Arsip

Dibiarkan tapi urgen. Itulah dunia kearsipan. Kamar senyap yang jarang ditengok dunia kiwari. Apalagi media sosial yang menawarkan keriuhan-keriuhan yang tak berkesudahan. Membuat laku kearsipan hanyalah alternatif terakhir dilakoni oleh siapa pun.

Berapa banyak dari kita yang menekuni kerja kearsipan? Mungkin ada tapi hanya untuk memenuhi tuntutan kerja agar menghasilkan uang bulanan. Seperti, orang-orang yang meraih gelar sarjana kearsipan. Terlepas dari itu, kita mesti bersyukur sebab mereka masih menekuni dunia yang mereka sudah ambil semenjak masuk di perkuliahan.

Tetapi, apakah kita sadar bahwa kerja kearsipan bukan sekadar memenuhi uang bulanan? Karena, kerja pengarsipan merupakan praktik kultural.

Praktik kultural itu adalah praktik kebudayaan. Perpanjangan kebudayaan satu ke kebudayaan berikutnya. Ia adalah jejak untuk melihat apa yang sudah (mungkin akan) terjadi. Apabila kesadaran kerja kearsipan sudah menjadi kerja kebudayaan maka tidak ada lagi kekhawatiran bahwa kita akan tercerabut dari akar budaya yang sudah lama membentuk tatanan sosial di pelbagai bangsa di Indonesia.

Misal kata Pramoedya Ananta Toer, “Andai anak-anak remaja itu punya kebiasaan mengkliping pastilah mereka tak bisa dibohongi karena tahu masalah sampai akar-akarnya. Sayang sekali pendidikan Indonesia tak pernah mendidik muridnya tekun menggali fakta.” Pram tidak hanya membuat kredo yang tidak ia lakukan. Ia adalah penggunting koran sangat telaten yang pernah ada di Indonesia. Selain pena, gunting adalah senjatanya.

Muhidin M. Dahlan menulis esai panjang “Praktik Kliping & Daya Budi Kultural”, dalam buku Arsipelago: Kerja Arsip & Pengarsipan Seni Budaya di Indonesia (2014). Ia menulis, “Karena praktik kliping adalah menyusun rantai cerita Indonesia secara berkesinambungan dan tanpa jeda, maka mengkliping boleh juga dibilang praktik politik yang radikal.”

Kerja politik radikal itu dilakukan Pram. Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca adalah hasil Pram dari kerja gunting-menggunting koran. Buku fiksi ini mengisahkan sosok Tirto Adhi Soerjo. Jurnalis yang disembunyikan kisahnya oleh pemerintah koloni. Namun, akhirnya mendapat gelar Pahlawan Nasional melalui Keppres RI No. 85/TK/2006. Sebelumnya, pada 1973, ia dikukuhkan sebagai Bapak Pers Nasional oleh pemerintahan Orde Baru.

Beberapa hari belakangan, lini masa di media sosial membicarakan Bumi Manusia yang akan difilmkan. Yaitu, Hanung Bramantyo menjadi sutradara. Ada pro dan kontra. Pro karena merasa bahwa perpindahan dari teks ke visual membuat Bumi Manusia lebih dikenal oleh khalayak umum. Apalagi Minke—tokoh utama di novel itu—diperankan Iqbaal Ramadhan. Iqbal memiliki banyak fan dari kalangan remaja sehingga novel yang sempat dilarang oleh Orde Baru ini lebih membumi di pelbagai usia. Sedangkan, bagi yang kontra merasa Bumi Manusia terlalu “agung” sehingga mesti sutradara dan tokoh-tokohnya harus orang tepat. Pertanyaan: siapa yang layak untuk menggarap novel “kalis” itu?

Banyak kalangan remaja yang tidak mengetahui Pramoedya Ananta Toer. Bahkan, ada yang menyamakan Pram dengan Tere Liye. Apa mesti kita salahkan anak-anak remaja itu? Saya kira tidak. Saya mengambil contoh dari pengalaman saya sendiri. Saya mengenal Pram saat di Makassar tahun 2011. Waktu itu, saya kuliah di perguruan tinggi swasta. Kala sekolah menengah atas (SMA), saya tak sekali pun mendengar nama sastrawan besar yang pernah dipenjara di Pulau Buru itu.

Dengan contoh kasus tersebut, kita kembali mengafirmasi kredo Pram bahwa mengkliping seharusnya diajar sejak di bangku sekolah. Mengkliping peristiwa politik, pendidikan, ekonomi, sosial, dan sastra.

Hans Bague Jassin adalah pengarsip sastra Indonesia. Ia mendirikan Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin. Tulisan-tulisannya menjadi sumber referensi bagi mahasiswa bahasa dan sastra Indonesia. Seandainya Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin tidak ada, ke mana lagi pelaku sastra kontemporer melihat jejak dunia sastra kita? Gelap.

Ketidakbecusan pengarsipan kita mengakibatkan banyak arsip Indonesia dibawa ke luar negeri. Contohnya, manuskrip La Galigo yang dirawat di perpustakaan Universitas Leiden, Belanda. Sastrawan yang meneliti Bugis mesti pergi ke Belanda. Faisal Oddang, misalnya. Untuk menulis buku puisi Menurung: 13 Pertanyaan untuk 3 Nama, ia mesti pergi ke Negeri Kincir Angin itu.

Kerja kearsipan Pram dengan cara mengkliping koran-koran. Tetapi, itu zaman dulu. Sekarang, kecanggihan teknologi membantu memudahkan kita untuk menjadi arsiparis. Koran nasional maupun lokal menyediakan pembaca dalam bentuk Portable Document Format (PDF). Tinggal menyiapkan simpanan yang menampung file-file tersebut.

Untuk saat ini, Muhidin M. Dahlan (Gus Muh) adalah sosok yang masih menekuni dunia kearsipan. Ia meneruskan semangat dan kerja Pram. Bila Pram mengarsip dengan metode menggunting koran, Muhidin memanfaatkan perkembangan teknologi tadi: berlangganan koran digital dan menyimpan di Bank Arsip yang ia miliki.

Banyak tulisan Gus Muh lahir dari pengarsipan. Lekra Tak Membakar Buku (2008), salah satu buku yang lahir dari proses pengarsipan. Kekuatan menulis Gus Muh berada pada arsipnya. Suatu ketika, Gus Muh sempat mengatakan begini ke saya, “Siapa bilang orang yang mengarsip tidak bisa menulis? Ikuti saya. Ikuti Pram. Pram mengarsip juga menulis.”

Apa kita masih remehkan kerja kearsipan?

Pada 1992-1996, pemerintah Inggris mengangkat kepala intelijen mereka, M15, dari arsiparis. Ia adalah Dame Stella Rimington. Nah!

Fajar, 03 Juni 2018