Meraba Mata Angin, Membaca Tanda

Pada Minggu, 08 Desember 2019, kapal Padewakang yang diberi nama Nur Al Marege dengan panjang 14,5 meter dan lebar 4,2 meter berlayar menuju Darwin, Australia, dalam eksepedisi “Before 1770”. Pelayaran tersebut menapaktilasi pelaut Sulawesi Selatan yang mengambil teripang di utara Australia pada abad ke-17 hingga abad ke-19.

Padewakang adalah kapal yang menjadi cikal-bakal kelahiran perahu pinisi di Sulawesi Selatan. Menurut Ridwan Alimuddin, anak buah kapal Nur Al Marege, menyebut bahwa Padewakang yang mereka operasikan dalam ekspedisi “Before 1770” tanpa menggunakan mesin diesel dan memakai konstruksi seperti 250 tahun lalu. Yaitu memakai layar tanjag (berbentuk segi empat) berbahan organik (serat daun gebang) yang ditenun dan dijahit oleh pelaut-pelaut Mandar.

Padewakang Nur Al Marege memulai perjalanannya dari Makassar ke Galesong (Bulukumba), Tana Beru, Pamatata, lalu ke Pulau Kalao, Pulau Madu, Larantuka, Wai Wuring, Wai Lalong, Baranusa, kemudian lanjut ke Mali (Pulau Alor), Ilwaki (Pulau Wetar), Pulau Masela, Saumlaki, hingga pada 28 Januari 2020, mereka tiba di Cullen Bay Marina, Darwin, Australia.

Menurut Charles Campbell Macknight, penulis buku The Voyage to Marege’: Pencari Teripang dari Makassar di Australia, setiap musim angin barat pada periode 1750—1780, tak kurang dari seribu pelaut asal Makassar dan Bugis singgah di pesisir Darwin. Kedatangan pelaut Sulawesi tersebut memengaruhi kebudayaan suku asli Australia, Aborigin, yang masih terasa hingga sekarang, misalnya agama Islam yang dianut oleh warga setempat.

Baca selengkapnya di Majalah Indonesiana

 

Keterangan:

Semua foto di tulisan saya adalah milik Muhammad Ridwan Alimuddin

Ia Ingin Mengubah Dunia Lewat Sastra

/1/

Pada malam itu, lebih tepatnya, saat azan magrib berkumandang, saya bertemu dua pria yang mengaku berasal dari Sulawesi. Saya memperkirakan mereka berumur sekitar 22–25 tahun. Kalau saya salah, tak apa, kan, saya hanya menebak.

Pria yang pertama mempunyai tinggi badan sekitar 170-an cm dan pria kedua di bawah dari itu. Kedua-duanya punya postur tubuh yang sesuai dengan tubuhnya, tidak gemuk pun tidak kurus. Mereka berdua berwajah berbeda dibandingkan dengan manusia yang kerap datang di komunitas ini. Sepertinya, mereka kali pertama datang ke sini.

Pria pertama wajahnya seperti wajah Portugis campur Hindia. Saya familier dengan wajah seperti itu karena saya banyak temukan orang-orang Portugis dari arsip-arsip koran tempo dulu yang saya arsipkan di lantai dua di rumah saya.

Lalu, pria kedua berwajah Arab campur Hindia. Karakter wajah seperti itu tidak asing lagi bagi kita di negeri ini. Gesekan pribumi atau tidak, orang-orang Arab jelas sudah lama menghuni bumi nusantara.

Saat itu, saya duduk santai di pelataran komunitas baca yang saya dirikan. Di pelataran, saya membuka warung kopi mini. Teman lama saya yang menjadi barista. Untuk hal bisnis dan keterampilan kopi, saya akui saya memang fakir ilmu tentang itu.

Meja kami hanya tiga buah, meja bundar. Saya terobsesi dengan meja bundar karena mata pelajaran sejarah di SMA terekam di memori saya, yaitu Konferensi Meja Bundar. Begitu pula meja-meja di dalam komunitas, semua meja mundar.

Dua pria itu datang menggunakan sepeda motor metik. Mereka baru satu minggu tinggal di Jogja. Pria pertama beralasan, datang ke Jogja hanya untuk bertemu saya. Alasan itu kerap saya dengar dari mulut pembaca-pembaca buku saya yang gagal itu. Katanya, buku saya yang gagal itu ia baca saat duduk kelas 2 SMA. Ia baca dengan khusyuk sebab mengunggah semangat ia terhadap dunia Islam di Indonesia. Buku itu pemberian dari seniornya di organisasi pelajar Islam saat satu minggu setelah perkaderan. Waktu yang tepat memang bila membaca buku itu setelah perkaderan.

Akan tetapi, saya tidak terlalu yakin ia membaca buku saya itu. Sebab, bagi orang muslim yang taat akan mencemooh ceritanya. Cerita yang tidak islami; buku yang menyesatkan; buku yang akan merusak iman dan takwa. Saya hanya percaya, ia pasti mendengar cerita senior-seniornya yang telah membaca buku itu. Saya pun tahu kebiasaan membaca di organisasi Islam di Indonesia begitu buruk. Kebanyakan mereka mengutip kalimat dari buku yang mereka dengar dari ucapan seniornya. Si senior itu mendengar dari ucapan seniornya lagi, dan seterusnya.

Ia terus bicara tanpa jeda. Saya melihat ada semangat yang tidak biasa pada dirinya. Semangat belajar atau semangat melakukan apa yang ia cintai. Istilah zaman sekarang disebut passion. Dan, saya tidak melihat ada semangat seperti itu dalam diri temannya yang berwajah Arab. Tidak ada. Ketika pria pertama berbicara buku apa yang ia baca kala SMA, pria kedua hanya plangak-plongok. Ia mau ngomong sesuatu tentang buku, tetapi seperti tidak mampu ia ungkapkan dengan lisan nan tangkas seperti temannya. Saya terus memerhatikan pembicaraan si pria pertama, sesekali menengok raut wajah temannya yang lesu.

“Sebenarnya, kalian berdua dari mana, sih?”Akhirnya, saya bisa memotong pembicaraan dari si pria pertama. “Kami dari Sulawesi Timur, Mbak,”langsung dijawab oleh si pria kedua. Dalam hati saya, tidak ada tuh wilayah Sulawesi Timur. Saya penasaran, saya ambil gawai dari tas, saya akses aplikasi Maps. Saya minta kepada mereka berdua untuk menunjukkan di mana posisi daerah mereka berdua.

