: baik dan buruk, sopan dan tidak sopan dalam suatu masyarakat. Di Jakarta, rambut gondrong belum diterima secara umum menjadi hal baik.

Kebijakan Ali Sadikin tersebut menuai pertentangan dari aktivis, seperti Arief Budiman. Arief menulis di Kompas, 22 Januari 1968. Ia kecewa dengan sikap Gubernur Ali Sadikin yang menyikapi fenomena rambut gondrong tersebut. Menurut Arief, “… pada dasarnja persoalan jang mengganggu rambut gondrong adalah persoalan selera, bukan persoalan jang mengganggu ketentraman umum”.

Pelarangan rambut gondrong terus bergulir. Pada 1973, Kapendam II/Bukit Barisan, Letkol M. Jusuf menindak tegas kepada anak-anak yang berambut gondrong karena kerap tidak taat kepada orang tua. Kredo demikian diafirmasikan oleh Menteri Dalam Negeri Amir Machmud dengan melaksanakan diskusi membahas rambut gondrong dengan para siswa SMA di Jakarta. Amir secara terang-terangan mengatakan bahwa ia tidak menyukai rambut gondrong. Dan, dalam program di TVRI, Senin malam 1 Oktober 1973, Pangkopkamtib Jenderal Soemitro menyebutkan bahwa rambut gondrong membuat pemuda menjadi onverschiling ‘acuh tak acuh’.

Polemik rambut gondrong ini mengakibatkan kegelisahan pada masyarakat setelah Pangkopkamtib membuat pernyataan di TVRI menjadi isu nasional sehingga beberapa daerah, seperti di Medan, Yogyakarta, dan Makassar pun mengadakan aksi-aksi pelarangan rambut gondrong kepada siswa dan mahasiswa. Pemuda secara umum. Pada Indonesia Raya, 6 Desember 1973, memuat gambar pengumuman di kantor kepolisian Salatiga dengan huruf kapital. Seperti ini bunyinya: PARA-TAMU. SEBELUM BERHUBUNGAN URUSAN DINAS SILAHKAN “JANGAN” BERAMBUT GONDRONG BERPAKAIAN KEDODORAN. TERIMA KASIH.

Orde Baru memang tidak main-main dengan pemuda berambut gondrong. Pemuda rambut gondrong dilekatkan dengan sifat buruk, seperti nakal, pengguna narkotika, peminum miras. Mereka harus dikontrol oleh negara. Untuk membantu pengontrolan itu, negara melibatkan peran orangtua. Orangtua yang memiliki anak berambut gondrong akan dikucilkan oleh masyarakat. Bahwa mereka tidak mampu mengurusi anak. Dengan demikian, orangtua sangat mencemaskan apabila mempunyai anak yang berambut gondrong. “… melihat gaya hidup remaja yang baru merebak di masa Orde Baru, rasa khawatir muncul di kalangan orang tua” (hlm. 73).

Bahkan, rambut gondrong layaknya penyakit berbahaya sehingga di Sumatra Utara, Gubernur Marah Halim membentuk badan khusus. Bandan itu bernama “Badan Koordinasi Pemberantasan Rambut Gondrong” (Bakorperagon). Badan ini bertujuan sebagai pembasmi gaya rambut yang tidak sesuai dengan kepribadian dan kebudayaan Indonesia.

Mengagungkan Media Cetak

Liputan Balairungpress.com, 05 November 2018, “Nalar Pincang UGM atas Kasus Perkosaan” seharusnya menjadi kesadaran kepada seluruh Lembaga Pers Mahasiswa (di) Indonesia bahwa portal daring begitu kuat dan meluas. Tidak hanya berkutat di ranah luring.

Di Kota Malang, di Gedung Pusat Pengembangan Ilmiah (PPI) Universitas Brawijaya (UB), 17 Oktober 1992, lahirlah Perhimpunan Penerbit Mahasiswa Indonesia (PPMI). Untuk apa organisasi penerbit mahasiswa itu? Selain untuk “kumpul-kumpul” antar-aktivis Persma, pun menjadi ibu dari seluruh pers mahasiswa (di) Indonesia. Sebab, Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia (IPMI) vakum sejak 1982. Entah alasan apa, intinya vakum.

Para jurnalis belia yang masih ada di kampus, mesti berterima kasih kepada Kota Malang. Selain karena jejak sejarah pers mahasiswa, kota apel ini juga melahirkan organisasi Islam, yaitu Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) pada 7 Desember 1990. Pengurus serta anggota ICMI adalah kakak-kakak dari mahasiswa (Islam) di seluruh kampus. Mahasiswa itu kaum intelektual. Intelektual itu bagian dari umat cendekiawan. Benar enggak, sih?

