Kategori: Esai

Meraba Mata Angin, Membaca Tanda

Pada Minggu, 08 Desember 2019, kapal Padewakang yang diberi nama Nur Al Marege dengan panjang 14,5 meter dan lebar 4,2 meter berlayar menuju Darwin, Australia, dalam eksepedisi “Before 1770”. Pelayaran tersebut menapaktilasi pelaut Sulawesi Selatan yang mengambil teripang di utara Australia pada abad ke-17 hingga abad ke-19.

Padewakang adalah kapal yang menjadi cikal-bakal kelahiran perahu pinisi di Sulawesi Selatan. Menurut Ridwan Alimuddin, anak buah kapal Nur Al Marege, menyebut bahwa Padewakang yang mereka operasikan dalam ekspedisi “Before 1770” tanpa menggunakan mesin diesel dan memakai konstruksi seperti 250 tahun lalu. Yaitu memakai layar tanjag (berbentuk segi empat) berbahan organik (serat daun gebang) yang ditenun dan dijahit oleh pelaut-pelaut Mandar.

Padewakang Nur Al Marege memulai perjalanannya dari Makassar ke Galesong (Bulukumba), Tana Beru, Pamatata, lalu ke Pulau Kalao, Pulau Madu, Larantuka, Wai Wuring, Wai Lalong, Baranusa, kemudian lanjut ke Mali (Pulau Alor), Ilwaki (Pulau Wetar), Pulau Masela, Saumlaki, hingga pada 28 Januari 2020, mereka tiba di Cullen Bay Marina, Darwin, Australia.

Menurut Charles Campbell Macknight, penulis buku The Voyage to Marege’: Pencari Teripang dari Makassar di Australia, setiap musim angin barat pada periode 1750—1780, tak kurang dari seribu pelaut asal Makassar dan Bugis singgah di pesisir Darwin. Kedatangan pelaut Sulawesi tersebut memengaruhi kebudayaan suku asli Australia, Aborigin, yang masih terasa hingga sekarang, misalnya agama Islam yang dianut oleh warga setempat.

Baca selengkapnya di Majalah Indonesiana

 

Keterangan:

Semua foto di tulisan saya adalah milik Muhammad Ridwan Alimuddin

“Berbicara” Itu Ada (Seninya) Upahnya

Saya telah berniat untuk tidak ribut perihal honor di dunia buku. Selain melelahkan, pun tidak berdampak signifikan bagi saya.

Saya masih hidup begini-begini saja: masih beli paket internet 1 GB; masih nongkrong di warung kopi yang kopinya seharga 5 ribu per cangkir; dan beli rokok kretek seharga 13 ribu rupiah per bungkus. Meski begitu, saya tetap bersyukur, sebab itu semua sudah istimewa bagi saya.

Akan tetapi, akhir-akhir ini saya terganggu, sangat terganggu dengan kabar yang saya dengar dari dunia buku. Yakni, tentang para penulis yang harus mengalami perlakuan “tidak dibayar dengan layak” saat menjadi pembicara di beberapa festival sastra dan buku yang banyak diadakan pada akhir-akhir ini—festival yang dibiayai pemerintah maupun swasta. Namun, tidak semua penulis mengalami demikian.

(selengkapnya…)

Gus Dur Tidak Dilengserkan ‘HMI Connection’, tetapi ‘Akbar Tandjung Connection’

Gara-gara Muhidin M. Dahlan, koneksi-koneksi HMI dianggap sebagai salah satu bagian dari kelompok yang bertanggung jawab melengserkan Gus Dur. Enak aja.
Terserah kalian bila mau jelek-jelekin HMI dan membenturkannya dengan PMII. Atau, kalian mau katakan “HMI Connection” yang mengudeta Gus Dur dari tampuk kursi presiden pada 2001.

Atau, kalian taklid buta atas buku Menjerat Gus Dur karya Virdika Rizky Utama, bahkan ada yang belum baca buku tersebut, tetapi sudah memercayainya dengan hikmat.

(selengkapnya…)

Mengapa Gaji Editor di Indonesia Menyedihkan?

Menjadi editor tak pernah terpikirkan dalam hidup saya di Banggai Laut, Sulawesi Tengah, mendapat lembar-lembar uang (bukan puing emas) dari kerja mengedit naskah.

Saat kecil, saya seperti anak pada umumnya yang bercita-cita kalau besar nanti akan menjadi polisi, guru, atau tenaga kesehatan (baca: profesi yang memakai pakaian seragam).

Editor adalah “menunda” untuk menjadi seorang penulis. Atau, mengambil jalan editor karena ia gagal dalam kepenulisan. Ada pula orang yang bisa menjadi editor sekaligus penulis.

Editor adalah pembaca kuat. Matanya mata elang, tengok sana dan sini. Niatnya mencari lubang-lubang yang luput diperhatikan oleh penulis.

Beberapa editor yang saya kenal di Yogyakarta bertahan di posisinya sekarang, sebab memang tidak ada jalan lain, dengan konsekuensi di belakangnya. Salah satunya honor editor.

Ada mekanisme pembayaran honor editor yang belum paten di ekosistem perbukuan Yogyakarta, khususnya di penerbitan indie, yang banyak membutuhkan jasa editor lepas.

Pekerja tetap di penerbit memiliki gaji pasti, yang mungkin sesuai UMR setempat, dalam hal ini di Yogyakarta. Sedangkan, gaji pekerja lepas tidak memiliki gaji atau honor pasti. Beberapa penerbit memiliki honor yang berbeda kepada editor, ada juga yang sama.

Kita ketahui bahwa UMR daerah ini begitu rendah dibandingkan UMR daerah lain di Indonesia. Sedangkan, biaya hidup terus melonjak dan meninjak.

Saya editor lepas di beberapa penerbit. Kadang, saya mengambil pesanan dari luar Yogyakarta. Saat ada pesanan dari luar Yogyakarta, saya bisa menentukan honor yang mesti si pesanan bayar. Namun, saya belum bisa menerapkan itu di penerbit Yogyakarta karena ada semacam aturan pembayaran yang belum jelas dari mana asalnya dan itu lakoni oleh penerbit indie: Rp5.000.00 per halaman Microsoft Word atau halaman buku. Bukan angka lima ribu itu yang bermasalah, namun per halamannya, sesuai Microsoft Word atau buku.

Misal, penerbit A menerapkan Rp5.000.00 per halaman MS. Word A4 (huruf Times New Roman, ukuran huruf 12, dan spasi 1.5), penerbit B menerapkan Rp5.000.00 per halaman buku.

Yang menjadi masalah saat penerbit B memiliki ukuran buku yang berbeda-beda. Ukuran buku yang kerap diterapkan oleh penerbit: 12 x 18 cm; 13 x 19 cm; 14 x 20 cm; 14 x 21 cm; 15 x 23 cm. Jika ukuran buku kecil, editor akan diuntungkan. Tapi, bila ukuran buku cukup besar maka editor akan dirugikan. Sebab, semakin besar ukuran buku, jumlah halaman akan berkurang.

Belum lagi penerbit yang nakal mengotak-atik spasi dan memainkan ukuran, itu akan memengaruhi jumlah halaman buku dan pula berdampak kepada bayaran editor.

Perbedaan honor editan ini membuat teman-teman editor yang saya kenal menjadi bingung. Standar honor mana yang mesti kita—semua pelaku buku—terapkan? Tidak ada standarisasi format yang jelas akan merugikan semua pihak.