Si pria kedua bergegas menunjukkan daerah mereka. Saya tidak tahu daerah itu, yang saya tahu wilayahnya bertentanggga dengan Maluku Utara. Dan, wilayah itu masuk di Sulawesi Tengah, kenapa mereka tidak menyebut dari Sulawesi Tengah saja. Saya tidak menanyakan lebih perihal itu, saya terima apa saja yang mereka katakan. Toh, tidak bermanfaat kepada saya. Pun sumber-sumber tulisan saya tidak menyasar di daerah sana. Saya menulis tentang Jawa, mentok paling jauh, saya menulis tentang Sumatra.

Si pria pertama mengulangi kekagumannya terhadap novel saya. Saya tidak nyaman mendengar kekaguman itu. Saya lebih nyaman dikritik habis-habisan oleh kritikus sastra Indonesia daripada mendengar kekaguman macam itu di hadapan saya langsung. Walaupun saya tahu kritik bikin telinga merah dan otak kocar-kacir, tetapi saya punya semangat untuk menulis lebih baik, sedangkan bahaya dari pujian bikin kita terlena dan dibuat nyaman. Duh, berbahaya bagi saya sebagai penulis.

“Kalian tahu dari siapa komunitas ini?”Saya potong lagi pembicaraan si pria pertama. Kali ini yang jawab adalah si pria pertama. Menurutnya, ia temukan di Twitter di akun asli komunitas kami. Saya angguk-angguk saja mendengar jawabannya. Dan, saya lanjut bertanya kepada si pria kedua, “Apa kamu sudah pernah membaca novel-novel saya?”Jawabnya, tidak pernah sama sekali. Pantasan saja ia tidak terlalu semangat berbicara seperti temannya tadi.

Saya melihat teman saya yang barista sesekali melirik ke arah saya. Saya tahu ia mendengar obrolan saya dan dua anak muda yang duduk di hadapan saya. Teman saya sudah lama ditinggal suaminya. Ia menafkahi dirinya dari hasil jualan kopi. Saya tidak mengambil keuntungan. Saya meminta kepadanya agar dibagi tiga hasilnya: untuk komunitas, untuk dirinya, dan untuk modal usaha. Itu saja.

Malam ini, pengunjung hanya ada dua anak muda dari Sulawesi ini. Mereka malahan tidak memesan kopi. Alasan mereka, tidak punya uang. Saya pun tidak menawarkan kopi kepada mereka. Jangan-jangan mereka tidak punya kebiasaan minum kopi. Saya juga dulu saat awal-awal tinggal di Jogja, saya tidak punya kesukaan pada kopi, tetapi karena saya kerap nongkrong dengan sesama penulis perempuan lainnya, akhirnya saya menyukai kopi. Kopi akan lebih enak apabila diikuti dengan rokok kretek. Di Jogja masin nyaman bagi perempuan perokok. Di beberapa kota besar, perempuan perokok dianggap sebagai pelacur, padahal laki-laki perokok tidak ada bedanya dengan perempuan perokok. Saya sangat tidak suka dengan pemikiran orang-orang yang membenci perempuan perokok, seolah mereka hakim bagi orang lain. Perihal perempuan perokok ini sudah saya tulis dan dimuat di koran nasional 4 tahun lalu. Dan, menjadi tulisan terakhir saya di koran tersebut. Setelah itu, saya banyak menulis esai di koran daerah, khusus koran Jawa. Redakturnya terbuka terhadap pemikiran terbuka.

Saya menjadi lupa kalau ada dua anak muda di hadapan saya. Si pria pertama mengisap rokok Class Mild dengan tergesa-gesa, sedang pria kedua tidak merokok.

Saat saya mau beranjak masuk ke dalam komunitas, si pria pertama langsung menahan saya dan memberi tahu bahwa mereka akan balik ke kos mereka. Dan, ia meminta izin kepada saya kalau ia mau belajar menulis novel. Mohon dituntun, katanya.

Saya tidak punya jawaban lain, selain ia mesti banyak baca buku novel bila ingin menulis novel. Tidak ada cara lain selain banyak membaca, kemudian latihan menulis.

Kepala mengangguk-angguk. Semoga ia tangkap apa yang saya katakan tadi, tidak asal iya iya. Sebab, kebanyakan dari penulis pemula, hanya panas-panas tai ayam-ayam. Semangat pada awal, habis itu menyerah.

 

/2/

Saya belum pergi ke kamar tidur. Sampai di rumah, dari komunitas, saya langsung ke lantai dua, tempat kerja saya. Arsip-arsip koran dan buku-buku tidak tersusun rapi. Saya tidak punya waktu untuk beres-beres. Saya biarkan begitu saja. Saya menganggap mereka cukup membuang waktu saya. Saya mesti banyak baca dan menulis. Saya menyalakan komputer. Saat komputer sedang berproses, tiba-tiba bayangan wajah Si Pria berwajah Portugis tampak dalam imajinasi saya. Saya tidak tahu mengapa pria itu yang datang, bukan si pria berwajah Arab. Dan, mengapa saya tidak menanyakan nama mereka berdua, setidaknya nama si pria pertama. Saya lupa menanyakan itu. Mungkin saya sudah muak dengan ocehannya. Baru pertama kali ketemu, ia sudah banyak bacot. Mungkin ia terlalu bersemangat karena bertemu saya, yang ia anggap sebagai idolanya. Namun, saya tidak punya ketertarikan mendengar bualannya itu. Dan, kenapa sekarang ia hadir dalam bayangan saya? Saya tidak tahu. Saya berusaha untuk menghilangkan wajahnya dengan konsentrasi pada layar komputer.

Ada file tulisan yang mesti saya edit. Tulisan yang sedang ditunggu oleh redaktur koran Jawa di halaman 10. Si redaktur meminta saya untuk menanggapi festival-festival sastra di Indonesia yang sedang marak. Dan, substansi dari sastra itu sudah hilang. Para pembicara dan pengunjung banyak take picture dan membagikan foto-foto mereka di media sosial. Permintaan itu saya sanggupi dan malam ini harus saya kirim. Saat saya mendengar pembicaraan dua anak muda di komunitas, redaktur sudah mengingatkan saya untuk mengirim esai saya paling lambat pukul 10 malam. Dan, sekarang baru sudah pukul 9.30, masih ada waktu 30 menit untuk menyelesaikannya.

Bukan hal mudah mengkritik orang-orang yang terlibat dalam ajang sastra demikian. Selain mereka terkenal di media sosial, mereka mempunyai kebiasaan bergerombolan. Satu orang saja yang dikritik, akan bermunculan konco-konco membantunya. Sedangkan, saya tidak punya kebiasaan bergerombolan itu. Menulis adalah kerja privat dan dunia kesendirian. Mau bergerombolan, silakan berpartai politik. Di situ banyak bandit-bandit yang suka kebodohan. Di dunia sastra, bukan dunia sosialita, yang seperti para selebriti yang suka mengumbar-umbar lipstik baru di akun media sosial. Ini sastra, yang harus dikedepankan adalah teks, bukan foto-foto bersama buku yang tak jelas maksudnya. Buku itu pun adalah buku sampah yang tak bernilai sastra.