Lebih heroik lagi, kata Heyder Affan Alkaff—salah satu pendiri PPMI—menyebut bahwa Kota Malang menjadi pionir kemunculan Persma lain di Jawa Timur pada 1980-an. Kota Malang—saat Orde Baru—tidak hanya tempat mendirikan organisasi-organisasi, namun ia mencetak sejarah lain. Seperti, adanya Tabloid Mingguan Mahasiswa dibentuk oleh Agil H. Ali, Djanalis Djanaid, Ahmad Latif, Suharyono, dan Farid Atmadiwirya. Dan, Majalah Canopy, Fakultas Pertanian UB. Canopy bukan saja majalah yang menghabiskan anggaran kampus. Tetapi, ia penggerak, lalu melahirkan keputusan nasional. Itu terbaca saat Canopy meliput isu lemak babi dan beritanya meluas ke ruang publik. Sehingga, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengambil keputusan agar semua produk diberi label halal melalui Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetik (LPPOM).

Liputan Majalah Canopy tersebut persis terjadi dengan kasus di Balairungpress.com: dari kecil hingga meluas.

Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI)
Sesuai penjelasan di Persma.org bahwa PPMI hasil dari perubahan nama IPMI pada Kongres III di Jember (tahun?). IPMI terbentuk pada 16-19 Juli 1958 dalam Konferensi Pers Mahasiswa Indonesia II (tidak jelas di mana tempatnya). IPMI hasil dari peleburan dua organisasi pers mahasiswa sebelumnya, yaitu Ikatan Wartawan Mahasiswa Indonesia (IWMI) dan Serikat Pers Mahasiswa Indonesia (SPMI).

IWMI dan SPMI diiniasasi oleh Majalah GAMA dan dukungan beberapa majalah lainnya. Lahirnya dua organisasi ini pada konferensi pertama pers mahasiswa, 8 Agustus 1955, di Kaliurang, Yogyakarta.

Belum selesai di situ. Pembentukan IWMI dan SPMI karena terpengaruh organisasi pers umum saat itu, yakni Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dan Serikat Perusahaan Pers (SPS). IWMI mengurus kewartawanan dan SPMI mengurus tata perusahaan media. Pada masa ini, IWMI dipimpin Nugroho Notosusanto, sedangkan SPMI oleh T. Jacob.

Waktu kelahiran IPMI, kondisinya sulit sebab pemerintah Sukarno memberlakukan kontrol ketat terhadap pers. Pemerintah “mewajibkan” surat kabar untuk bergandeng tangan dengan partai politik tertentu dan diminta mengumumkan afiliasi masing-masing secara terbuka kepada khalayak (Hill, 2011: 139).

Tekanan untuk berpihak pada partai politik pada Orde Lama tersebut terbawa juga ke masa Orde Baru. Jadi, jangan heran apabila ada beberapa pers mahasiswa condong ke pemerintah.

Tetapi, jangan salah kira bahwa tidak ada Persma melawan penguasa saat itu. Ada. Ini di antaranya: Gajah Mada dan Gama di Yogyakarta; Majalah Forum dan Mahasiswa di Jakarta; di Bandung ada Arena (1959), Tjarano (1960), Pembina (Sospol Unpad, 1960), Harian Berita-Berita ITB (1961), Gelora Teknologi (Dewan Mahasiswa ITB, 1964). Namanya juga pembangkang, jalannya, ya, terseok-seok. Bahkan, mampus riwayatnya.


Penulis beken yang kita kenal saat ini—berproses pada 1990-an—beberapa sempat berkutat di Lembaga Pers Mahasiswa (LPM). Setelah lulus atau merasa tidak nyaman lagi menjadi mahasiswa, mereka menjadi wartawan di media lokal maupun nasional. Dan, ada yang fokus berkutat menulis resensi, esai, cerpen, novel, dll. Mencari pekerjaan yang selaras dengan dunia tulis-menulis.

Seakan majalah/koran kampus adalah gelanggang kecil menjadi penulis “hebat” nantinya. Mengapa demikian? Sebab, hanya majalah/koran kampuslah wadah satu-satunya bagi mereka belajar menulis. Namun, itu dulu, sebelum media sosial atau media dalam jaringan merebak. Sekarang, para mahasiswa yang ingin belajar menjadi penulis atau wartawan tidak mesti masuk di LPM). Komunitas menulis alternatif bertebaran di mana-mana, di kota-kota besar. Belajar autodidak adalah sebuah keniscayaan.