Kita banyak membaca berita di media massa bahwa buruh di perusahaan tertentu di kota tertentu tidak menerapkan upah buruh layak. Lalu, bagaimana dengan kasus buruh editor? Apakah sudah layak?

Mungkin membicarakan gaji di publik adalah hal tabu. Tapi, di lingkaran kecil di warung kopi, gaji seperti ini kerap dibicarakan. Penerbit A menerapkan dengan jumlah sedikit, sedangkan penerbit B menerapkan jumlah banyak. Ada semacam pembicaraan yang tak mungkin dikomunikasikan secara langsung kepada penerbit, namun diam-diam kita membicarakannya di belakang. Apa yang salah bila gaji editor mempunyai standarisasi?

Bila royalti penulis bisa dibicarakan secara terang-terangan: penerbit A memberi royalti 10% dan penerbit B mengasih 15%, kenapa gaji editor tidak? Atau, jika royalti penulis sudah mempunyai standar, mengapa gaji editor tidak?

Atau, seperti ini: jika banyak buruh di perusahaan menuntut gaji mereka dinaikkan, mengapa editor tidak bisa menuntut gaji dinaikkan? Padahal, kita ketahui bersama bahwa editor adalah buruh juga.

Mungkin, gaji editor disesuaikan oleh jejak editannya di mana-mana. Berarti di sini, ada kategori editor senior dan junior. Anggaplah ada dan memang ada, tapi yang menjadi pertanyaan: kategori editor senior dan editor junior itu seperti apa?

Saya kira, para pelaku perbukuan mesti menyadari bahwa ini masalah bersama. Penerbit jangan hanya diam dan sadar bahwa honor Rp5.000.00 per halaman itu sudah usang diterapkan di Yogyakarta dan tidak ada niat menaikkannya. Editor pun demikian, jangan hanya mutung di warung kopi dan tidak ada gerakan jelas untuk kemakmuran bersama. Membicarakan gerakan buruh di perusahaan tertentu begitu lihai, namun keok saat nasib buruh itu terjadi kepada kita sendiri.

Mungkin, akan ada pertanyaan selanjutnya: standar gaji editor lepas memang berapa?

Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2017 tentang “Sistem Perbukuan”, Pasal 19 menyebutkan bahwa editor punya hak: pertama, membentuk organisasi profesi, kedua, mendapatkan imbalan atas naskah editannya.

Butir pertama, saya belum mendengar ada organisasi profesi editor di Indonesia. Entah kapan organisasi seperti itu akan muncul. Butir kedua, imbalannya tidak jelas. Seberapa banyak imbalan yang didapatkan oleh editor?

Saya berpikir positif terhadap butir kedua tersebut. Mungkin imbalannya disesuaikan dengan UMR setempat. Namun, UMR akan berlaku pada pelaku buku yang kerja tetap di penerbit. Itu pun kalau penerbit menerapakan UMR. Lalu, bagaimana dengan editor lepas, apakah imbalannya sesuai hati pemilik penerbit?

Poinnya utama yang saya ingin sampaikan bahwa gaji editor lepas mesti ada aturan yang pasti: pembayarannya berapa dan berdasarkan apa. Sesuai ukuran buku atau halaman naskah format Microsoft Word.

Terakhir, editor pun harus tahu diri, sudah seberapa jauh ilmu pengeditan yang kita miliki.

Geotimes, 28 Juli 2019

Pembajakan Buku Membunuh Banyak Orang

Penerbit, penulis, dan semua yang terlibat dalam industri perbukuan menjadi resah karena pembajakan buku. Tidak tanggung-tanggung buku bajakan tersebut dijual bebas di toko buku luring dan daring, di marketplace seperti Bukalapak, Shopee, Tokopedia bejibun jumlahnya. Di Instagram dan Facebook pun buku bajakan merajalela.

Mengapa itu bisa terjadi? Bila kita tanya kepada pembaca yang kerap membeli buku bajakan, pasti akan menjawab: MURAH. Apa iya buku asli itu mahal? TIDAK JUGA. Penerbit-penerbit indie di beberapa kota menjual buku mereka begitu murah. Melalui preorder, akses kepada bacaan bermutu tidak sesulit yang dipikirkan oleh mereka yang doyan beli buku bajakan. Yang mahal itu bukan harga buku, tapi ongkos kirim dan PPN harga kertas.

Atau, bila tak ingin membuang uang Anda untuk membeli buku, perpustakaan digital solusinya. Tinggal beli paket data, masuk ke Play Store, unduhlah perpustakaan digital. Di sana sangat banyak judul buku. Melalui perpustakaan (digital), Anda bisa berhemat dan tak berdosa.
Banyak penerbit dan penulis “mengeluh” di media sosial atas tindakan pembajakan ini. Eka Kurniawan menulis perihal pembajakan buku di Facebook dan Muhidin M. Dahlan membuat esai di Mojok.co dan Jawa Pos. Mereka mengalami bagaimana ketidaksejahteraan penulis di negeri ini.

Tere Liye sempat mengeluhkan royalti penulis yang kecil dan pajak yang tinggi, tidak menghitung hari, keluhan itu langsung direspons oleh pemerintah. Bagaimana dengan keluhan penulis lainnya mengenai pembajakan buku tersebut? BELUM ADA KABAR.
Mayoritas penerbit Jogja dan Jakarta resah terhadap masalah ini. Pemilik penerbit Jogja kebingungan bagaimana mengatasinya. Penerbit di Jakarta, seperti Marjin Kiri kalang kabut melihat buku terbitan mereka dibajak dan dijual bebas di marketplace dan media sosial. Siapa yang harus bertanggung jawab?

Saya tampilkan status Ronny Agustinus, pemilik penerbit Marjin Kiri, di Facebook, 25 Februari 2019:
Kawan-kawan yang masih peduli perbukuan Indonesia, saya mengharapkan bantuannya melaporkan massal akun Buku Rakyat di IG agar segera diambil tindakan. Akun ini menjual banyak sekali buku bajakan yang jelas bukan hanya dari Marjin Kiri saja, tapi juga aneka penerbit baik besar, kecil, mayor, indie. Dia secara jelas mencantumkan nonori pada deskripsi.
Tahun lalu kami sudah mengingatkannya lewat WA maupun DM tapi rupanya tidak dianggap serius sehingga sepertinya memang harus seperti ini cara mengingatkannya.
Dulu juga, alasan membajak buku adalah bukunya sudah langka sementara cetak ulangnya tidak ada. Lalu ada juga yang bilang, ah penulisnya sudah kaya, buku dibajak juga tidak apa-apa. Buku Konferensi Asia Afrika karya Wildan Sena Utama ini jelas mematahkan alasan-alasan enggak bermutu dan enggak masuk akal tersebut. Buku ini aslinya masih banyak beredar dan mudah didapat, lalu saya tahu betul penulisnya yang adalah pengajar dan peneliti, bukan orang kaya. Dia membutuhkan royalti dari penjualan bukunya yang jelas2 digarong oleh pembajak-pembajak berkedok ideologis macam Buku Rakyat ini.
Tapi kan enggak cuma Buku Rakyat saja pelakunya? Benar, tapi kita bisa mengupayakan para pembajak ini ambruk satu-satu dari media sosial dan marketplace.

Buku Rakyat beralamat di Kec. Depok, Kab. Sleman, DI Yogyakarta. Saya mengecek kembali akun IG-nya, alamat lengkap sudah tidak ada. Mereka takut. Dan, ini perlu ditindak secara hukum apabila mereka tidak mau menghentikan penjualan buku bajakan tersebut. Yang mengagetkan adalah akun IG-nya memiliki pengikut 18 ribu. Sudah berapa keuntungannya dari hasil jualan buku bajakan? Saya tidak bisa membayangkannya.