Mungkin seperti itu secara verbatimnya apa yang saya tulis dan ingin saya sampaikan kepada khalayak. Saya tidak mau kompromi masalah beginian. Sudah terlalu muak saya melihat sastra Indonesia yang tidak punya perkembangan. Sebenarnya, ini bukan pekerjaan saya, saya seorang novelis, yang mesti mengerjakan hal demikian adalah para kritikus dan para sarjana sastra atau dosen-dosen sastra Indonesia di kampus-kampus. Di mana mereka sekarang?

Saya telah menyelesaikan editan tulisan. Saya nyalakan internet dan masuk email, kirim ke alamat email pribadi, email si redaktur. Tak berapa lama kemudian, si redaktur membalas dan mengucapkan terima kasih. Honor cair setelah satu minggu kemudian. Begitu ia mengakhiri pesannya. Saya tidak membalasnya lagi. Saya kira sudah cukup jelas. Saya tunggu koran besok, apa redaktur tengil itu memuatnya atau tidak.

Saya matikan komputer. Dan, bayangan pria berwajah Portugis itu muncul lagi. Saya hiraukan. Saya mengambil buku novel Moby Dick karya Herman Mervile. Novel ini termasuk buku yang mesti dibaca sebelum kita meninggal. Apa pula maksud dari daftar-daftar demikian? Mungkin karena bagus atau karena novel itu banyak memengaruhi orang. Entahlah. Intinya, saya suka novel ini. Ia sudah mengunggah saya di kalimat pertama, call me Ishmael. Satu kalimat dengan tiga kata. Sungguh jauh dengan pembuka novel-novel Tanah Air, yang banyak menyebut senja, bulan, embun, dan macam planet di luar angkasa sana.

 

/3/

Pukul 10 malam. Ada yang mengetuk pintu. Saya malas beranjak dari kursi. Namun, suara ketukan itu semakin lama semakin keras. Lagi, saya malas beranjak dari kursi. Suara ketukan itu mengganggu telinga saya. Dengan terpaksa, saya taruh buku yang sedang saya baca. Saya tinggalkan kursi kayu dan melangkah menuju tangga turun. Saya menuju arah pintu. Saat saya membuka pintu, tak ada satu pun manusia di depan pintu bahkan depan rumah.

Lampu temaram yang tak mampu menerangi semua bunga-bunga di pekarangan rumah dan jalan gang begitu kosong, saya bertanya pada diri sendiri, siapa yang datang tadi dan mengetuk pintu cukup keras itu?

Saya tidak yakin bila suara itu dari rumah sebelah atau rumah yang persis di depan rumah saya ini. Saya tidak yakin. Suara ketukan keras itu hadir di sini, di rumah ini.

Saya tidak menunggu lama, saya menutup kembali daun pintu. Dan, kembali ke lantai atas, melanjutkan bacaan saya.

Mungkin ada orang iseng yang mengisengi perempuan seperti saya di rumah sepi ini. Namun, siapa? Saya tidak tahu.

Ketika membuka buku lagi, suara ketukan keras kembali hadir. Namun, saya tidak memedulikannya. Orang itu, sekali lagi, orang iseng, yang tidak punya kerjaan pada malam hari. Saya terus melanjutkan bacaan. Lambat laun, suara ketukan hilang begitu saja. Saya sudah katakan tadi, orang itu hanya iseng.

Saya mencoba memaksa diri melanjutkan membaca. Saya menargetkan malam ini mesti 50 halaman yang saya baca. Namun, kelopak mata saya sudah tidak berkompromi. Dengan terpaksa, saya tutup buku dan pergi ke kamar tidur di lantai bawah. Saya matikan lampu dan turun lagi.

Rumah ini terlalu sepi dan saya sudah biasa dengan kesepian. Saya ingin mempekerjakan orang untuk mengurusi hal-hal yang tidak mampu saya urusi, tetapi akan ada masalah baru bila ada satu manusia hadir di rumah ini. Selain saya mengeluarkan uang, saya mesti berbaik hati pada manusia baru. Dan, itu rumit bagi saya. Bukan apa, lebih baik saya urusi diri sendiri dengan cara saya sendiri. Biarlah rumah ini sepi dan berantakan, toh teman-teman saya, para penulis yang banyak ingin mengubah dunia lewat tulisan, tidak pernah ke sini. Bila pengen ketemu, saya meminta mereka bertemu di komunitas, tidak di rumah ini. Rumah adalah perihal privat.

Saya masuk kamar tidur, saya tanggalkan semua pakaian, kecuali celana dalam dan BH. Tali BH saya lepas, tetapi katupnya tetap menempel di payudara. Banyak dokter menyarankan seperti itu bila kita akan tidur, sebab bila tidak, akan berakibat kanker payudara. Dan, ritual macam itu sudah saya lakukan sekitar 10 tahun belakang.

Saya rebahkan tubuh di tempat tidur dan suara ketukan pintu muncul lagi. Duh! Saya melihat jam dinding, sudah pukul 11. Siapa lagi yang iseng pada jam begini?! Saya tidak tahu.

Saya tidak bergerak sama sekali, apalagi mau membukakan pintu dengan kondisi saya yang semi telanjang sekarang. Tidak. Saya malas memakai pakaian lagi. Saya biarkan suara ketukan itu terus menggema di sudut-sudut ruang, biarkan saja tetangga-tetangga terusik dengan suara ketukan itu. Saya pengin tidur. Saya tidak mau diganggu. Sekarang adalah waktu saya untuk tidur, tidak untuk melayani manusia pengganguran yang datang ke rumah sepi ini.

Saya biarkan tukang ketuk itu dan saya mengambil selimut dan pejamkan mata. Besok, masih ada buku yang mesti dibaca.

Pagi. Saya bangun. Saya tenangkan diri selama sekitar setengah jam di kasur yang sama. Malas masih menyelimuti tubuh saya. Dingin pagi di pinggiran kota ini cukup mengganggu aktivitas pagi saya. Namun, saya menikmatinya. Tidak ada hal yang lebih bahagia pada pagi hari selain bermalas-malasan setelah tidur panjang pada malam hari. Saya tidak peduli dengan aktivitas tenggat kerja dari penerbit-penerbit yang meminta saya mengedit buku-buku dari penulis belia, dari penulis yang tergesa-gesa yang tidak sabar berproses. Mereka hanya butuh eksistensi sebagai penulis. Saya tidak peduli itu semua. Pagi ini saya menikmatinya. Saya juga tidak repot-repot lagi pergi ke agen koran untuk arsip saya. Tiap pagi, pembawa koran membawakan setumpuk koran nasional dan lokal di bawah pintu. Saya hanya mengambilnya.