Saya mengutip kalimat Daniel Dhakidae yang sangat “memuji” peran Persma pada 1977: “… suara keras pers mahasiswa dan keberagaman pers mahasiswa adalah suara yang melengking di padang gurun. Atau kalau itulah bernama kebebasan pers, maka kebebasannya tak lebih dari kebebasan dalam sebuah cagar alam. Dan kalau begitu maka kampus menjadi cagar alam kebebasan pers, yang sayang kalau dibuang karena dia enak dan mengasyikkan untuk ditonton!”

Mestinya Dhakidae mengubah pernyataannya itu di era milenial sekarang. Bahwa pers mahasiswa sudah buntu, tersumbat, tidak melengking lagi di padang gurun. Sebab, Facebook, Twitter, Instagram, dan media daring lainnya lebih melengking di sabana.

Masih banyak pers mahasiswa yang “mengagungkan” media cetak. Seolah media cetak waw. Padahal, pergeseran media sudah beralih ke media dalam jaringan: situs web atau blog. Pembaca sudah banyak mengakses internet. Dunia internet ini yang tidak dimaksimalkan oleh para jurnalis belia di kampus-kampus. Hitung saja berapa eksemplar koran dan majalah kampus dicetak per tahun. Ruang lingkup pembaca pasti terbatas. Itu pun kalau ada yang baca. Sedangkan, bila dunia internet diberdayakan, ruang pembaca bukan saja dalam kampus, pun di luar.

Para jurnalis belia yang masih menjunjung etika jurnalistik ini kerap misuh karena konten Tribunnews.com hanya mencari keuntungan lewat klik. Tidak mengutamakan konten yang baik dan bermanfaat untuk masyarakat. Bila tidak suka dengan pola kerja media seperti itu, apa salahnya jurnalis belia ini “melawan” dengan cara memberi konten sesuai kode etik jurnalistik. Dengan cara apa? Yah, buat website-lah. Lebih murah bikin website daripada biaya musyawarah besar atau kongres yang hanya mengubah satu atau dua kata dalam AD/ART.

Melalui internet, perbedaan geografis tidak lagi menjadi sekat. Orang-orang dari negara dan latar belakang berbeda dapat saling bertemu dan berhimpun sesuai minat dan kepentingan yang sama (hlm. 239).

Pengakuan Elyvia Inayah—selaku penulis—bahwa buku ini hasil pengolahan kembali dari skripsi berjudul Gerak Pers Mahasiswa Pasca-Reformasi: Studi Eksplorasi pada Pers Mahasiswa di Kota Malang. Kota Malang menjadi sampel Elyvia untuk membaca sejarah pers mahasiswa yang timbul-hilang dalam jejak pers di tanah air.

Saya mesti mengutip testimoni dari Produser di British Broadcasting Corporation (BBC) Indonesia, Heyder Affan Alkaf, bahwa: “Inilah buku pertama yang membahas cara pandang aktivis pers mahasiswa di Malang terhadap PPMI. Pada lingkup yang lebih kecil, buku ini bisa pula disebut sebagai rujukan pertama untuk melihat kembali sejarah kelahiran pers mahasiswa di Universita Brawijaya, Malang.”

Kalau Anda aktivis pers mahasiswa (di Malang) dan tidak setuju pernyataan Heyder tersebut, silakan bedah buku ini dan kuliti pelan-pelan. Lalu, Anda berhak menerima dan menolak, bahkan menyinyir. Tanyakan kepada penulisnya, berapa total Lembaga Pers Mahasiswa di Indonesia? Demikian!

Si Ujud: Sangkilat dari Lamuri

/1/
Ulasan novel Kura-Kura Berjanggut tersebar di beberapa media nasional. Kita tidak disedorkan ulasan minus, mayoritas plus. Seketat itukah prosa garapan Azhari Aiyub sehingga nyaris tidak ada celah?

/2/
Saat Kerajaan Aceh yang dipimpin Sultan Iskandar Muda sedang berjaya di Selat Malaka, di waktu bersamaan pada titimangsa awal abad ke-17 M—setidaknya masa seperti itu yang tertera di Kura-Kura Berjanggut—ada juga kerajaan kokoh di ujung barat pulau Sumatra. Kerajaan ini banyak gajahnya, kayu sapang, bambu, penghasil kapur barus, dan rempah-rempah. Kerajaan ini bernama Lamuri. Beberapa teks Arab menyebutnya “Rami” atau “Ramni” atau “Lambri”. Daerah ini telah menjadi lintas budaya, lintas sektoral, dan lintas batas. Beberapa teks Cina, Arab, dan Eropa menyebut “Lamuri” dengan kondisinya.