Toko buku bajakan lainnya, seperti Wacana Sosialis menjual buku bajakan di Shopping, pasar buku terbesar di Jogja. Wacan Sosialis bertempat di lantai 2, naik tangga, belok kiri, lorong tengah, kios kedua sebelah kanan.

Saya pernah membeli buku bajakan. Saya kira kebanyakan mahasiswa baru yang menginjak Jogja pernah melakukan ini. Saat saya terlibat di dunia buku, ternyata membuat buku itu susah. Susah. Sangat susah.

Menulis itu susah. Mengedit itu susah. Memeriksa aksara itu susah. Me-layout itu susah. Mendesain sampul itu susah. Dengan serba susah ini ditambah lagi kesusahan mereka oleh pembajak buku. Royalti penulis terputus. Pemutaran keuangan di penerbit mandek.
Coba baca kembali status Ronny Agustinus di atas!

Atau, kita simak cuplikan esai Muhidin M. Dahlan, “Pram dan Pembajakan Buku”, yang dimuat di Jawa Pos, 7 Februari 2019: “Soal pembajakan buku, Pram tak punya kata damai. Bahkan, bila itu dilakukan sahabat terdekatnya sekalipun. Lebih baik putus tali persahabatan yang lama ketimbang membiarkan praktik pembajakan buku berlangsung di hadapannya. Tak ada kemuliaan persahabatan (arti dari Hasta Mitra) dalam perihal pembajakan”.

Pramoedya tidak mau akur dengan pembajak buku. Selain karena merugikan penulis dan penerbit, pembajakan buku adalah tindakan kriminal.

Yang jadi pertanyaan, ke mana saja pelaku perbukuan Indonesia? Mengapa tidak melaporkan pembajakan buku tersebut? Bagaimana kabar IKAPI?

Bila kita lihai menggoreng isu penyitaan buku komunis, mengapa tidak bisa menggoreng isu pembajakan buku? Padahal, banyak orang yang dirugikan. Bahkan, membunuh banyak orang, sebab sirkulasi bisnis buku terhambat. Penerbit kolaps. Pekerja dipecat. Keuangan keluarga terancam. Siapa yang diuntungkan di sini? Jelas produsen dan penjual buku bajakan.

Pada 21 April 1997, Gatra meliput fenomena pembajakan ini. Redaksi memberi judul “Pembajak Pun Tetap Melenggang”. Pembajakan buku telah membuat rugi penerbit Balai Pustaka sebesar Rp125 miliar. Jumlah yang banyak. Tidak hanya Balai Pustaka yang mengalami kerugiaan pada saat itu, pun Mizan dengan buku terbaik mereka, Wawasan Al-Quran: Tafsir Maudhu’i atas pelbagai Persoalan Umat karya M. Quraish Shihab. Kamus Inggris-Indonesia dan Kamus Indonesia-Inggris karya John M. Echols terbitan PT Gramedia Pustaka Utama hingga sekarang bajakannya masih banyak beredar.

Yang perlu dimusnahkan adalah produsen dan penjual buku (bajakan). UU yang mengatur Hak Cipta sudah jelas. Mengapa kita tidak berani melapornya? Daripada meributkan cebong dan kampret, lebih baik pelaku buku seluruh Indonesia menentukan sikap bahwa pembajak buku harus dihabisi dari akar-akarnya. Itu mudah bila kita mau.

Geotimes.co.id, 28 Februari 2019

Suku Bajo: Misteri Negeri Antah-Berantah

Kita selalu katakan nenek moyang Indonesia adalah pelaut. Nenek moyang yang mana? Indonesia baru hadir pada abad 20, apakah nenek moyang yang kita sebut itu adalah mereka yang lahir atau besar pada abad 20 di awal-awal kemerdekaan?

Secara pengetahuan umum, Bugis dan Makassar dikenal sebagai suku pelaut. Saya tidak mencoba membantah itu. Sebab, ada beberapa dari mereka menjadi pelaut ulung, berlayar hingga ke benua lain.

Saya sempat diskusi dengan teman dari Mamuju. Dia menggugat buku Orang Mandar, Orang Laut karya Ridwan Alimuddin. Dia mengatakan bahwa Ridwan mengeneralisasi orang Mandar bahwa mereka orang laut, padahal banyak orang Mandar yang tinggal jauh dari pesisir pantai.

Gugatan itu mesti jadikan refleksi. Dan, meragukan bahwa nenek moyang kita pelaut. Berapa sih jumlah nelayan? Dan, berapa jumlah petani? Bila petani lebih banyak, semestinya kita tengok laut kredo turun temurun: “Nenek moyang kita adalah pelaut”.

Yang kurang disebut dalam narasi laut adalah Suku Bajo. Iya, ada yang meneliti itu. Tapi, seberapa banyak yang mengenal mereka.

Saya ingin memberi tahu kepada kalian tentang mereka, walau sedikit. Semoga menjadi awal kalian mengetahui mereka.

Siapa suku Bajo? Adalah suku pengembara dan selalu berpindah dari daratan ke daratan lainnya. Dengan aktivitas itu, mereka disebut “gipsi laut”. Nama mereka beragam; “Suku Laut”, “Suku Bajoe”, “Orang Laut”, “Sama Bajau” adalah julukan orang “daratan” terhadap orang Bajo. Sedangkan, julukan untuk mereka sendiri adalah “Suku Sama”.

Kita juga tahu bagaimana ketangguhan suku Bugis-Makassar dan Mandar mengarungi lautan Nusantara, bahkan dunia. Suku Bugis tersebar di mana-mana, di Singapura, Malaysia, Australia, dan Afrika Selatan.

Keberadaan suku Bajo bisa kita temukan di pesisir Nusantara, dari Kepulauan Riau, Madura, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Bali, Maluku, Sulawesi, dan Kalimantan. Mereka juga tersebar di Kepulauan Sulu (Filipina Selatan), Kepulauan Johor (Malaysia), Vietnam, Thailand, Madagaskar. Karena mereka adalah suku nomaden, tak mengherankan apabila mereka ada di mana-mana.

Namun, perkembangan zaman dan desakan oleh pemerintah setempat untuk menetap di daratan sehingga kebanyakan Suku Bajo mulai tinggal dan berbaur dengan suku-suku lain. Sebelum menetap, “Manusia Perahu” ini adalah komunitas yang hidup di atas perahu (leppa). Kebudayaan berupa ini dialiri oleh leluhur mereka. Mereka mampu bertahan dalam laut selama 13 menit tanpa bantuan alat teknologi. Mampu berlayar ke manapun tanpa kompas. Dari sisi agama, mereka hanya beragama Islam Laut (tradisional).

Pernah dengar Benua Atlantis? Semoga pernah. Keberadaan benua itu menua banyak spekulasi. Sampai-sampai menjadi bagian dari teori konspirasi. Cukup aneh!

Konon, Benua Atlantis berada di Indonesia dengan berbagai teori. Banyak yang menyinyir keberadaan benua tersebut.

Bila keberadaan Benua Atlantis belum diketahui hingga sekarang dan banyak teori spekulatif dari berbagai pakar, hal demikian sama dengan teka-teki asal muasal Suku Bajo ini.

Banyak cerita, banyak perspektif. Karena saya terlahir dari suku Bajo, kerap mendengar cerita-cerita lisan dari tetuah di kampung. Namun beriring pencaharian saya terhadap titik temu sejarah suku Bajo, ternyata banyak literatur yang belum menemukan sejarah Suku Bajo.