Pagi. Saya masih bermalas-malasan di tempat tidur yang sama. 30 menit sudah berlalu, tetap saya masih menikmati empuk kasur. Selimut yang menyelimuti saya pada malam hari saya lepaskan, yang tertanggal cuma BH dan celana dalam. Saya menyentuh BH ada yang ruang kosong sebab ukuran BH saya tidak proporsi dengan ukuran payudara saya. Saya sudah lama tidak memerhatikan bagian tubuh saya. Tubuh saya telah menjadi bagian lain dari hidup saya yang saya jalani semenjak memutuskan menjadi penulis profesional. Menurut saya, mengurusi tubuh adalah pekerjaan yang tidak bermanfaat untuk perkembangan intelektual dan skil menulis saya. Mengurusi hal remeh remeh yang membuang waktu saya saja. Entah mengapa pagi ini, saya ditarik oleh alam semesta untuk mengetahui lebih detail apa yang terjadi dengan tubuh saya sendiri. Dan, saya baru sadar, di bagian atas payudara kanan saya ada tahi lalat, tidak besar, tetapi cukup tampak di mata saya. Pula di daerah kedua puting saya, ada rumput tipis tumbuh tampa saya sirami dengan tiap paginya.

Tahi lalat dan rumput tipis. Entah maksudnya apa dua tanda itu hadir di bagian dada saya. Yang membuat saya heran, saat saya menyentuh tahi lalat, ada gemetaran tak terduga dari dalam tubuh. Dan, semakin gemetaran ketika saya menyentuh rumput tipis di daerah puting susu saya.

Saya cepat lepaskan tangan saya dan bergegas beranjak dari kasur. Saya pergi ke dapur.

 

/4/

Saya mengambil koran yang sudah dari tadi diantar oleh pembawa koran. Ada tiga koran di bawah pintu rumah: koran nasional, koran Jawa, dan koran Jogja.

Saya membawa koran-koran itu ke meja kerja di lantai dua. Saya membuka koran Jawa duluan, koran ini yang memuat esai saya tentang para penulis yang banyak selfie dengan foto mereka sendiri di festival-festival sastra.

Redaktur koran Jawa menepati janjinya, memuat esai saya pada hari ini. Saya senang sebab seminggu lagi saya mempunyai uang untuk membeli keperluan dapur.

Sudah. Saya tinggalkan koran Jawa itu, saya beralih ke koran Nasional. Tidak ada berita baik. Pun esai-esainya. Esai-esai mereka banyak mengulang-ulang hal yang sudah ditulis oleh esais pada tahun ’90-an. Tidak saja temanya, juga gaya esai mereka persis seperti esais-esais sebelumnya. Terlalu banyak menjadi pengekor. Bodoh amat. Biarkan saja mereka mau jadi apa dan ngekor pada siapa.

Saya malas membuka koran Jogja. Koran ini hanya memberitakan aktivitas sultan. Bila ada puisi, puisi yang dimuat banyak memplagiasi puisi-puisi orang yang diambil dari media sosial, lalu redaktur mereka mencantumkan nama penulis puisi yang saya tidak dengar. Entah penulis dari mana. Bila para warganet mengetahui tindakan plagiat itu, ribut di media sosial, selanjutnya si redaktur akan membuat klarifikasi pada esok harinya. Begitu-begitu saja perilaku mereka dari tahun ke tahun.

Saya membuka akun Facebook, banyak pemberitahuan. Orang-orang menyebut nama saya di status orang yang saya kritik di koran Jawa. Dalam status–dan menampilkan foto tulisan saya–tidak menerima dengan pendapat saya dengan sastrawan sosialita yang kerap membagikan foto-foto mereka dengan buku mereka saat menghadiri festival sastra yang baru selesai berlangsung. Tidak saja menerima pendapat saya, pun mereka menghantam personal saya. Mereka menyebut saya tidak pernah bercinta sehingga otak saya beku, tidak bisa menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Sampai-sampai mereka juga menghajar lagi karya saya yang gagal itu. Menurut mereka, saya tidak bisa menulis kalimat, baru sok-sok mengkritik penulis lain. Mereka tidak hanya dua atau tiga orang, tetapi bergerombolan, berkelompotan, lalu menyerang dengan cara serempak.

Akan tetapi, saya tidak peduli dengan penulis-penulis macam demikian. Mereka hanya menurunkan kelas sastra yang sudah agung. Sastrawan terdahulu sudah menjaga keagungan sastra Indonesia, lalu mereka meruntuhkannya. Dosa sastra yang mereka terima.

 

/5/

Saya tinggalkan hiruk-pikuk orang-orang di Facebook. Tidak berfaedah bila saya ladeni mereka semua. Toh, bila mereka tidak suka atau tidak terima esai itu, ya silakan balas dengan pula. Tidak hajar fisik orang atau personal saya. Mereka balas dengan gagasan konstruktif, tidak status Facebook yang tidak sampai 100 kata.

Saya tinggalkan komputer dengan kondisi menyala dan playlist lagu. Saya memilih lagu-lagu lawas dari penyanyi dalam dan luar negeri. Lagu lawas enak didengar, pun lirik-liriknya masih terbaca dan memiliki kalimat jelas. Tak sama dengan lirik-lirik lagu sekarang, tidak sastrawi dan nadanya banyak copot sana dan sini, lalu digabungkan. Mereka bangga dengan karya mereka, padahal plagiasi.

Saya turun ke lantai bawah, memasak air, lalu membuat kopi. Kopi saset telah lama menjadi minuman pagi saya. Saya tidak peduli dengan maniak kopi yang mengejek orang-orang yang menyukai kopi sasetan. Mereka sudah seperti hakim kopi. Ini enak dan itu tidak. Mereka ingin menyamakan rasa mereka ke orang lain, padahal tiap orang punya rasa berbeda. Tidak saja untuk kopi, di kasus lain juga begitu. Pun kopi-kopi yang menurut mereka adalah enak, saya tidak merasakan tuh keenakannya. Saya hanya merasakan pahit bukan main. Mereka itu sama hal dengan orang-orang yang ingin mengubah dunia lewat sastra: buku ini wah luar biasa, buku sana pop banget.

Saya tidak peduli dengan itu semua, yang saya peduli, apakah buku itu laris atau tidak. Walaupun buku bagus kalau tidak laku, lalu si penulis mau makan apa? Masih mengemis pada teman-teman mungkin.

Saya tidak peduli. Menulis itu kata kerja. Kerja semestinya menghasilkan uang agar esok bisa kerja lagi.