Pada abad ke-13 M, teks-teks Cina menyebut nama tempat Lan-wu-li atau Lan-li yang dianalisis sejarawan bahwa Lan-wu-li atau Lan-li adalah nama lain dari Lamuri. Bahkan, Marco Polo—di akhir abad ke-13—menyebut nama Lamuri dengan sebutan “Lambri”. Dalam buku Kerajaan Aceh: Zaman Sultan Iskandar Muda (1607-1636) karya Denys Lombard, nama Lamuri pun disebut oleh Ibn Sa’id (akhir abad ke-13 M); oleh Rasid ad-Din (1310 M); oleh Abulfida (1273-1331 M).

Azhari Aiyub menyebut tahun dalam kisahnya. Sekitar akhir abad 16 dan awal abad 17 M. Bahkan, di halaman pertama kisah bermula, Azhari menyebut “Oktober 1612”. Seperti aku sudah sebutkan di paragraf sebelumnya bahwa pada 1607 sampai 1636 M Sultan Iskandar Muda sedang memimpin Kerajaan Aceh. Artinya, titimangsa Kesultanan Lamuri yang dikisahkan Azhari dan kepemimpinan Sultan Iskandar Muda itu bersamaan.

Karena tidak ada literatur yang cukup aku dapatkan perihal Lamuri secara nonfiksi sehingga Lamuri masih dalam bayang-bayang yang dikisahkan oleh Azhari. Tetapi, dalam azharnasri.blogspot.com bahwa salah seorang sultan—menurut Hikayat Atjeh—yang terkenal di Kesultanan Lamuri adalah Sultan Munawwar Syah. Konon, ia adalah moyang dari Sultan Iskandar Muda. Sekarang, Lamuri menjadi objek diskusi dan sumber narasi. Lamuri menjadi latar utama dalam buku karya Azhari Aiyub yang telah memenangi Kategori Prosa Kusala Sastra Khatulistiwa (KSK) 2018.

Apa istimewa buku novel ini?

/3/
Anda perlu ingat tiga nama ini: Si Ujud atau tokoh Aku, Kamaria, dan Sultan Nurruddin. Tiga orang itu yang mengantar kita ke akhir cerita di halaman 676 dalam “Buku Si Ujud”, bukan Kura-Kura Berjanggut.

Aku mulai cerita dengan adegan Kamaria bersenggama bersamaku di “Menara Kabut”. Saat itu, Aku tidak konsentrasi menaklukkan tubuh Kamaria, setidaknya memuaskan dia mencapai titik klimaks. Dia menuduh Aku memikirkan wanita lain saat kami bersetubuh. Padahal, tidak. Bukan wanita lain yang Aku pikirkan, melainkan bagaimana cara membunuh Sultan Nurruddin yang telah membunuh kedua orangtuaku.

Aku begitu dendam kepada Sultan. Aku mesti membuat muslihat musang emas untuk membunuhnya. Aku belum tahu bagaimana merancang siasat ini.

Pada lain kesempatan, Sultan mendatangiku di menara kabut saat menjelang dini hari. Sultan mengisahkan sejarah Kesultanan Lamuri yang sedang ia pimpin: wilayah-wilayah yang ia taklukan, kisah sirkus dari negeri Siam yang membuat orang-orang Lamuri tertawa. Aku menyimak dengan saksama. Yah, namanya juga sultan, mesti didengar. Namun, di pertemuan langka kami ini, Sultan begitu ramah kepadaku. Banyak cerita yang Sultan kisahkan, tetapi ia harus pergi. Balik ke istana. Sebelum Sultan pergi, ia berkata kepadaku seperti ini: “Pagi ini kau kuangkat sebagai sangkilat” (mata-mata yang mematai mata-mata).

/4/
Aku langsung ke akhir cerita dalam “Buku Si Ujud”. 676 halaman amat sangat tidak cukup diulas dalam esai 1.000-an kata. Bahkan, jika ulasan ini sebanyak separoh halaman dari “Buku Si Ujud”, tidak cukup mengurai kompleksitas cerita Si Ujud dan Lamuri-nya. Begitu banyak tokoh, banyak konflik, dan banyak latar. Dua stadium lagi, buku ini membosankan dibaca. Namun, aku sangat menikmatinya, sebab pencerita adalah Aku dan Aku lihai menarik-ulur cerita.