Dalam buku Islam Bajo: Agama Orang Laut karya Benny Baskoro mengulas asal-usul Suku Bajo. Saya mengutip beberapa dari cerita di dalamnya:

Pertama, salah satu sumber sejarah tertulis yang menyebutkan tentang asal-usul orang Bajo adalah naskah Lontarak Assalena Bajo. Dalam naskah tersebut disebutkan, nenek moyang orang Bajo berasal dari daerah Ussu, yang dahulu termasuk dalam wilayah Kerajaan Luwu. Pada zaman itu, sebatang pohon besar bernama Walenreng tumbang, dan terjadilah banjir besar.

Menurut Anwar Hafidz , kata “Walenreng” sendiri juga bermakna runtuhnya sebuah kerajaan. Akibatnya bencana tersebut, penduduk tercerai berai, banyak yang hanyut ke laut atau mencari tempat pengungsian. Sebagian dari mereka terdampar di Kerajaan Gowa, kerajaan tetangga. Seorang gadis pengungsi bahkan kemudian diperistri Raja Gowa dan diangkat menjadi permaisurinya, yang lalu menurunkan raja-raja Gowa selanjutnya. Kemudian Kerajaan Gowa ditaklukan Kerajaan Bone, maka para penduduk Gowa, termasuk bekas pengungsi menjadi warga Kerajaan Bone. Oleh Raja Bone, bekas pengungsi ini kemudian diberi tempat khusus di lepas pantai timur Bone, yang bernama BajoE. Kemungkin dari nama “BajoE” inilah para penduduknya disebut sebagai orang “Bajo”.

Kedua, riwayat yang dituturkan Kepala Desa Mola Selatan, Pulau Wangi-Wangi, Kabupaten Wakatobi menyebutkan, asal-usul orang Bajo dari dataran Mekong, sekarang termasuk wilayah Vietnam Selatan. Pada saat itu terjadi huru-hara dan bencana kelaparan, sehingga para penduduknya mengungsi. Sebagian mengungsi ke arah timur, dan sebagian lagi ke arah selatan. Mereka yang mengungsi ke arah timur kemudian mengembara melalui Laut Cina Selatan dan menyebar ke Filipina, Malaysia Timur, hingga Sulawesi bagian utara, sedangkan yang mengungsi ke arah selatan kemudian mengembara melalui Selat Malaka dan menyebar ke Semenanjung Malaya, Kepulauan Riau, hingga Sulawesi bagian selatan. Para pengungsi itulah yang menjadi cikal-bakal orang Bajo di wilayah-wilayah tersebut, sementara orang Bajo di Kepulauan Wakatobi berasal Sulawesi bagian selatan, yaitu dari para pengungsi Mekong yang lari ke selatan.

Dalam legenda dan cerita rakyat Bajo yang kerap kami dengar bahwa orang Bajo dari Johor, di semenanjung Malaya. Dikisahkan putri Raja Johor hilang ketika sedang berlayar, dan Sang Raja memerintahkan prajuritnya untuk mencarinya. Para prajurit itu telah mencari berbagai penjuru dan tidak menemukan Sang Putri yang hilang. Mereka takut kembali ke kerajaan karena akan mendapat hukuman Raja. Para prajurit lebih memilih untuk mengembara di laut daripada mendapat hukuman dari Raja.

Dari cerita yang berbeda itu, akan membingungkan bagi sejarawan sehingga titik temu asal usul orang Bajo menjadi misteri hingga sekarang.

Kalau kelompok Yahudi diusir dari tanah suci Yerusalem atau Muslim Rohingya diusir dari Myanmar. Dengan alasan tanah itu bukan tanah mereka. Jadi, bagaimana dengan kasus orang Bajo?

Telah lama ilmuwan bertanya-tanya tentang asal-usul Orang Bajo seperti kata Phillippe Grange, ahli linguistik dari Universite La Rochelle, Perancis (nationalgeographic.co.id), “Mereka memang nomaden, tapi orang pasti punya asal-usul. Di mana asal-usul mereka, itu masih pertanyaan”.

Lebih masygul yang dialami Francois-Robert Zacot, terekam dalam bukunya Orang Bajo: Suku Pengembara Laut bahwa ia sempat dikatakan “gila” ketika ia balik ke Prancis karena masih bingung dan bertanya-tanya dari mana Suku Pengembara Laut ini?

Bila kita telusuri keberadaan orang Bajo, di mana ada orang Bajo, pasti ada suku Bugis yang berbaur dengan mereka. Apakah ini ada kaitannya dengan Kerajaan Bone? Atau, suku Bajo adalah adik dari suku Bugis?

Entahlah, saya yang memiliki darah suku Bajo tetap optimis bahwa asal-muasal kami akan terkuak nantinya, seratus atau seribu tahun lagi.

Salah Baca Literasi Kita

“Saya tadi minta supaya disediakan satu hari saja untuk kirim buku itu bisa gratis.” (detiknews.com, 02 Mei 2017)

Para pegiat literasi ingat betul perkataan Presiden Joko Widodo tersebut. Ceruk kemudahan telah dibuka. Kirim-mengirim buku tidak lagi mahal. Tiap tanggal 17, pencinta buku merayakan literasi dengan membawa buku berkilo-kilo ke kantor Pos Indonesia untuk dikirim ke pelosok Nusantara. Semua gratis. Semua bergembira. Semua bersorak. Walaupun hanya sehari dalam sebulan, program pengiriman gratis ini berjalan lancar. Banyak yang bergerak. Banyak yang mengambil peran.

Implementasi itu telah berjalan setahun lamanya. Ini langkah “revolusioner” yang telah dilakukan pemimpin tertinggi di negeri yang konon tingkat baca masyarakatnya tersungkur di nomor 61 dari 62 negara. Sebelum ada pengiriman buku gratis, biaya kirim lebih tinggi daripada harga buku itu sendiri. Cek saja berapa biaya pengiriman dari Jawa ke Sumatra, Kalimatan, Sulawesi, Maluku, Papua, NTT. Mahalnya minta ampun.

Kirim gratis ini hanya teruntuk komunitas literasi yang terdaftar di Pos Indonesia, seperti Pustaka Bergerak Indonesia (PBI) dan Taman Bacaan Masyarakat (TBM). Sejak pengiriman buku gratis pada 20 Mei 2017 hingga 17 Juli 2018 sudah lebih 200 ton buku tersebar ke penjuru pelosok Indonesia.

PBI dan TBM tidak memonopoli program pengiriman buku gratis ini. Mereka diberi kepercayaan, sebab mereka aktif membawa buku ke masyarakat bawah, bergerak masuk ke desa-desa, gang-gang, dan hutan-hutan. Mereka banyak berkabar di media sosial, khususnya di Facebook.

Bagi kalangan tertentu Facebook adalah media sosial yang mengganggu aktivitas membaca. Berbeda dengan pegiat literasi ini, Facebook adalah ruang mereka untuk berbagi pengalaman, berbagi aktivitas, berbagi buku, dan pastinya berbagi bahwa mereka kekurangan buku berkualitas. Memang semestinya, dua medium ini tidak boleh dibenturkan. Sebab, Facebook/Instagram/Twitter punya peran sendiri dan buku juga demikian.