Kopi saset yang sudah saya aduk, saya taruh di atas meja di lantai bawah. Rokok kretek masih tertinggal di kamar, sebab tadi malam, sebelum tidur saya menghisap sebatang rokok. Saya ambil rokok itu.

Saya tidak menulis pada pagi hari ini, tetapi saya mesti melanjutkan satu buku.

 

Yogyakarta, awal 2020

Semesta Telembuk

Judul: Rab(b)i
Penulis: Kedung Darma Romansha
Penerbit: Buku Mojok
Terbit: Juli 2020
Tebal: 136 halaman

Dangdut tidak saja dinikmati lewat musik, tetapi juga lewat teks, dalam hal ini sebuah karya sastra. Kedung Darma Romansha bisa berdangdut lewat karya-karyanya.

Ia telah menulis tentang pelaku dangdut hingga santri di dalam dua novelnya, yaitu Kelir Slindet (2014) dan Telembuk: Dangdut dan Kisah Cinta yang Keparat (2017). Dua novel tersebut diterbitkan kembali oleh penerbit Buku Mojok pada 2020.

(selengkapnya…)

Resensi-Resensi “Nelayan Itu Berhenti Melaut”

Saya arsipkan resensi-resensi buku Nelayan Itu Berhenti Melaut yang tersebar di beberapa media. Buku pertama saya ini diterbitkan oleh Pojok Cerpen. Saya membaca dengan saksama ulasan mereka tanpa menggurutu atau kesel karena sudah mengurai kesalahan-kesalahan yang saya buat dalam menulis cerita. Bagi teman-teman yang mau membaca ulasan mereka, saya hadirkan enam resensi di sini.

(selengkapnya…)

Dari Resensi ke Kelahi

Buku kiat-kiat menulis terus diproduksi. Dan, orang-orang terus membeli. Namun, buku tersebut tak membuat tulisan mereka gagah, malahan merosot.

Tips menulis tidak ujug-ujug membuat kita lihai menyusun kalimat dan paragraf sehingga menjadi satu tulisan utuh. Namun, metode yang diajarkan penulis yang sudah lama bergulat di dunia teks, setidaknya, bisa membuka wawasan kita bagaimana membuat paragraf pertama, mengolah isi, dan mengakhirinya. Apalagi ditambah si penulis membentangkan contoh-contoh resensi dari prakemerdekaan, awal kemerdekaan, hingga pascareformasi, minimal, kita tahu bagaimana keragaman tulisan (resensi). Misal, resensi Mas Marco Kartodikromo, Tjan Kiem Bie, Sukarno, Mohammad Hatta, Poerbatjaraka, P. Swantoro, Sumitro Djojohadikusumo, H.B. Jassin, Abdullah Sp, hingga resensi milik Zen RS.

Muhidin M. Dahlan dalam buku barunya, Inilah Resensi, tidak sekadar memberitahu kita jalan menembus media massa seperti yang dilakukan oleh motivator menulis pada umumnya, tetapi ia memperlihatkan seratus lebih resensi untuk menjadi contoh bagaimana menulis resensi.

(selengkapnya…)

“Berbicara” Itu Ada (Seninya) Upahnya

Saya telah berniat untuk tidak ribut perihal honor di dunia buku. Selain melelahkan, pun tidak berdampak signifikan bagi saya.

Saya masih hidup begini-begini saja: masih beli paket internet 1 GB; masih nongkrong di warung kopi yang kopinya seharga 5 ribu per cangkir; dan beli rokok kretek seharga 13 ribu rupiah per bungkus. Meski begitu, saya tetap bersyukur, sebab itu semua sudah istimewa bagi saya.

Akan tetapi, akhir-akhir ini saya terganggu, sangat terganggu dengan kabar yang saya dengar dari dunia buku. Yakni, tentang para penulis yang harus mengalami perlakuan “tidak dibayar dengan layak” saat menjadi pembicara di beberapa festival sastra dan buku yang banyak diadakan pada akhir-akhir ini—festival yang dibiayai pemerintah maupun swasta. Namun, tidak semua penulis mengalami demikian.

(selengkapnya…)

Gus Dur Tidak Dilengserkan ‘HMI Connection’, tetapi ‘Akbar Tandjung Connection’

Gara-gara Muhidin M. Dahlan, koneksi-koneksi HMI dianggap sebagai salah satu bagian dari kelompok yang bertanggung jawab melengserkan Gus Dur. Enak aja.
Terserah kalian bila mau jelek-jelekin HMI dan membenturkannya dengan PMII. Atau, kalian mau katakan “HMI Connection” yang mengudeta Gus Dur dari tampuk kursi presiden pada 2001.

Atau, kalian taklid buta atas buku Menjerat Gus Dur karya Virdika Rizky Utama, bahkan ada yang belum baca buku tersebut, tetapi sudah memercayainya dengan hikmat.

(selengkapnya…)

Untuk Apa Karya Hebat Lahir?

Pada 9 Oktober 2019, di Facebook, Eka Kurniawan mengunggah sikap penolakannya terhadap Anugerah Kebudayaan dan Maestro Seni tradisi 2019. Jelas menuai pro dan kontra, tetapi sikap Eka sudah final. Alasan Eka menolak penghargaan itu pun jelas dan mendasar.

Pada 10 Oktober 2019, Detiknews.com, Hilmar Farid sebagai Direktorat Jendral Kebudayaan juga menerima dengan baik alasan penolakan tersebut. Lalu, apa masalah kita meributkan penolakan itu? Padahal, yang mesti kita bicarakan adalah alasan-alasan Eka, yang mana salah satu poinnya adalah pemerintah Indonesia tidak serius mengurusi dunia perbukuan Tanah Air. Dengan alasan mendasar tersebut, seharusnya menjadi tamparan keras untuk pemerintah bahwa dunia perbukuan—pembajakan—di Indonesia tidak sedang baik-baik saja.


Saya tidak membahas polemik “kebudayaan” itu, tetapi mengulas sedikit buku terbarunya.
Eka Kurniawan tidak saja menulis cerita pendek dan novel, ia pun menulis esai. Beberapa bulan terakhir kita bisa membaca esainya di salah satu media luring sebulan sekali.
Pernah satu ketika, Eka berhenti aktif di media sosial, dengan alasan fokus membaca dan menulis. Mungkin, terdistraksi, lalu ia aktif dan konsisten menulis di jurnal pribadinya, ekakurniawan.com.

Dalam jurnalnya, ia menghadirkan ulasan-ulasan buku (fiksi dan nonfiksi) dan tokoh-tokoh sastra. Kehadiran jurnal pribadinya menjadi jalan baru bagi penulis pemula menjejak bacaan—dalam dan luar negeri—yang mahaluas. Kerja demikian pernah dilakukan oleh Salman Rushdie dalam buku Imaginary Homelands: Essays and Criticism 1981—1991 dan Step Across This Line: Collected Nonfiction 1992—2002; Italo Calvino di Why Read Classic; dan, Between Parenthesis­-nya Roberto Bolano.