Pada “Darud Dunya” halaman 675 dikabarkan Sultan Nurruddin alias Anak Haram meninggal diracun oleh perempuan melalui payudara yang telah dioles racun. Racun ini persis seperti jenis racun yang pernah membunuh ibu dari Anak Haram. Lalu, bagaimana muslihat Si Ujud untuk membunuh Anak Haram? Tak perlu kita berpikir konvensional terhadap cerita yang kita baca. Sebab, di situlah hasrat seorang pembaca untuk mengetahui apa Si Ujud berhasil terhadap muslihat yang ia susun atau tidak. Artinya, keinginan Si Ujud agar Anak Haram meninggal sudah diwakili oleh perempuan (tanpa nama). Perlu diketahui bahwa Anak Haram sangat mendambakan keturunan anak laki-laki untuk meneruskan posisinya sebagai sultan (seperti keinginan ayahnya [?], Sultan Maliksyah yang menginginkan anak laki-laki dari istri-istrinya. Namun, keinginan itu tidak berbuah hasil. Suatu ketika, Sultan Maliksyah bertemu Ramla [budak Abesy atau ibu Nurruddin] di Bandar Lamuri. Mereka berdua mengalami kontak hubungan seksual. Ramla menjadi istri Sultan Maliksyah. Ramla hamil, tapi banyak yang menuduhnya bahwa itu bukan hasil senggama dengan Sultan Maliksyah. Sebab, asal Ramla tidak diketahui dari mana. Mungkin sebelum bertemu Sultan Maliksyah, Ramla sudah hilir-mudik dengan laki-laki lain. Sehingga, anak yang dikandungi Ramla disebut “Anak Haram”) dan menaklukan Melaka. Dua hal itu tak didapatkan oleh Sultan Nurruddin hingga ajalnya tiba.

/5/
“Buku Si Ujud” sangat tebal daripada “Buku Harian Tobias Fuller” dan “Lubang Cacing”. “Buku Si Ujud” menghamparkan kisah Kesultanan Lamuri pada akhir abad ke-16 M hingga awal abad ke-17 M. Sebelum baca buku Kura-Kura Berjangkut ini dalam otakku tak terdeteksi lema “Lamuri”. Anggaplah aku memang tak membaca kisah kesultanan itu atau eminen Kerajaan Aceh Darussalam dan Samudra Pasai yang selalu dikisahkan sehingga kerajaan-kerajaan lain di ujung Sumatra tidak muncul di permukaan sejarah Indonesia kita. Lagi, mungkin aku malas mencari tahu perihal itu.

Azhari Aiyub adalah pencerita yang baik. Ia memoles sejarah Nusantara abad 16 dan 17 M dengan menggunakan medium fiksi bukan perihal main-main. Apalagi, ia memakai sudut pandang orang pertama tunggal. Ini semacam projek yang “mustahil” dilakukan oleh penulis prosa kontemporer Indonesia.

/6/
Aku kira Azhari juga mencoba berusaha bereksperimen di buku keduanya ini. Setelah kita dihadirkan bagian “Buku Si Ujud” menggunakan metode bercerita konvensional, Azhari menyisip satu bagian yang diberi judul “Buku Harian Tobias Fuller: Para Pembunuh Lamuri”. Bagian ini adalah catatan harian Tobias Fuller, seorang dokter jiwa hebat pada masa Hindia Belanda. Fuller hilang di daerah Lamuri dan tidak ditemukan hingga sekarang, setidaknya hingga pada 2009 saat Bantaqiah Woyla menulis artikel “Tentang Tobias Fuller dan Buku Hariannya”.

Menurut Woyla bahwa Fuller mulai menulis buku hariannya pada 3 Mei 1914 (hari ketiganya di Lamuri). Semula dia menulis secara teratur setiap hari Minggu, hingga kegiatan itu terganggu (kita tidak tahu kenapa), dan berhenti sama sekali pada 1 Oktober 1915.

Aku kutip dua bagian dalam “Buku Harian Tobias Fuller” perihal Kura-Kura Berjanggut. Ditulis pada 13 Desember 1914 dan diberi judul “Piramida Setan Jan Leo”:
Kepada Jan Leo, aku menyinggung, sekali lagi, tentang pembunuh yang semuanya seperti bersepakat mengatakan bahwa mereka membunuh karena terperangaruh buku Kura-Kura Berjanggut. Setelah pembunuhan Letnan Jacob oleh Abdo Madjid pada 6 Juli, terjadi dua pembunuhan lagi pada 26 Oktober di Kutaraja, dengan jarak yang agak berdekatan. Salah satu pembunuh menganut satu kepercayaan kuno yang menurutku aneh, yaitu agama Kerang. Aku sempat bertemu kedua pembunuh tersebut. Keduanya seperti bersekongkol mengatakan bahwa mereka membunuh karena buku Kura-Kura Berjanggut, sebagaimana alasan yang pernah kudengar dari Abdo Madjid.