Saya adalah salah satu dari jutaan anak bangsa ini yang mengalami kekurangan bacaan. Di Pulau Paisubebe, Kabupaten Banggai Laut, Provinsi Sulawesi Tengah adalah tempat saya dilahirkan. Saya tidak tahu bagaimana wujud buku itu, yang saya tahu buku adalah buku tulis cetakan Sinar Dunia. Saya tidak tahu mana buku fiksi dan nonfiksi, yang saya tahu hanya mata ajar IPA, IPS, Matematika, dan mata ajar lainnya.

Kabupaten Banggai Laut tidak memiliki perpustakaan daerah. Ada kios buku, namun yang dijual adalah karya Fredy S., Teka-Teki Silang, dan Buku Panduan Salat. Namun, Ibu Mardia Abdul Karim (ibu dari sastrawati Indonesia, Erni Aladjai) terdorong membuat perpustakaan alam, yang disebut Bois Pustaka. Bois adalah keranjang pangan Suku Banggai yang terbuat dari anyaman rotan dengan tali dari kulit kayu. Bois digunakan untuk mengangkut ubi, sayuran, kayu bakar dan buah-buahan, dan daging kelapa. Ibu Mardia mengubah fungsi Bois yang tadinya membawa bahan-bahan dari kebun, beralih membawa buku-buku ke anak-anak. Mereka menyambut buku-buku itu dengan senang hati. Bois Pustaka adalah bagian dari jejaring Pustaka Bergerak Indonesia sehingga mudah mendapatkan donasi dari penggiat literasi yang tinggal di kota.

Bukan minat baca kurang dan keterbatasan perpustakaan, tapi masalahnya adalah tidak ada buku-buku di sekitar kita. Perpustakaan itu adalah tempat buku-buku. Tidak ada buku, tidak ada perpustakaan. Dengan maraknya pegiat literasi di daerah-daerah, perpustakaan tidak lagi terkungkung di ruangan, yang kadang membosankan. Perpustakaan telah berubah menjadi taman bermain yang menyenangkan. Mereka baca buku di dermaga, di pantai, di pohon, di kapal, di perahu, di kereta, di mobil, dan di tempat-tempat menyenangkan lainnya.

Kita terjebak dalam bayang-bayang The World’s Most Literate Study (2016) bahwa minat baca masyarakat Indonesia rendah. Bayang-bayang itu semu. Tidak nyata. Tidak konkret. Padahal, sebenarnya anak-anak Indonesia mencintai buku. Saya menanyakan langsung kepada Nirwan Ahmad Arsuka (selaku pendiri PBI) tentang minat baca di Indonesia. Menurutnya, “Jika pemerintah menganggap minat baca di Indonesia rendah, PBI menganggap minat baca masyarakat sebenarnya tinggi, tapi akses pada buku yang bermutu justru sangat rendah. Jika akses terhadap bacaan bermutu diperbaiki, minat baca akan dengan sendiri meninggi”.


Selain penyedian buku, menjadi peran utama dalam hal penguatan melek literasi pada anak adalah orangtua. Saya mengambil sampel dari buku Dongeng Panjang Literasi Indonesia (2017) karya Yona Primadesi. Yona berkisah tentang bagaimana ia mendekatkan buku pada anaknya, Abinaya Ghina Jamela (Naya). Pada awal, Yona bekerja ekstra memperkenal buku pada anaknya, sebab Naya sudah kecanduan game dan gawai.

Anak semestinya tertarik dengan sendiri terhadap dunia bacaan, jangan dipaksakan. Kesadaran itu harus keluar dari anak itu sendiri. Bila ada paksaan dari pihak lain, mereka tidak akan peduli pada bacaan. Lalu, bagaimana mendekatkan mereka dengan buku.

Menurut Yona, “Awalnya, ketika sedang tidak melakukan apa-apa, Naya akan memilih untuk menonton, bermain handphone, atau ngomong-ngomong konyol. Lantas, kami coba mengenalkan aktivitas baru, yaitu baca. Naya langsung tertarik? Tentu saja tidak. Tetapi, ada semacam arahan dan instruksi terselubung yang tanpa disadari Naya menggiringnya untuk memilih, menyukai, dan melakukan aktivitas baca tersebut secara kontinu”. Dengan konsisten dan metode pembelajaran yang tepat, Yona berhasil mendidik anaknya. Naya sudah menerbitkan dua buku: Resep Membuat Jagat Raya (2017) dan Aku Radio bagi Mamaku (2018).

Yang menjadi masalah di sini adalah kekurangan bacaan anak-anak. Memang ada beberapa buku anak, tetapi buku anak itu ditulis oleh orang dewasa. Orang dewasa dalam banyak buku anak menggambarkan hubungan mereka dengan anak-anak dalam bahasa egois. Mereka paling tahu tentang masa kanak-kanak.

Bolehkah kita bertanya, sebutkan sepuluh buku anak yang wajib dibaca oleh anak-anak? Semoga ada. Saya kutip tulisan Haksan Wirasutisna, “Beberapa Pikiran Mengenai Pameran Buku Kanak-Kanak” dalam Majalah Basis, Th. IV, No. 1, Oktober 1954; “Apakah faedahnja membatja untuk kanak-kanak? … sesungguhnja membatja itu bukanlah merupakan tudjuan pada hakekatnja. Ia adalah djalan untuk mempeladjari teknik membatja. Tetapi membatja itu adalah suatu alat, jakni alat untuk memperkaja hidup (levensverrijking), tetapi djuga alat untuk mengetahui tentang hal-hal jang kita menaruh minat padanja. Sebab kanak-kanak pada umumnja ingin membatja tentang perkara-perkara jang dapat menarik perhatiannja atau dapat membangkitkan minatnja terhadap sesuatu hal. Mereka atjapkali tidak mengetahui, bahwa ada banjak sekali ditulis buku-buku tentang bermatjam-matjam soal”.

Ketika kegiatan membaca telah menjadi candu maka ihwal membaca dunia tidak terelakkan lagi. Sebab, pada prinsipnya anak-anak itu mau belajar, mau menjadi cerdas, mau diajak berpikir, dan siap menjadi manusia kreatif.

DetikNews.com, 16 Januari 2019

Arsip

Dibiarkan tapi urgen. Itulah dunia kearsipan. Kamar senyap yang jarang ditengok dunia kiwari. Apalagi media sosial yang menawarkan keriuhan-keriuhan yang tak berkesudahan. Membuat laku kearsipan hanyalah alternatif terakhir dilakoni oleh siapa pun.

Berapa banyak dari kita yang menekuni kerja kearsipan? Mungkin ada tapi hanya untuk memenuhi tuntutan kerja agar menghasilkan uang bulanan. Seperti, orang-orang yang meraih gelar sarjana kearsipan. Terlepas dari itu, kita mesti bersyukur sebab mereka masih menekuni dunia yang mereka sudah ambil semenjak masuk di perkuliahan.

Tetapi, apakah kita sadar bahwa kerja kearsipan bukan sekadar memenuhi uang bulanan? Karena, kerja pengarsipan merupakan praktik kultural.

Praktik kultural itu adalah praktik kebudayaan. Perpanjangan kebudayaan satu ke kebudayaan berikutnya. Ia adalah jejak untuk melihat apa yang sudah (mungkin akan) terjadi. Apabila kesadaran kerja kearsipan sudah menjadi kerja kebudayaan maka tidak ada lagi kekhawatiran bahwa kita akan tercerabut dari akar budaya yang sudah lama membentuk tatanan sosial di pelbagai bangsa di Indonesia.