Mengapa Eka mengulas buku? Begini kata Eka, “… banyak buku yang dibaca seseorang dalam hidupnya, tapi hanya sedikit yang diingatnya. Bersaing dengan nomor telepon, jadwal pembayaran tagihan, nama-nama sepupu jauh, percakapan di novel bisa lebih cepat pudar daripada bisikan kekasih” (hlm. v).

Mengulas buku adalah cara mengarsipkan bacaan kita. Ada misi pribadi terhadap peningkatan bacaan yang kita miliki, seperti anak milenial maupun generasi Z yang mengabadikan buku dengan memotret, lalu mengunggahnya di akun pribadi media sosial.
Tindakan anak milenial dan Eka adalah cara merayakan kebahagian bersama buku. Eka menangkap melalui teks, anak milenial menangkap melalui kamera. Dua-duanya sah, dua-duanya tidak berdosa.

Eka tidak menyembunyikan apa yang ia baca. Ia ungkapkan dengan ulasan sederhana tanpa tendensi berlebihan. Esai-esainya mengingatkan bacaan kita dan sastra Indonesia yang tidak berkembang dari tahun ke tahun.

Esai-esai dari titimangsa 2012—2014 dalam jurnalnya dibukukan oleh Penerbit Circa dan diberi judul Senyap yang Lebih Nyaring, yang diambil dari judul esainya pada halaman 329. Para penulis mesti belajar “diam” di kala orang-orang banyak bicara. Eka memberi contoh bagaimana polemik Gabriel Garcia Marquez dan Mario Vargas Llosa terlibat baku hantam di bioskop, yang mengakibatkan mata Marquez bengkak. Namun, kasus tersebut tidak diketahui duduk perkaranya. Marquez hingga akhir hayatnya dan Llosa hingga saat ini tak memberi tahu apa yang sedang terjadi di antara mereka. Mereka memilih diam.
Menarik kita telaah esai “Ketika Semua Orang Bisa Bicara, Apa Tugas Penulis?” (hlm. 160). Kemudahan akses informasi membuat semua orang menjadi ahli: ahli ekonomi, ahli politik, ahli sastra, dan ahli-ahli lainnya. Warganet berkomentar apa saja dan di mana saja. Di mana posisi penulis dalam hal ini? Apa mesti ikut keriuhan yang terjadi di media sosial? Menurut Eka, penulis semestinya diam.

Sekarang bukan lagi zaman di mana Seno Gumira Ajidarma saat menulis “Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara”. Orang banyak terbungkam karena penguasa, akhirnya penulis yang bicara. Lain hal dengan kondisi sekarang: orang banyak bicara. Masyarakat punya banyak akses terhadap informasi dan mereka bisa mengatakan apa saja.

Apa tugas penulis? Diam. Kembali ke kamar, baca buku, dan berpikir elaboratif. Namun, jangan lupa penulis juga jangan banyak berdiam diri, sesekali menengok ke luar, melihat realitas.

Dalam beberapa esainya, Eka tampak resah dengan sastra Indonesia. Apa itu sastra Indonesia? Apakah karya-karya Asmaraman S. Kho Ping Hoo dan Abdullah Harahap termasuk sastra? Apakah mereka berdua masuk kategori sastrawan? Kho Ping Hoo sebatas dikenal sebagai penulis cerita silat dan Abdullah Harahap sebagai penulis cerita horor. Mereka bukan sastrawan, lalu penulis seperti apa yang disebut sastrawan?
Mungkin dari keresahan tersebut, Eka bersama Intan Paramaditha dan Ugoran Prasad menulis kumpulan cerpen Kumpulan Budak Setan untuk mengapresiasi karya-karya Abdullah Harahap.

Eka juga menyoroti lingkaran sastra di ASEAN (Asia Tenggara) agar saling membaca karya. Kita jangan hanya menengok karya-karya dari Amerika Latin, Eropa, dan Timur Tengah. Ini memang pilihan pembaca, buku apa yang mereka baca, tetapi pilihan kepada karya-karya dari negara tetangga mestinya tidak luput dari jangkauan kita.

Eka tidak bermain ria dengan teori-teori sastra untuk mengulas satu buku dan memang ia bukan kritikus sastra. Ia penulis novel dan pembaca novel. “Membaca novel membawa saya ke satu dunia dan kehidupan, yang sadar saya memasukinya, bahkan memilihnya” (hlm. 296).

Dalam esai “Corat-coret di Toilet dan Hal-Hal Lain tentang Cerpen”, Eka mengatakan bahwa “… kesusastraan Indonesia tak lagi membutuhkan karya yang bagus. Sudah banyak. Yang benar-benar kita butuhkan adalah karya yang hebat, sebab sekadar bagus sudah tak lagi mencukupi” (hlm. 214). Pun tiap hari banyak buku baru diterbitkan.

Menghasilkan karya hebat membutuhkan kerja keras, bahkan “kerja paksa”. Namun, yang menjadi pertanyaan mendasar bagi kita, untuk apa karya hebat itu di tengah-tengah masyarakat Indonesia? Atau, untuk apa karya hebat di hadapan pemerintah yang belum menghargai sebuah buku?

Maaf, saya salah, pemerintah sangat menghargai buku: buku proyek.

Mengapa Gaji Editor di Indonesia Menyedihkan?

Menjadi editor tak pernah terpikirkan dalam hidup saya di Banggai Laut, Sulawesi Tengah, mendapat lembar-lembar uang (bukan puing emas) dari kerja mengedit naskah.

Saat kecil, saya seperti anak pada umumnya yang bercita-cita kalau besar nanti akan menjadi polisi, guru, atau tenaga kesehatan (baca: profesi yang memakai pakaian seragam).

Editor adalah “menunda” untuk menjadi seorang penulis. Atau, mengambil jalan editor karena ia gagal dalam kepenulisan. Ada pula orang yang bisa menjadi editor sekaligus penulis.

Editor adalah pembaca kuat. Matanya mata elang, tengok sana dan sini. Niatnya mencari lubang-lubang yang luput diperhatikan oleh penulis.

Beberapa editor yang saya kenal di Yogyakarta bertahan di posisinya sekarang, sebab memang tidak ada jalan lain, dengan konsekuensi di belakangnya. Salah satunya honor editor.

Ada mekanisme pembayaran honor editor yang belum paten di ekosistem perbukuan Yogyakarta, khususnya di penerbitan indie, yang banyak membutuhkan jasa editor lepas.