Aku bertanya memang ada berapa versi buku Kura-Kura Berjanggut. “Cuma ada satu versi. Edisi 1613. Ditulis oleh Putri Tajul Dunya.” Jang Leo menjelaskan, PID menyita dua salin buku Kura-Kura Berjanggut dari skriptorium al-Zahir. Saat meninggalkan Lamuri, Abdoel Gaffar membawa salah satunya. Mungkin yang paling lengkap. Karena edisi 1613 yang berada di tangan PID juga bukan edisi paling lengkap. “Tapi,” kataku. “Aku diberi oleh Letnan Gerard edisi 1629.” Jan Leo memandangku sejenak. “Ditulis oleh Si Ujud?”

/7/
Pada bagian “Lubang Cacing”, Azhari melampirkan daftar artikel-artikel—semacam—menguatkan bahwa “Buku Si Ujud” dan “Buku Harian Tobias Fuller” benar-benar nyata adanya. Ada enam artikel:

~ Badai dan Perjalanan (Jean Claude, Tempete et voyage, Arsip Liga Suci, Paris, sekitar 1821, hlm. 231-256)
~ Penyelewengan Perasaan Penderita Kusta (Si Agam, Batavia Bode, Batavia, edisi November 1913, hlm. 1-3)
~ Catatan Fakir bin Sabi (Fakir bin Sabi, marjinalia pada salinan Kitab Ad Damigh Ibn ar Rawandi berjudul Kedatangan Orang Franj Si Tobias Fuller, sekitar Jumadil Akhir 1333, Lamuri)
~ Unta Nabi Sulaiman dan Raja Kura-Kura (Xavier Bautista, Visita, akhir 1616, hlm. 101-102)
~ Perihal Abdoel Gaffar dan Si Ujud (Bantaqiah Woyla, draf makalah untuk simposium Peringatan Satu Setengah Abad Abdoel Gaffar, musim panas 2007)
~ Buku Saku Marinir Amerika Serikat untuk Indonesia (Ratna Juita, 2009)

/8/
Musim dingin di Geldersekade, Amsterdam, Belanda pada 2009, Bantaqiah Woyla menulis catatan mengenai “Buku Si Ujud”, “Buku Harian Tobias Fuller”, dan “Lubang Cacing”.

Tajul Muluk (seorang tahanan politik berumur enam puluh sembilan tahun) di sebuah tempat yang dirahasiakan di Kepulauan Berhala. Muluk akan dieksekusi mati oleh pemerintahan Indonesia. Sebelum ajal Muluk melayang, ia meminta untuk bertemu Woyla. Dan, itu kali pertama Woyla menginjak kaki ke negara Asia. Muluk memberi koper berisi dua buku ke Woyla, “Buku Si Ujud” dan “Buku Harian Tobias Fuller”.

Beberapa puluhan tahun kemudian, Woyla mengalihaksarakan “Buku Si Ujud” ke huruf Latin dan menerjemahkan “Buku Harian Tobias Fuller” ke bahasa Indonesia dari bahasa Melayu. Ada beberapa artikel yang ia gabungkan di “Lubang Cacing”. Setelah itu, ia kirim naskah itu ke penerbit Indonesia.

Basabasi.co, 25 Oktober 2018

Pesantren Tak Melayani Cebong dan Kampret

Pesantren itu sarang calon cendekiawan atau calong teroris; calon ustaz pemarah atau pemurah. Semestinya, dari pesantren lahirlah ide-ide segar tentang Islam. Bukan terlibat pada pergulatan cebong dan kampret.

Pertarungan ide—seperti dilakukan Ahmad Wahib, Nurcholish Madjid, Dawam Rahardjo, dan cendekiawan lain (muda) yang hidup pada Orde Baru—nyaris kita tak temukan di era ini. Semua melempem, semua menunduk. Di awal 2000-an, Ulil Abshar Abdala sempat membuat geger wacana Islam (di) Indonesia. Sayangnya, selesai di situ saja.

Pesantren muncul sebelum Indonesia merdeka. Lembaga serupa pesantren sudah ada sejak masa kekuasaan Hindu-Budha. Hanya saja Islam yang melanjutkan dan diubah dengan nuansa keislaman. Keunikan Islam terletak di situ, bisa masuk dan mengakulturasi. Persilangan budaya asal dengan gagasan keislaman masuk tanpa tumpang tindih, tanpa ada yang tersisih.