Misal kata Pramoedya Ananta Toer, “Andai anak-anak remaja itu punya kebiasaan mengkliping pastilah mereka tak bisa dibohongi karena tahu masalah sampai akar-akarnya. Sayang sekali pendidikan Indonesia tak pernah mendidik muridnya tekun menggali fakta.” Pram tidak hanya membuat kredo yang tidak ia lakukan. Ia adalah penggunting koran sangat telaten yang pernah ada di Indonesia. Selain pena, gunting adalah senjatanya.

Muhidin M. Dahlan menulis esai panjang “Praktik Kliping & Daya Budi Kultural”, dalam buku Arsipelago: Kerja Arsip & Pengarsipan Seni Budaya di Indonesia (2014). Ia menulis, “Karena praktik kliping adalah menyusun rantai cerita Indonesia secara berkesinambungan dan tanpa jeda, maka mengkliping boleh juga dibilang praktik politik yang radikal.”

Kerja politik radikal itu dilakukan Pram. Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca adalah hasil Pram dari kerja gunting-menggunting koran. Buku fiksi ini mengisahkan sosok Tirto Adhi Soerjo. Jurnalis yang disembunyikan kisahnya oleh pemerintah koloni. Namun, akhirnya mendapat gelar Pahlawan Nasional melalui Keppres RI No. 85/TK/2006. Sebelumnya, pada 1973, ia dikukuhkan sebagai Bapak Pers Nasional oleh pemerintahan Orde Baru.

Beberapa hari belakangan, lini masa di media sosial membicarakan Bumi Manusia yang akan difilmkan. Yaitu, Hanung Bramantyo menjadi sutradara. Ada pro dan kontra. Pro karena merasa bahwa perpindahan dari teks ke visual membuat Bumi Manusia lebih dikenal oleh khalayak umum. Apalagi Minke—tokoh utama di novel itu—diperankan Iqbaal Ramadhan. Iqbal memiliki banyak fan dari kalangan remaja sehingga novel yang sempat dilarang oleh Orde Baru ini lebih membumi di pelbagai usia. Sedangkan, bagi yang kontra merasa Bumi Manusia terlalu “agung” sehingga mesti sutradara dan tokoh-tokohnya harus orang tepat. Pertanyaan: siapa yang layak untuk menggarap novel “kalis” itu?

Banyak kalangan remaja yang tidak mengetahui Pramoedya Ananta Toer. Bahkan, ada yang menyamakan Pram dengan Tere Liye. Apa mesti kita salahkan anak-anak remaja itu? Saya kira tidak. Saya mengambil contoh dari pengalaman saya sendiri. Saya mengenal Pram saat di Makassar tahun 2011. Waktu itu, saya kuliah di perguruan tinggi swasta. Kala sekolah menengah atas (SMA), saya tak sekali pun mendengar nama sastrawan besar yang pernah dipenjara di Pulau Buru itu.

Dengan contoh kasus tersebut, kita kembali mengafirmasi kredo Pram bahwa mengkliping seharusnya diajar sejak di bangku sekolah. Mengkliping peristiwa politik, pendidikan, ekonomi, sosial, dan sastra.

Hans Bague Jassin adalah pengarsip sastra Indonesia. Ia mendirikan Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin. Tulisan-tulisannya menjadi sumber referensi bagi mahasiswa bahasa dan sastra Indonesia. Seandainya Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin tidak ada, ke mana lagi pelaku sastra kontemporer melihat jejak dunia sastra kita? Gelap.

Ketidakbecusan pengarsipan kita mengakibatkan banyak arsip Indonesia dibawa ke luar negeri. Contohnya, manuskrip La Galigo yang dirawat di perpustakaan Universitas Leiden, Belanda. Sastrawan yang meneliti Bugis mesti pergi ke Belanda. Faisal Oddang, misalnya. Untuk menulis buku puisi Menurung: 13 Pertanyaan untuk 3 Nama, ia mesti pergi ke Negeri Kincir Angin itu.

Kerja kearsipan Pram dengan cara mengkliping koran-koran. Tetapi, itu zaman dulu. Sekarang, kecanggihan teknologi membantu memudahkan kita untuk menjadi arsiparis. Koran nasional maupun lokal menyediakan pembaca dalam bentuk Portable Document Format (PDF). Tinggal menyiapkan simpanan yang menampung file-file tersebut.

Untuk saat ini, Muhidin M. Dahlan (Gus Muh) adalah sosok yang masih menekuni dunia kearsipan. Ia meneruskan semangat dan kerja Pram. Bila Pram mengarsip dengan metode menggunting koran, Muhidin memanfaatkan perkembangan teknologi tadi: berlangganan koran digital dan menyimpan di Bank Arsip yang ia miliki.

Banyak tulisan Gus Muh lahir dari pengarsipan. Lekra Tak Membakar Buku (2008), salah satu buku yang lahir dari proses pengarsipan. Kekuatan menulis Gus Muh berada pada arsipnya. Suatu ketika, Gus Muh sempat mengatakan begini ke saya, “Siapa bilang orang yang mengarsip tidak bisa menulis? Ikuti saya. Ikuti Pram. Pram mengarsip juga menulis.”

Apa kita masih remehkan kerja kearsipan?

Pada 1992-1996, pemerintah Inggris mengangkat kepala intelijen mereka, M15, dari arsiparis. Ia adalah Dame Stella Rimington. Nah!

Fajar, 03 Juni 2018

Indonesia Buku: Rumah Para Penggila Buku

Penulis yang menulis tanpa data akan lumpuh. Wartawan yang menulis tanpa data akan menyesatkan. Seniman yang berkarya tanpa arsip akan kehilangan arah. Perusahaan yang bekerja tanpa arsip akan tumbuh lamban. Jika semua orang ditanya, pentingkah arsip, maka semuanya menjawab penting. Namun, arsip juga adalah ihwal yang paling diabaikan. Bahkan hanya satu trip berada di atas sampah. -Indonesia Buku

Mengunggah foto di akun Facebook atau Instagram, maka Anda telah mengarsip foto. Menyimpan buku harian di rak lemari yang hanya Anda dan Tuhan tahu, maka Anda telah mengarsip dokumen tertulis. Sesungguhnya kita semua adalah arsiparis partikelir.

Kesadaran dalam mengarsip saya dapatkan selama belajar pada Muhidin M. Dahlan di Komunitas Indonesia Buku (Iboekoe).

Awal pertemuan dengan Gus Muh (sapaan Muhidin M. Dahlan) dan berkutat di Iboekoe bukan karena saya cinta dunia kearsipan. Jangankan arsip, buku yang ada ISBN-nya saja, saya belum tahu bagaimana bentuk dan baunya. Kalau ada yang bertanya bagaimana model sampan yang kerap saya gunakan untuk bermain di pantai, mungkin, saya akan jawab dengan tangkas.

Pertemuan itu bermula dari kesadaran saya mencuri buku Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur saat kuliah di Kota Makassar. Selesai membaca buku kontroversi itu, saya beli buku Gus Muh yang lain berjudul Jalan Sunyi Seorang Penulis (Cetakan kedua dari Aku, Buku, dan Sepotong Sajak Cinta).

Membaca buku Gus Muh sudah, membaca esai-esainya di akubuku.blogspot.com sudah. Rasa ingin bertemu langsung dengan penulisnya pun muncul.

Pertengahan Juli 2015, saya berkunjung di markas besar Indonesia Buku, Jl Sewon Indah No 1, Kecamatan Sewon, Bantul. Di sana saya melihat banyak buku, koran, majalah, dan benda asing lainnya. Dari situlah, saya mulai rutin meminjam buku-buku di perpustakaan dan menjadi relawan di Warung Arsip.