Pekerja tetap di penerbit memiliki gaji pasti, yang mungkin sesuai UMR setempat, dalam hal ini di Yogyakarta. Sedangkan, gaji pekerja lepas tidak memiliki gaji atau honor pasti. Beberapa penerbit memiliki honor yang berbeda kepada editor, ada juga yang sama.

Kita ketahui bahwa UMR daerah ini begitu rendah dibandingkan UMR daerah lain di Indonesia. Sedangkan, biaya hidup terus melonjak dan meninjak.

Saya editor lepas di beberapa penerbit. Kadang, saya mengambil pesanan dari luar Yogyakarta. Saat ada pesanan dari luar Yogyakarta, saya bisa menentukan honor yang mesti si pesanan bayar. Namun, saya belum bisa menerapkan itu di penerbit Yogyakarta karena ada semacam aturan pembayaran yang belum jelas dari mana asalnya dan itu lakoni oleh penerbit indie: Rp5.000.00 per halaman Microsoft Word atau halaman buku. Bukan angka lima ribu itu yang bermasalah, namun per halamannya, sesuai Microsoft Word atau buku.

Misal, penerbit A menerapkan Rp5.000.00 per halaman MS. Word A4 (huruf Times New Roman, ukuran huruf 12, dan spasi 1.5), penerbit B menerapkan Rp5.000.00 per halaman buku.

Yang menjadi masalah saat penerbit B memiliki ukuran buku yang berbeda-beda. Ukuran buku yang kerap diterapkan oleh penerbit: 12 x 18 cm; 13 x 19 cm; 14 x 20 cm; 14 x 21 cm; 15 x 23 cm. Jika ukuran buku kecil, editor akan diuntungkan. Tapi, bila ukuran buku cukup besar maka editor akan dirugikan. Sebab, semakin besar ukuran buku, jumlah halaman akan berkurang.

Belum lagi penerbit yang nakal mengotak-atik spasi dan memainkan ukuran, itu akan memengaruhi jumlah halaman buku dan pula berdampak kepada bayaran editor.

Perbedaan honor editan ini membuat teman-teman editor yang saya kenal menjadi bingung. Standar honor mana yang mesti kita—semua pelaku buku—terapkan? Tidak ada standarisasi format yang jelas akan merugikan semua pihak.

Kita banyak membaca berita di media massa bahwa buruh di perusahaan tertentu di kota tertentu tidak menerapkan upah buruh layak. Lalu, bagaimana dengan kasus buruh editor? Apakah sudah layak?

Mungkin membicarakan gaji di publik adalah hal tabu. Tapi, di lingkaran kecil di warung kopi, gaji seperti ini kerap dibicarakan. Penerbit A menerapkan dengan jumlah sedikit, sedangkan penerbit B menerapkan jumlah banyak. Ada semacam pembicaraan yang tak mungkin dikomunikasikan secara langsung kepada penerbit, namun diam-diam kita membicarakannya di belakang. Apa yang salah bila gaji editor mempunyai standarisasi?

Bila royalti penulis bisa dibicarakan secara terang-terangan: penerbit A memberi royalti 10% dan penerbit B mengasih 15%, kenapa gaji editor tidak? Atau, jika royalti penulis sudah mempunyai standar, mengapa gaji editor tidak?

Atau, seperti ini: jika banyak buruh di perusahaan menuntut gaji mereka dinaikkan, mengapa editor tidak bisa menuntut gaji dinaikkan? Padahal, kita ketahui bersama bahwa editor adalah buruh juga.

Mungkin, gaji editor disesuaikan oleh jejak editannya di mana-mana. Berarti di sini, ada kategori editor senior dan junior. Anggaplah ada dan memang ada, tapi yang menjadi pertanyaan: kategori editor senior dan editor junior itu seperti apa?

Saya kira, para pelaku perbukuan mesti menyadari bahwa ini masalah bersama. Penerbit jangan hanya diam dan sadar bahwa honor Rp5.000.00 per halaman itu sudah usang diterapkan di Yogyakarta dan tidak ada niat menaikkannya. Editor pun demikian, jangan hanya mutung di warung kopi dan tidak ada gerakan jelas untuk kemakmuran bersama. Membicarakan gerakan buruh di perusahaan tertentu begitu lihai, namun keok saat nasib buruh itu terjadi kepada kita sendiri.

Mungkin, akan ada pertanyaan selanjutnya: standar gaji editor lepas memang berapa?

Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2017 tentang “Sistem Perbukuan”, Pasal 19 menyebutkan bahwa editor punya hak: pertama, membentuk organisasi profesi, kedua, mendapatkan imbalan atas naskah editannya.

Butir pertama, saya belum mendengar ada organisasi profesi editor di Indonesia. Entah kapan organisasi seperti itu akan muncul. Butir kedua, imbalannya tidak jelas. Seberapa banyak imbalan yang didapatkan oleh editor?

Saya berpikir positif terhadap butir kedua tersebut. Mungkin imbalannya disesuaikan dengan UMR setempat. Namun, UMR akan berlaku pada pelaku buku yang kerja tetap di penerbit. Itu pun kalau penerbit menerapakan UMR. Lalu, bagaimana dengan editor lepas, apakah imbalannya sesuai hati pemilik penerbit?

Poinnya utama yang saya ingin sampaikan bahwa gaji editor lepas mesti ada aturan yang pasti: pembayarannya berapa dan berdasarkan apa. Sesuai ukuran buku atau halaman naskah format Microsoft Word.

Terakhir, editor pun harus tahu diri, sudah seberapa jauh ilmu pengeditan yang kita miliki.

Geotimes, 28 Juli 2019

Pembajakan Buku Membunuh Banyak Orang

Penerbit, penulis, dan semua yang terlibat dalam industri perbukuan menjadi resah karena pembajakan buku. Tidak tanggung-tanggung buku bajakan tersebut dijual bebas di toko buku luring dan daring, di marketplace seperti Bukalapak, Shopee, Tokopedia bejibun jumlahnya. Di Instagram dan Facebook pun buku bajakan merajalela.

Mengapa itu bisa terjadi? Bila kita tanya kepada pembaca yang kerap membeli buku bajakan, pasti akan menjawab: MURAH. Apa iya buku asli itu mahal? TIDAK JUGA. Penerbit-penerbit indie di beberapa kota menjual buku mereka begitu murah. Melalui preorder, akses kepada bacaan bermutu tidak sesulit yang dipikirkan oleh mereka yang doyan beli buku bajakan. Yang mahal itu bukan harga buku, tapi ongkos kirim dan PPN harga kertas.