Narasi dari pengikut “Islam Kanan” mencoba membersihkan atau memurnikan Islam dari akar budaya Indonesia atau budaya setempat. Konon, ajaran Islam sekarang sudah jauh dari semangat Nabi Muhammad; keislaman sekarang harus kembali ke ajaran asal yang dibawa oleh Sang Nabi. Ini keliru. Sebab, banyak pertanyaan lahir bila pemikiran itu disemat pada umat Islam di Indonesia. Salah satunya, ajaran mana saja yang murni? Bukankah ajaran Islam yang kita terima sekarang adalah hasil dari penafsiran sahabat nabi, ulama, dan seterusnya.

Tawaran dari “Islam Kiri” atau “Islam Progresif” mesti diterapkan pada pemeluk Islam (di) Indonesia: bukan merespons ini bidah atau tidak. Tetapi, melakukan tindakan nyata menghadapi kesewenang-wenangan penguasa dan korporasi.

Bila kita lihat perampasan hak tanah di beberapa daerah, para cendekiawan dan ulama tak hadir mengadvokasi atau menjadi benteng untuk rakyat. Malahan, mereka membantu melegitimasi penguasa dan korporasi untuk berbuat apa saja atas tanah rakyat. Apakah itu terjadi karena pendidikan kontemporer di Indonesia?

Pendidikan modern di Indonesia berhutang kepada pendidikan ala pesantren. Banyak tokoh bangsa Indonesia memiliki latar pendidikan pesantren, seperti Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Nurcholish Madjid (Cak Nur).

Menurut Nurcholish Madjid, “Dari segi historis pesantren tidak hanya identik dengan makna keislaman, tetapi juga mengandung makna keaslian Indonesia (indigenous)”.

Glosari dalam buku Biografi Gus Dur karya Greg Barton mengartikan pesantren adalah sekolah Islam yang menyediakan asrama dengan tekanan khusus pada pendidikan Islam. Hingga saat ini, kebanyakan pesantren terletak di pedesaan dan hanya berurusan dengan pelaksanaan pendidikan Islam tradisional. Kurikulum pesantren dewasa ini kebanyakan merupakan perpaduan antara pokok-pokok studi sekular dan juga yang berbahasa Arab/bersifat agama. Pelajaran juga diberikan dengan cara yang tak banyak berbeda dengan yang terjadi di sekolah-sekolah konvensional sekular.

Saya cek arti pesantren di Kamus Besar Bahasa Indonesia mutakhir memiliki arti yang terlalu sederhana dibandingkan glosari dalam Biografi Gus Dur. Yaitu, asrama tempat santri atau tempat murid-murid belajar mengaji. Semoga lema “mengaji” diartikan sebagai membaca buku-buku atau belajar di luar membaca alquran.

Pesantren adalah tempat belajar ilmu agama dan sekular. Lalu, apa bedanya pesantren dan boarding school?

Pesantren kerap identik dengan pendidikan Islam tradisional sehingga pesantren hanya milik kelompok tertentu, yaitu Nahdlatul Ulama (NU). Dan, Muhammadiyah yang mendaku sebagai organisasi Islam modern membuat lembaga pendidikan Islam—serupa pesantren—tak berani atau sungkan menyebut lembaga pendidikan tersebut sebagai pesantren, namun Boarding School.

Banyak kisah yang Ahmad Khadafi hamparkan dalam bukunya. Yang bikin teriris—setidaknya menurut saya—perihal pengampunan dosa. Khadafi membagi kisah itu menjadi tiga bagian: “Kembali ke Fitri dan Adakah Dosa yang Tak Terampuni”.

Tokoh utama adalah si “pria”. Ia risau pada malam terakhir Ramadan. Apakah dosanya akan diampuni olehTuhan atau tidak? Sebab, ia merasa dosa-dosanya begitu besar. Kita tahu bahwa pengampunan Allah sangat besar kepada hamba-Nya. Coba kita lihat Q.S. An-Nisa: 110: “Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

Namun, si pria tak mempan dengan ayat-ayat seperti itu. Ia masih saja gamang. Ia terus bertanya kepada ustaz dan kiai. Ia bertanya, “Apa benar Tuhan akan mengampuni segala dosa hamba-Nya yang bertobat?” Gus Amar menjawab: “Lha, iya, memang benar. Selagi napas dan kesadaran masih ada, jika seseorang bertobat, insyaallah, akan diampuni.”