Mengarsip Itu Menguji Daya Tahan
Komunitas Iboekoe memiliki tiga komunitas di bawahnya; Radio Buku, Warung Arsip, dan Gelaranibuku. Namun, banyak orang menyebut tiga komunitas ini adalah Radio Buku.

Tiga komunitas ini berkelindan dalam ihwal literasi. Radio Buku menjadi garda terdepan mengabarkan perkembangan literasi. Warung Arsip menjaga/merawat arsip literasi. Dan Gelaranibuku adalah perpustakaan.

Kalau diumpamakan Iboekoe adalah tubuh manusia; Radio Buku sebagai kakinya; Warung Arsip menjadi jantung; dan Gelaranibuku sebagai otaknya. Nafas dan darahnya adalah relawan-relawan yang rela mengorbankan waktu dan tenaganya. Tanpa relawan, hancurlah Indonesia Buku.

Alumni Iboekoe sudah beredar ke mana-mana, salah tiganya adalah Zen RS, Irwan Bajang, dan Indrian Koto. Iboekoe semacam laboratorium anak-anak muda, setidaknya memiliki jiwa muda yang siap belajar apa saja. Khusus di Radio Buku dijadikan gelanggang oleh para relawan untuk menempa konsistensi belajar.

Radio Buku telah meluluskan relawan angkatan kelima. Mereka wisuda apabila menyelesaikan esai yang akan dijadikan antologi bersama. Setiap angkatan memiliki buku dari hasil proses belajar selama tiga bulan. Selama tiga bulan itu relawan belajar menulis esai, membuat radio, dan jurnalisme warga dengan langsung dipantik oleh tiga begawan; Muhidin M. Dahlan (Pemantik esai), Fairuzul Mumtaz (Pemantik pembuatan Radio), dan Faiz Ahsoul (Pemantik jurnalisme warga).

Pada pertemuan pertama, ruangan Iboekoe dipenuhi peserta, tapi seleksi alam berbicara. Berangsur satu per satu relawan mundur malu-malu tanpa pamit atau mereka pamit dengan cara terhormat. Yang bertahan, yang menulis, dan menjadi abadi. Buku antologi esai mereka sudah beredar di toko buku daring seluruh Indonesia.

Selain kelas relawan, Radio Buku juga memiliki kelas esai. Bagi kelas esai ini tidak diajarkan bagaimana membuat radio atau menjadi jurnalis warga, melainkan murni berkutat dalam proses kepenulisan esai. Peserta sama sekali tidak diminta uang sepersen pun, malahan Radio Buku memberi honor kepada semua peserta. Gus Muh pernah berujar:

“Saya tidak ingin membuat pelatihan menulis yang berbayar sebab saya belajar menulis bukan dari pelatihan berbayar seperti itu.”

Para pemantik selalu mengingatkan kepada peserta esai bahwa mereka mesti konsisten mengikuti kelas dan menulis hingga tuntas di meja editor. Nah, di meja editor inilah penulis esai akan dihancur leburkan—menurut saya lebih menyakitkan daripada dosen penguji saat ujian akhir. Contoh kasus: peserta kelas esai bernama Prima H. Trilaksono menulis esai dengan jumlah 7.000 kata. Faiz Ahsoul selaku editor menghapus 4.000 kata.

Kalimat yang cacat tata bahasa akan dikurasi di hadapan editor. Proses hadap-hadapan antara penulis dan editor adalah pembelajaran yang efisien dan membekas pada diri penulis. Kelas esai ini telah menetaskan dua buku esai: Pendidikan Komunitas: Merajut Keragaman dari Pinggir Yogyakarta dan Keluarga Bahagia: Sembilan Memoar Luka Keluarga Indonesia.

Para relawan dan peserta kelas esai mesti mencari referensi yang berkaitan dengan tulisan yang mereka garap. Referensi didapatkan melalui riset lapangan dan riset literatur. Referensi literatur inilah yang disiapkan di perpustakaan Gelaranibuku. Gelaranibuku mengoleksi ribuan buku yang didominasi buku-buku sastra Indonesia dan dunia. Gelaranibuku mengambil urutan daftar Sumpah Pemuda untuk mengatalogisasi buku: Tanah Air, Bangsa, dan Bahasa. Bukan hanya menjadi nama rak di Gelaranibuku, tiga Sumpah Pemuda ini yang kerap dijadikan diktum oleh Faiz Ahsoul di pelosok-pelosok Indonesia. Khusus, di Indonesia timur. “Indonesia barat telah selesai. Kita mesti bergerilya di Indonesia timur,” Faiz Ahsoul berujar saat kedatangan kawan dari Papua.

Radio Buku mendidik para relawan, Gelaranibuku masif mengoleksi buku-buku pilihan, sedangkan Warung Arsip menjadi garda terdepan menyimpan dan merawat koran, majalah dan buku lawas. Sejak Februari 2016 hingga tulisan ini ditulis, saya telah mengunggah sekitar 1.000 lebih file pdf di website warungarsip.co. Jumlah itu sangat belum sebanding dengan koleksi Warung Arsip yang tak terhingga banyaknya.

Tidak ada metode sistematis dan formal untuk mengarsip di Warung Arsip. Cukup Anda duduk selama delapan jam untuk memindai arsip dari hard ke soft. Namun, ada dua metode yang Gus Muh ajarkan kepada saya untuk memindai arsip tersebut. Pertama, menggunakan mesin scanner Cannon LiDE 110 untuk arsip berukuran kecil; buku dan majalah. Kedua, menggunakan kamera untuk arsip ukuran besar seperti koran.

Rony K. Pratama (Peneliti Pendidikan Literasi Yogyakarta) keliru mengamati ihwal kearsipan Indonesia dalam esainya, Literasi dan Pelajaran Kliping (Kompas, 15 Juli 2017) bahwa setelah Jassin tak ada lagi sosok yang bergelut secara intens dalam dunia arsip, atau konsisten dan memutuskan jalan kearsipan sebagai jalan hidup.

Sebab setelah HB Jassin dan Pramoedya Ananta Toer, ada Muhidin M. Dahlan. Gus Muh sangat teliti dan tekun perihal pengarsipan. Saking cintanya pada dunia arsip, maaf, giginya yang patah pun diarsipkan.

Pocer.co, 17 September 2017

Muhidin M. Dahlan: Sufi Kiri yang Gagal Menjadi Penyair

Percakapan yang Menyakitkan
Di depan poster almanak Logo Indonesia, tepat samping kiri lukisan Gus Dur karya Eddy Susanto—Perupa Indonesia—di Markas Besar Indonesia Buku (I:Boekoe), Muhidin M. Dahlan yang kerap disapa Gus Muh sedang duduk di kursi favoritnya.

Senja itu, Gus Muh tak beraktivitas seperti biasanya: duduk di depan laptop dan mengutik tuts tapi ripuh bersama gawainya. Entah apa yang ia lakukan bersama gawainya itu. Sedangkan saya mendigitalisasi majalah-majalah purba yang telah diendapkan bertahun-tahun di Warung Arsip.

Maret 2016, belum cukup sebulan saya terlibat di Warung Arsip sebagai arsiparis tak berijazah. Gerakan mengarsip ini bukan hal mudah, bukan perihal teknis saja. Lebih dari itu. Sehingga saya bertanya kepada Gus Muh, walau rada segan kepadanya tentang tujuan pengarsipan yang ia lakukan.

“Gus, boleh saya bertanya?” Rasa gugup menguasai saya.