Atau, bila tak ingin membuang uang Anda untuk membeli buku, perpustakaan digital solusinya. Tinggal beli paket data, masuk ke Play Store, unduhlah perpustakaan digital. Di sana sangat banyak judul buku. Melalui perpustakaan (digital), Anda bisa berhemat dan tak berdosa.
Banyak penerbit dan penulis “mengeluh” di media sosial atas tindakan pembajakan ini. Eka Kurniawan menulis perihal pembajakan buku di Facebook dan Muhidin M. Dahlan membuat esai di Mojok.co dan Jawa Pos. Mereka mengalami bagaimana ketidaksejahteraan penulis di negeri ini.

Tere Liye sempat mengeluhkan royalti penulis yang kecil dan pajak yang tinggi, tidak menghitung hari, keluhan itu langsung direspons oleh pemerintah. Bagaimana dengan keluhan penulis lainnya mengenai pembajakan buku tersebut? BELUM ADA KABAR.
Mayoritas penerbit Jogja dan Jakarta resah terhadap masalah ini. Pemilik penerbit Jogja kebingungan bagaimana mengatasinya. Penerbit di Jakarta, seperti Marjin Kiri kalang kabut melihat buku terbitan mereka dibajak dan dijual bebas di marketplace dan media sosial. Siapa yang harus bertanggung jawab?

Saya tampilkan status Ronny Agustinus, pemilik penerbit Marjin Kiri, di Facebook, 25 Februari 2019:
Kawan-kawan yang masih peduli perbukuan Indonesia, saya mengharapkan bantuannya melaporkan massal akun Buku Rakyat di IG agar segera diambil tindakan. Akun ini menjual banyak sekali buku bajakan yang jelas bukan hanya dari Marjin Kiri saja, tapi juga aneka penerbit baik besar, kecil, mayor, indie. Dia secara jelas mencantumkan nonori pada deskripsi.
Tahun lalu kami sudah mengingatkannya lewat WA maupun DM tapi rupanya tidak dianggap serius sehingga sepertinya memang harus seperti ini cara mengingatkannya.
Dulu juga, alasan membajak buku adalah bukunya sudah langka sementara cetak ulangnya tidak ada. Lalu ada juga yang bilang, ah penulisnya sudah kaya, buku dibajak juga tidak apa-apa. Buku Konferensi Asia Afrika karya Wildan Sena Utama ini jelas mematahkan alasan-alasan enggak bermutu dan enggak masuk akal tersebut. Buku ini aslinya masih banyak beredar dan mudah didapat, lalu saya tahu betul penulisnya yang adalah pengajar dan peneliti, bukan orang kaya. Dia membutuhkan royalti dari penjualan bukunya yang jelas2 digarong oleh pembajak-pembajak berkedok ideologis macam Buku Rakyat ini.
Tapi kan enggak cuma Buku Rakyat saja pelakunya? Benar, tapi kita bisa mengupayakan para pembajak ini ambruk satu-satu dari media sosial dan marketplace.

Buku Rakyat beralamat di Kec. Depok, Kab. Sleman, DI Yogyakarta. Saya mengecek kembali akun IG-nya, alamat lengkap sudah tidak ada. Mereka takut. Dan, ini perlu ditindak secara hukum apabila mereka tidak mau menghentikan penjualan buku bajakan tersebut. Yang mengagetkan adalah akun IG-nya memiliki pengikut 18 ribu. Sudah berapa keuntungannya dari hasil jualan buku bajakan? Saya tidak bisa membayangkannya.

Toko buku bajakan lainnya, seperti Wacana Sosialis menjual buku bajakan di Shopping, pasar buku terbesar di Jogja. Wacan Sosialis bertempat di lantai 2, naik tangga, belok kiri, lorong tengah, kios kedua sebelah kanan.

Saya pernah membeli buku bajakan. Saya kira kebanyakan mahasiswa baru yang menginjak Jogja pernah melakukan ini. Saat saya terlibat di dunia buku, ternyata membuat buku itu susah. Susah. Sangat susah.

Menulis itu susah. Mengedit itu susah. Memeriksa aksara itu susah. Me-layout itu susah. Mendesain sampul itu susah. Dengan serba susah ini ditambah lagi kesusahan mereka oleh pembajak buku. Royalti penulis terputus. Pemutaran keuangan di penerbit mandek.
Coba baca kembali status Ronny Agustinus di atas!

Atau, kita simak cuplikan esai Muhidin M. Dahlan, “Pram dan Pembajakan Buku”, yang dimuat di Jawa Pos, 7 Februari 2019: “Soal pembajakan buku, Pram tak punya kata damai. Bahkan, bila itu dilakukan sahabat terdekatnya sekalipun. Lebih baik putus tali persahabatan yang lama ketimbang membiarkan praktik pembajakan buku berlangsung di hadapannya. Tak ada kemuliaan persahabatan (arti dari Hasta Mitra) dalam perihal pembajakan”.

Pramoedya tidak mau akur dengan pembajak buku. Selain karena merugikan penulis dan penerbit, pembajakan buku adalah tindakan kriminal.

Yang jadi pertanyaan, ke mana saja pelaku perbukuan Indonesia? Mengapa tidak melaporkan pembajakan buku tersebut? Bagaimana kabar IKAPI?

Bila kita lihai menggoreng isu penyitaan buku komunis, mengapa tidak bisa menggoreng isu pembajakan buku? Padahal, banyak orang yang dirugikan. Bahkan, membunuh banyak orang, sebab sirkulasi bisnis buku terhambat. Penerbit kolaps. Pekerja dipecat. Keuangan keluarga terancam. Siapa yang diuntungkan di sini? Jelas produsen dan penjual buku bajakan.

Pada 21 April 1997, Gatra meliput fenomena pembajakan ini. Redaksi memberi judul “Pembajak Pun Tetap Melenggang”. Pembajakan buku telah membuat rugi penerbit Balai Pustaka sebesar Rp125 miliar. Jumlah yang banyak. Tidak hanya Balai Pustaka yang mengalami kerugiaan pada saat itu, pun Mizan dengan buku terbaik mereka, Wawasan Al-Quran: Tafsir Maudhu’i atas pelbagai Persoalan Umat karya M. Quraish Shihab. Kamus Inggris-Indonesia dan Kamus Indonesia-Inggris karya John M. Echols terbitan PT Gramedia Pustaka Utama hingga sekarang bajakannya masih banyak beredar.

Yang perlu dimusnahkan adalah produsen dan penjual buku (bajakan). UU yang mengatur Hak Cipta sudah jelas. Mengapa kita tidak berani melapornya? Daripada meributkan cebong dan kampret, lebih baik pelaku buku seluruh Indonesia menentukan sikap bahwa pembajak buku harus dihabisi dari akar-akarnya. Itu mudah bila kita mau.

Geotimes.co.id, 28 Februari 2019