Apa dosa-dosa yang si pria lakukan? Pertama, ia nikahi anak dari seorang yang menghutang banyak kepadanya. Hutang itu lunas apabila anak dari pemiliki hutang diserahkan kepada si pria. Kedua, mabuk-mabukan. Ketiga, main judi. Keempat, saling bertengkar dan memukul istrinya. Kelima, ia memerkosa anaknya sendiri. Keenam, ia menghamili anaknya sendiri. Ketujuh, istri dan anaknya gantung diri. Kedelapan, memerkosa mayat anaknya.

Dengan deretan dosa yang dilakukan si pria, apakah Tuhan mengampuninya? Khadafi mengisahkan dengan sederhana. Kisah tersebut mengandung pesan moral untuk kita.

Sandal jepit menjadi ilustrusi tunggal pada sampul buku ini. Mungkin karena dunia pesantren identik dengan sandal jepit. Sandal jepit adalah simbol kesederhanaan.
Atau, mungkin karena satu kisah tentang sandal jepit: “Kiai As’ad Situbondo dan Para Preman Penjaga Sandal”. Kisah ini ditempatkan di urutan pertama di halaman pertama.

Alkisah, masjid pesantren kerap kehilangan sandal tiap salat Jumat. Para jemaah (santri dan warga) merasa bahwa yang mencuri sandal-sandal itu adalah kepala preman kampung. Kiai As’ad Syamsul Arifin—pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Situbondo—mendatangi dedengkot preman tersebut.

“Sandal jemaah di masjid ini sering hilang kalau salat Jumat. Saya bisa minta tolong untuk mengamankannya?” pinta Kiai As’ad kepada sang dedengkot preman.

“Gampang itu, Kiai. Paling yang curi, ya, masih anak buah saya. Biar saya yang jaga,” tanggap si preman. Salat jumat selanjutnya, kepala premanlah yang jaga, berlangsung cukup lama. Pada akhirnya, sandal di masjid tersebut tak ada lagi yang hilang.

Namun, pada momen tertentu si kepala preman merasa bosan menjaga sandal dan malu bahwa ia seorang kepala preman ditakuti di kawasan itu, kok, menjadi penjaga sandal jemaah masjid. Ia pengin sandalnya juga dijaga seperti ia menjaga sandal para jemaah. Akhirnya, ia meminta kepada anak buahnya untuk menggantikan posisinya. Ia salat jumat dan rutin melakukannya.

Anak buahnya pun merasa bosan dan ingin seperti kepala preman: dijaga sandalnya saat salat Jumat.

Metode dakwah yang dilakukan oleh Kiai As’ad sangat manjur. Ia tidak menggurui dengan mengeluarkan ayat-ayat Tuhan dan sabda-sabda Nabi agar para preman menjalankan perintah Allah. Tetapi, ia meminta menjaga sandal karena aduan para jemaah. Dan, akhirnya sandal-sandal tidak ada lagi yang hilang dan para preman istiqamah melakukan salat Jumat.

Ada empat puluh dua kisah yang ada di daftar isi. Banyak kisah kiai hadir. Ada Kiai Hasyim Muzadi, Kiai Wahab, Kiai Bisri, Kiai Umar Solo, Kiai Ma’ruf, dan tak lupa ada kisah Gus Dur.

Kisah Gus Dur saat kuliah di Kairo. Kadafi memberi judul “19 Ekor Anjing Peliharaan Gus Dur” pada halaman 23. Saya tak menceritakan ulang kisah itu. Sebab, ada makna yang tersirat tak mampu saya ceritakan di sini. Tiap pembaca punya kadar pengetahuan masing-masing menangkap apa yang ia baca.

Saya malahan tertarik dengan testimoni Gus Dur terhadap buku Al-Azhar: Menara Ilmu, Reformasi, dan Kiblat Keulamaan karya Zuhairi Misrawi. Apa kata Gus Dur? Ini: “Saya banyak menyimpan kenangan pada masa saya tinggal di Mesir, saat belajar di al-Azhar. Masa-masa itu adalah saat yang paling penting dalam hidup saya, sebab saat itu merupakan pembentukan kepribadian. Saya lahir tahun 1940 dan saat di Mesir itu saya in the prime of life”.

Saya kira testimoni tersebut adalah gelagat untuk tahu bagaimana kisah Gus Dur dan 19 ekor anjing peliharaannya.

Selama dua jam membaca Dari Bilik Pesantren emosi saya perpindah-pindah dari ceria (tertawa) dan sedih. Kisah-kisah sederhananya memiliki pesan yang tak sederhana.

Sayangnya, buku ini hanya mengisahkan pesantren dan serpihan-serpihan lainnya, tak ada kisah tentang boarding school.

Berdikari Book, 20 Oktober 2018