“Kamu ngomong apa? Kalau bicara jangan berkumur, harus jelas,” Gus Muh menjawab dengan wajah datar.

Bicara cepat adalah gaya orang timur. Logat ketimuran saya masih melekat kuat. Saya ulangi pertanyaan tadi dengan lambat dan jelas. Rasa gugup belum hilang.

“Kamu mau tanya apa?” Ekspresi datar Gus Muh masih bersemayam di wajahnya.

“Apa pentingnya arsip ini?” sambil menunjuk mesin pindai.

Mimik datar Gus Muh berubah tak berarah. Seolah suara guntur bercampur petir hinggap di wajah karismatiknya. Ia belum jawab pertanyaan saya tapi kepalanya menunduk ke bawah sambil menggeleng berkali-kali. Saya tak tahu maksudnya apa, mungkin begitu khas penulis kesohor di negara nusantara. Ia taruh gawainya di meja dan menyerong kursi ke kanan di hadapan saya yang duduk di hadapan lukisan Gus Dur.

“Arsip itu nyawa. Arsip adalah nyawa bangsa. Cukup bakar seluruh arsip negara, kamu telah menghancurkan sendi kehidupan negeri Pancasila ini,” jawabnya tegas tapi wajahnya tetap datar.

Setelah itu, saya tidak bertanya lagi. Jelas.

Sufi Kiri
Sufi Kiri adalah julukan kami (santri Komunitas Kutub: Pesantren Menulis) untuk Gus Muh. Predikat Sufi Kiri tak asal tersemat kepadanya namun memiliki sejarah panjang—mungkin pecinta karya-karyanya telah tahu.

Gus Muh pernah ditempa di HMI-MPO. Bosan dengan gerakan organisasi Hijau Hitam yang stagnan ini, ia move on ke Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Dan sempat nyantri di Komunitas Kutub yang dididik langsung oleh Gus Zainal Arifin Thoha (pendiri Komunitas Kutub). Derap langkah itu mengakibatkan Gus Muh melahirkan dua anak rohaninya yaitu Sosialisme Religius: Suatu Jalan Keempat? (2000) dan Cinta Sang Kekasih: Menyelami Hakikat Cinta Sejati Para Kekasih Tuhan (2003).

Memang, menjadi alumni HMI-MPO, PMII, dan nyantri di Pesantren Menulis bukanlah indikator seseorang disebut Sufi. Tapi apa salah, bila santri Kutub memiliki indikator berbeda daripada yang lain.

Sepertinya sufisme bukanlah jalan yang nyaman untuk Gus Muh. Ia membelot dengan tikungan 180 derajat dari jalan sebelumnya. Biarpun ia tak melewati pengaderan organisasi mahasiswa komunisma atau kekirian, tapi esais komunisma kontemporer Indonesia layak disematkan kepada Muhidin M. Dahlan.

‘Nabi Sang Kegelapan’ ini mengubah haluan dari Islam ke komunisma walaupun komunisma kerap tertambat di tiap esainya, nilai-nilai Islam tetap ada. Semacam bermetamorfosa dari jalan sufi ke jalan kiri; Sufi Kiri.

Sebiji Sajak Cinta untuk Adinda
Mari kita baca kisah Gus Muh dalam—buku Aku, Buku, dan Sepotong Sajak Cinta (2003)—berjuang merebut hati redaktur agar tulisannya bertengger di kolom opini.

Teruntuk muda-mudi yang coba-coba ikut gerak langkah Gus Muh, sebaiknya jangan lihat ia yang sekarang. Tiap minggu esainya kerap dimuat di koran nasional, media daring, dan menerbitkan buku sekali setahun.

Beberapa kawan saya kerap bertanya bagaimana cara Gus Muh menulis atau kok mudah ya tulisannya dimuat di media cetak. Saya jawab sebisanya bahwa ia mulai menulis saat kuliah dan tidak serta-merta langsung lihai mainkan jarinya. Kerja keras dan berdarah-darah adalah titian yang ditempuh oleh Gus Muh muda. Perjuangan ini telah ditapaki oleh para penulis hebat. Meneladani maklumat dari Haruki Murakami bahwa ingin menjadi penulis semestinya memiliki tiga ini: bakat, fokus, dan daya tahan. Kalau bakat, kita abaikan saja sebab bakat akan muncul karena pergulatan yang tiada henti.

Kita yang mengaku dan mendaku diri ingin menempuh gelanggang kepenulisan sudah keok sejak dalam dan luar pikiran hanya karena sebutir puisi kita ditolak sekali oleh redaktur. Tak mencoba lagi dan lagi. Perlu diketahui ialah Gus Muh menjebol meja redaktur koran nasional membutuhkan 32 kali tulisan, itu pun masih sebatas resensi—tingkatan esai terendah.

Proses kepenulisan Gus Muh tidak sebatas pada esai saja tapi dunia kepenyairan pun ia hinggapi. Ada diktum yang kerap kita dengar bahwa jangan sesekali menyakiti perasaan penyair, karena kau akan abadi nantinya. Nah, ini berlaku kepada Gus Muh yang mengabadikan Adinda—sebutan untuk junior di HMI—di salah satu kampus Yogyakarta. Sebab tahun 90-an belum ada Facebook untuk menulis sajak. Menulis di buletin kampus adalah jalan yang ditempusnya agar Adinda sendu setelah membaca.

Sajak kekecewaan yang berlipat ganda itu tertuang dalam buku Aku, Buku, dan Sepotong Sajak Cinta halaman 198 terbitan terbaru:

Karena engkau begitu agresif dengan energi keaktifan yang luar biasa, sedangkan aku hanyalah cunguk yang sering meringkuk dalam kediaman yang bisu, maka kita berhitung.

Karena engkau adalah perempuan yang lahir dari tradisi mal sedangkan aku hanyalah seorang kumuh yang hanya sanggup berada di antara deretan aksara buku yang seakan-akan kuat tapi sesungguhnya rapuh, maka kita berjarak.

Karena engkau berpedoman pada jenis cinta yang erotis, sedangkan aku lebih memahaminya sebagai sabda-sabda yang suci, maka kita berbeda akar.

Karena engkau mengatakan aku bukan kolam buat ikan sepertimu, maka kita bercerai hati.

Karena engkau berkhianat maka cinta apa lagi yang diharapkan di sana. Sebab kalaupun kupaksa hidup dalam kolam khianat, toh aku mati juga dalam ganggang dalam lumut gelembung keperihan yang sudah-sudah.

Aku sudah melihatnya—melihatnya sudah.

Aku sudah mengetahuinya—mengetahuinya sudah.

Dan aku memutuskan: sampai di sini saja hubungan kita yang paling dingin dan aneh ini. Lain waktu bisa bertemu lagi. Itu pun kalau kamu masih percaya pada pertemuan waktu.

Tiap kali saya membaca sajak ini, imajinasi saya membayangkan bagaimana keperihan dan kepedihan Gus Muh saat itu. Toh aku mati juga dalam ganggang dalam lumut gelembung keperihan yang sudah-sudah.

Saya kira, bila Gus Muh tetap konsisten di sasana kepenyairan. Saya percaya dengan seyakin-yakinnya bahwa puisi dalam film Ada Apa Dengan Cinta #2 bukanlah dari M Aan Mansyur namun dari Muhidin M. Dahlan. Sayang, Gus Muh telah rontok serontok-rontoknya hanya karena perempuan yang lahir dari tradisi mal.

Akur Gus. Kami semua sayang padamu.

Pocer.co, 10 Mei 2017